Terjerat Cinta Pria Beristri

Terjerat Cinta Pria Beristri
18. Bandara


__ADS_3

Hari ini agenda bulan madu Ayu dan Adi akhirnya berakhir. Pagi ini juga mereka sudah berada di bandara.


Di dalam bandara, mereka berdua bertemu pandang dengan berpasang-pasang mata yang sama-sama berjuang mengalahkan kantuk. Atau mereka yang merapatkan baju hangatnya di kursi-kursi ruang tunggu. Atau yang sedang menyeruput secangkir kopi hangat dengan leher berbalut syal atau neck-pillow. Menggeret koper dengan lesu setelah sebuah penerbangan semalaman yang melelahkan, atau berjalan tergesa menuju ruang tunggu mengejar jadwal penerbangan tanpa banyak sisa waktu.


****************


Sementara itu di sebuah bandara di tanah air, Sarah tengah berada di bandara menunggu kedatangan Bu Lidia, Mama nya yang baru saja datang dari negara tetangga mengunjungi keluarga mereka yang tinggal disana.


Sarah yang tengah duduk tiba-tiba melihat keriuhan yang terjadi di bandara itu. Ternyata semuanya disebabkan oleh pesawat X jurusan penerbangan domestik, mengalami keterlambatan. Penyebabnya adalah kerusakan mesin dan memerlukan perbaikan yang cukup lama. Kemungkinan perbaikan itu hingga 1 hari lamanya. Kontan saja penumpang pesawat X itu menjadi gempar.


"Ada apa itu?" Ucap Sarah berbicara pada dirinya sendiri.


Berbondong-bondong para penumpang menuju ke ruang manajer pesawat X untuk meminta pertanggungjawaban atas keterlambatan itu. Rata-rata mereka menjadi emosi dan gelisah.


“Bagaimana ini! Saya kan ada meeting penting bernilai milyaran rupiah hari ini. Kalau saya tidak datang, saya rugi besar! Apa kamu kira kamu bisa mengganti kerugian saya?” Kata seorang bapak setengah baya kepada manajer pesawat X.


“Iya pak, kami tahu... tapi mau bagaimana lagi.” Jawab sang manajer.

__ADS_1


“Brakkk!” Suara meja di gebrak seorang bapak setengah baya.


“Kami tahu... Kami tahu bagaimana! Usahakan kek supaya cepat, saya beli tiket VVIP supaya cepat sampai kota tujuan. Tapi yang saya dapat pelayanan kacangan kayak begini. Mananya yang profesional? Payah!” Kata bapak itu.


Sang manajer hampir terloncat dari kursinya. Ia hanya terdiam, kemudian sang manajer berkata,


“...untuk ganti rugi tiket Bapak, akan kami bayar penuh...”


“Tiket seperti ini,” kata bapak setengah baya itu, “Bisa saya beli sejuta lembar.” Kemudian bapak itu merobek-robek tiket itu di depan sang manajer dan mencampakkannya ke muka si manajer. “Aku muak!” tambahnya seraya meninggalkan kantor manajer sambil sebelumnya membanting pintu kencang-kencang. “Duarrr!!”


Kemudian satu per satu datanglah penumpang yang lain yang juga mengajukan komplain atas keterlambatan ini. Rata-rata mereka menumpahkan kemarahan dan kekecewaan atas pelayanan transportasi udara ini. Ada yang mencampakkan tiketnya seperti bapak setengah baya tadi, ada yang memaki-maki dan ada pula yang meminta ganti rugi setinggi langit.


Disaat yang bersamaan, Adi dan Ayu baru saja tiba dari bulan madu mereka. Keduanya tampak begitu mesra, dengan bergandengan tangan layaknya pasangan baru menikah.


Dari kejauhan, Sarah yang masih menunggu kedatangan sang Mama merasa terkejut melihat sang suami yang berjalan bersama wanita lain. Meski Sarah tidak dapat melihat dengan jelas wajah dari wanita itu karena Ayu memang mengenakan kacamata hitam dan juga masker.


"Itu Mas Adi kan?" Ucap Sarah menyipitkan matanya. "Lalu siapa wanita yang bersamanya itu?" Lanjut Sarah.

__ADS_1


Adi tampak tertawa dan merangkul pinggang Ayu lantas mencium kepalanya mesra. Mata Sarah membelalak melihat pemandangan didepan matanya itu.


"Sialan kau Mas. Berani-beraninya kau selingkuh dibelakang ku." Sarah begitu marah, darahnya terasa mendidih.


Saat Sarah hendak melabrak keduanya, tapi Bu Lidia, Mama Sarah, muncul dihadapannya dan memeluknya.


"Sayang..." Ucap Bu Lidia dengan memeluk Sarah. "Mana Farel, Mama kangen sekali sama dia." Lanjut Bu Lidia.


Sarah tak menggubris ucapan Bu Lidia. Dia malah dengan kasar melepaskan pelukan Mama nya itu. Dan dia kembali mencoba mencari sosok Adi, namun dia sudah tidak menemukannya lagi di tengah banyaknya orang yang lalu lalang.


"Kamu kenapa sih?" Tanya Bu Lidia.


"Aku lihat Mas Adi sama perempuan lain Ma." Ucap Sarah cepat.


"Apa? Yang benar saja kamu. Masa Adi begitu?" Balas Bu Lidia tampak tidak percaya.


"Kita pulang sekarang Ma. Aku harus minta penjelasan Mas Adi."

__ADS_1


Sara lantas berjalan dengan cepat ke arah luar bandara setelah meminta sopirnya untuk mengambil barang-barang milik Bu Lidia.


Bersambung....


__ADS_2