Terjerat Cinta Pria Beristri

Terjerat Cinta Pria Beristri
15. Rencana


__ADS_3

Malam itu, Adi pulang ke rumah dengan begitu sumringah.


"Mas kayaknya bahagia banget." Ucap Ayu saat menyambut kedatangan Adi.


Adi lantas merangkul pinggang Ayu dan membawanya duduk di ruang tamu lalu membuat Ayu duduk di pangkuannya.


"Sayang, kita bulan madu yuk ke Eropa." Ucap Adi.


"Beneran Mas?" Tanya Ayu girang.


Adi lantas mengangguk dan menjelaskan semuanya, bahwa ia akhirnya bisa berlibur setelah begitu banyak pekerjaan yang selama ia lakukan.


"Mas, aku mau ngomong sesuatu." Ucap Ayu.


"Ngomong aja." Ucap Adi.

__ADS_1


"Maaf karena aku baru bilang sekarang sama Mas." Ayu merasa begitu bersalah. "Mas, aku belum mau punya anak. Sehari sebelum akad, aku sudah ke bidan untuk minta suntik KB. Bukan apa-apa Mas, alasan aku karena status kita yang belum diakui secara hukum negara. Aku cuma gak mau anak aku nantinya...." Adi menutup mulut Ayu dengan tangannya.


"Mas mengerti." Ucap Adi singkat.


Sebelumnya Ayu pernah berbicara dengan seorang wanita bernama Lina di desanya tentang anak.


"Aku benar-benar tidak mengerti mengapa orang tampaknya berpikir perempuan harus punya anak? Bagaimana jika pernikahan gagal, dan selalu perempuan yang terjebak mengurus anak, hidup dalam kemiskinan setelah mengorbankan karir dan kebebasan hidupnya, demi mimpi yang konyol." Ucap Lina pada Ayu yang bertanya padanya kenapa ia tak mau punya anak di usianya yang sudah tak muda lagi.


"Membentuk keluarga mungkin penting untuk kelangsungan hidup di masa lalu, tapi benar-benar tidak untuk sekarang. Dunia ini berantakan. Membawa anak-anak ke dalam kekacauan ini adalah tindakan egois dan tidak bertanggungjawab," lanjut perempuan paruh baya itu.


"Sejak kecil aku benar-benar tahu bahwa dalam keadaan apapun, aku tidak ingin punya anak sendiri. Tapi aku suka anak-anak, dan bisa sangat dekat dengan beberapa asuhku, yang sampai saat ini masih menganggap aku sebagai ibu mereka, hingga anak-anak mereka menganggap aku neneknya." Ucap Lina.


Lina sangat senang mengajar, dan sebagian besar pekerjaannya melibatkan anak-anak kurang mampu di lingkungannya untuk belajar.


Menurut Lina, sebagai perempuan tidak punya anak ia bisa fokus melakukan hal-hal baik dan menjadi orang tua bagi anak-anak kurang beruntung yang lain.

__ADS_1


"Hidupku sangat lengkap. Aku telah memberikan hidup yang baik bagi ratusan anak-anak, bukan saja hidupku sendiri. Keegoisan tidak ada hubungannya dengan tidak ingin punya anak." Ujar Lina lagi.


"Ya, dalam hal ini saya sangat setuju. Menjadi orang tua bagi anak-anak sendiri tidak serta merta membuat kita menjadi perempuan yang lebih baik, lebih dari perempuan lain. Tapi, jangan menganggap saya tidak suka anak-anak. Tentu saja saya sangat menyayangi anak-anak. Tapi, seandainya jika saya jadi menikah dengan teman dekat saya, sepertinya saya akan memutuskan untuk menunda punya anak, bahkan bisa saja saya tidak ingin punya anak." Balas Ayu.


Ayu lantas tersenyum dan melihat ke arah hamparan sawah yang luas. Saat itu, ia dan Lina memang tengah mengobrol di sebuah rumah baca yang didirikan Lina disamping hamparan sawah yang luas.


"Saya hanya heran saja, banyak orang yang sering berkata seperti ini, kamu belum jadi perempuan seutuhnya kalau belum punya anak. Ada juga yang mengatakan siapa yang akan mengurus kamu kalau sudah tua nanti? Kamu gak suka anak-anak ya? Aku yakin kamu bakal menyesal nanti." Ucap Ayu.


"Bagaimanapun, mereka kita punya kewajiban menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu atau mentolerir pernyataan menjengkelkan. Justru ini adalah tanggungjawab kita, sebagai seorang ibu, untuk peka terhadap perasaan mereka.


Kita semua adalah perempuan mandiri dengan pilihan atau keadaan yang menempatkan kita menjadi seorang ibu ataupun tidak. Jangan buang-buang waktu untuk menilai satu sama lain. Sebagai perempuan, marilah saling mendukung pilihan masing-masing." Ucap Lina panjang lebar.


Ucapan Lina itulah yang membuat Ayu berpikir untuk menunda punya momongan. Bukan karena Ayu tidak ingin punya anak, tapi Ayu memang masih ragu untuk memiliki anak, mengingat status pernikahannya dengan Adi yang masih sirih.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2