
Aku terus saja memukulnya hingga aku sudah kelelahan, barulah Mas Adi menjelaskan yang sebenarnya.
"Sayang, dengarkan aku. Aku minta maaf karena menutupi semua ini darimu. Tapi, demi Tuhan. Aku tidak pernah bermaksud untuk menyakitimu. Wanita yang aku temui tadi adalah......" Ucapan Mas Adi terhenti.
"Siapa?" Teriakku. "Apa dia istrimu?" Ucapku lagi.
Mas Adi perlahan menganggukkan kepalanya.
"Ya Tuhan, apalagi ini." Teriakku begitu keras.
Aku tak percaya dengan apa yang aku dengar.
"Katakan padaku Mas, apa aku ini istri kedua?" Tanyaku padanya.
Aku sudah bisa menebak jawabannya dari kebisuan Mas Adi. Pantas saja selama ini Mas Adi selalu tidak mau memperkenalkan aku dengan keluarganya. Ternyata alasannya adalah karena dia memang sudah punya istri sebelum menikah denganku.
"Ternyata pikiranku salah. Wanita itu bukanlah simpanan mu, tapi akulah simpanan mu Mas. Aku lah wanita kedua. Aku lah pelakor dalam rumah tanggamu." Ucapku terisak.
"Tidak sayang. Tidak seperti itu." Ucap Mas Adi berusaha memelukku.
__ADS_1
Tapi aku terus menepis pelukannya itu.
"Kamu jahat Mas. Kamu jahat." Ucapku. "Apa salahku sampai kau menipuku Mas? Apa karena aku ini seorang janda yang berasal dari kampung hingga kau sampai tega menipuku?" Ucapku lagi.
"Tidak sayang. Tidak." Balas Mas Adi seraya menggelengkan kepalanya.
"Lepaskan aku Mas. Sekarang juga ceraikan aku. Aku tidak mau menjadi perusak rumah tangga orang Mas." Ucapku terus terisak.
"Tidak." Teriak Mas Adi. "Aku tidak akan menceraikan mu." Lanjutnya.
"Kau egois Mas. Kau egois. Aku mau kau menceraikan aku sekarang juga. Pernikahan kita dilakukan atas dasar kebohongan. Pernikahan kita juga hanya dilakukan secara sirih. Jadi kau bisa memberikan talak padaku sekarang juga dan kita bisa bercerai." Ucapku seraya mengusap air mataku.
"Sudah aku katakan tidak. Aku tidak akan menceraikan mu. Aku mencintaimu Ayu." Ucap Mas Adi.
"Kau bilang cinta Mas? Ini bukan cinta, tapi nafsu. Kau sudah punya istri yang kau cintai. Lalu kau bertemu aku dan kau menganggap bahwa itu cinta. Bukan Mas, itu bukan cinta. Itu hanya nafsu." Ujar ku.
Mas Adi langsung memegang wajahku dengan kedua tangannya.
"Beraninya kau meragukan cintaku Ayu." Ucapnya dengan wajah yang tampak begitu marah.
__ADS_1
Ini adalah pertama kalinya aku melihat Mas Adi marah.
"Cintaku padamu begitu tulus Ayu. Kau adalah wanita pertama yang aku cintai." Ucapnya.
"Pembohong...!!" Teriakku. "Bagaimana mungkin aku ini adalah cinta pertamamu. Bagaimana dengan istri pertamamu? Apa kau tidak mencintainya? Lalu kenapa kalian bisa menikah jika tidak cinta. Tidak, bukan itu pertanyaan yang tepat. Bagaimana anak kalian bisa lahir jika kau tidak mencintainya?" Cecar ku.
"Pernikahan kami terpaksa Ayu. Aku tidak pernah mencintai Sarah." Ucap Mas Adi.
"Oh, jadi namanya Sarah. Wanita yang selama ini kau sebut sebagai adikmu itu?" Ucapku.
"Dengarkan aku Ayu." Ucap Mas Adi.
"Kebohongan apalagi yang akan kau katakan?" Ucapku.
"Aku hanya bohong tentang statusku padamu. Selain itu tidak ada Ayu. Aku jujur bahwa aku sangat mencintai dirimu. Aku jujur bahwa kau adalah satu-satunya dan merupakan wanita pertama yang aku cintai. Sudah ku katakan padamu bahwa hubunganku dengan Sarah hanya terpaksa. Aku tidak pernah mencintainya. Aku bertahan dengannya selama bertahun-tahun karena aku tidak punya pilihan lain. Anak yang bernama Farel itu bahkan bukan anak kandungku." Ujar Mas Adi.
"Aa... Apa?" Tanyaku terkejut.
Bersambung...
__ADS_1