
Pagi hari pun tiba....
Seperti biasa, pagi ini indah. Langit masih kelabu. Udara sekitar terasa dingin menyentuh kulit. Burung-burung terdengar riang bernyanyi. Kicauannya menemani aktifitas manusia di pagi itu.
Pagi-pagi buta Ayu sudah terbangun dari tidur. Seketika terdengar suara azan subuh dari toa masjid.
Ayu langsung bergegas mengambil handuk dan mandi lalu berwudu untuk segera beribadah. Ternyata Arya dan Bu Ida juga sudah menunggu untuk beribadah bersama. Mereka beribadah bersama berjamaah sampai selesai. Namun ketika Arya membaca doa, perut Ayu tak bersahabat ingin cepat-cepat masuk kamar mandi. Ayu segera melanjutkan berdoa dengan cepat karena kebelet.
Setelah itu Ayu keluar rumah memandangi sekeliling ternyata diluar sudah mulai cerah, dewa langit sudah mulai mengeluarkan sinarnya ke peraduan.
Suasana sekeliling tampak sepi, namun nuansa sejuk sangat terlihat indah ketika memandangi halaman sekitar. Suasana di luar halaman rumah pun tampak sejuk dari kejauhan.
Saat itu Ayu mencari udara segar di pagi hari sedangkan Ibunya mulai sibuk beres-beres mempersiapkan makanan untuk sarapan pagi.
Terlihat beberapa orang berlari kecil untuk berolahraga. Disana juga terlihat lalu lalang sedikit sepeda motor. Mereka sepertinya orang kerja kantoran yang bekerja atau orang warungan yang pergi ke pasar untuk berbelanja. Di sisi lain, masih ada orang yang terlelap tidur di kasurnya, menikmati mimpi indahnya.
Entah kenapa rasa kantuk kembali menyerang Ayu. Dia kembali ke kamar.
***********
Ayu terus berjalan menuju jalanan ke pasar. Ayu memilih sarapan di sebuah warung karena ada menu sarapan favoritnya, yaitu bubur ayam. Minumnya teh tawar hangat.
'Emmm, begitu nikmat rasanya di pagi yang dingin ini.'
Setelah menikmati sarapan bubur, Ayu kembali melanjutkan perjalanannya. Ayu sudah menyiapkan keranjang belanjaan dan menaruh dompet didalamnya.
Ayu ke pasar dengan mengendarai motor matic nya. Motor itu dahulu ia beli sendiri dari hasil jualan nasi di warung.
Ayu menyusuri jalanan yang masih sepi dengan motor kesayangannya itu. Pepohonan hijau dan rindang menemani perjalanannya. Di sisi kananku, ada sebaris pepohonan dan rerumputan sepanjang jalan. Di sebelah sisi kiri, terlihat banyak sekali pepohonan dan semak belukar, bahkan banyak pohon yang masih tinggi dan diameter lingkarannya lebar, yang menampilkan kesan hutan.
Ayu terus menge'gas motornya. Matahari bersinar dengan hangat. Ayu suka sekali beraktivitas di pagi hari. Udaranya masih segar, belum terpolusi dengan banyak kendaraan bermotor. Pemandangan hutan hijaunya menyegarkan mata dan hati. Mood Ayu menjadi baik.
Jalanan mulai menurun. Jalan menurun itu sampai beberapa ratus meter ke depan. Tanpa digas pun motor Ayu mengalami pertambahan percepatan.
Tiba-tiba Ayu dikagetkan dengan seekor anak kucing di tikungan.
'Gawaat!'
Posisi anak kucing itu tidak begitu jauh dari Ayu. Anak kucing kecil dan lugu tersebut tidak tahu kalau dia dalam bahaya. Langsung saja Ayu banting stang motornya ke arah kanan kucing. Dan kucing itu selamat, tidak jadi terlindas. Tapi motor Ayu menembus separator jalan dan di depannya sebuah pohon tersenyum ke arah dirinya menyambutnya dengan ramah.
'Bruukk…'
__ADS_1
"Aaaaaaaaahhh....." Teriak Ayu.
Semuanya menjadi gelap. Gelap dan sepi.
"Ayu.... Ayu... Kamu kenapa Nak?" Terdengar suara Bu Ida yang terasa menggoyangkan tubuh Ayu.
Ayu membuka mata. Ia segera bangkit tapi tidak berdiri. Adrenalin masih berdenyut kencang.
'Ah, ternyata aku tidak mengalami luka apa-apa.' pikir Ayu melihat tangannya.
Ayu melihat sekeliling adalah kamarnya. Dan dihadapannya ada Bu Ida yang duduk dengan wajah panik.
'Ah, sial. Ternyata tadi abis subuh aku ketiduran lagi.' ucap Ayu dalam hati seraya memijit pelipisnya.
"Kamu kenapa Nak?" Tanya Bu Ida lagi.
Ayu tak menjawab dan langsung melihat ke arah jam, terpampang pukul 08.00 AM.
"Tiiidaaak, aku terlambat ke pasar Bu." Ucap Ayu.
Bu Ida menggeleng.
"Sebenarnya kamu kenapa toh Yu? Tadi tiba-tiba teriak buat kaget Ibu saja." Ucap Bu Ida.
"Gak usah Nak, hari ini Ibu mau istirahat dulu. Kamu gak perlu ke pasar." Balas Bu Ida.
"Ya udah deh Bu."
"Sekarang, ayo keluar. Kita sarapan bareng, Arya juga sudah pulang dari joging."
*****************
Hari menjelang siang...
Adi kembali mengunjungi rumah Ayu. Kali ini ia datang dengan maksud untuk meminang Ayu. Adi benar-benar sudah kepincut dengan kecantikan dan kebaikan hati Ayu. Namun Ayu ragu untuk setuju menikah dengan Adi karena Adi mengajaknya menikah sirih.
"Ayu gak mau Mas, kenapa harus nikah sirih. Apa jangan-jangan Mas di kota sudah punya istri?" Ucap Ayu.
"Bukan gitu Yu, Mas itu sedang terikat kontrak pekerjaan yang tidak memperbolehkan Mas untuk menikah dalam kurun waktu sampai 2 tahun. Tapi Mas janji, tahun depan kita sudah bisa melegalkan hubungan kita secara hukum." Balas Adi.
Ayu terdiam.
__ADS_1
"Apa kamu gak percaya sama Mas?" Tanya Adi.
"Mas, dengerin aku ya. Sejujurnya aku masih ragu untuk menikah. Aku takut semuanya tak sesuai dengan harapan."
"Apa kamu tidak mencintai Mas? Atau kamu sudah punya yang lebih segalanya dari Mas." Tanya Adi yang mulai tampak kesal.
"Tolong dengarkan aku dulu. Bukan, ini bukan masalah aku tidak mencintai Mas lagi atau aku ingin mencari yang lebih baik seperti yang kamu pikir. Bagiku, Mas itu sempurna. Tapi aku tidak bisa menutupi rasa takut yang selalu muncul setiap kali Mas membicarakan tentang pernikahan. Sekali ini saja, biarkan aku menjelaskan apa yang menjadi ketakutan terbesarku jika kita menikah." Ujar Ayu.
"Katakan!" Ucap Adi cepat.
"Mungkin Mas menganggap ku aneh. Tapi jujur saja, aku sangat gugup ketika Mas melamar ku. Pacaran dan menikah jelas berbeda, dan aku tidak yakin apakah aku bisa menjaga komitmen ini. Apalagi dengan statusku ini. Tapi aku ini adalah wanita yang setia, tapi aku tidak tahu apakah aku sanggup menjadi istri yang baik untuk Mas.
Aku mau bilang terima kasih telah menjadikan aku sebagai wanita pilihan hati Mas. Tapi, bagaimana jika kita menikah nanti? Bagaimana tanggapan keluarga Mas dengan statusku ini? Apa mereka bisa menerima aku? Apa mereka bisa menyukai aku, mengasihi aku, menyayangi aku seperti Mas?
Keluarga dan teman-teman ku disini selalu mendesak ku untuk segera melangkah ke pelaminan. Mereka hanya melihat dari luar tanpa mempertimbangkan apa yang ada di pikiranku. Jika ada masalah yang timbul akibat keputusan yang asal-alasan ini, apakah mereka bersedia untuk bertanggung jawab?
Aku memang tidak sebodoh itu untuk melupakan esensi sebuah pernikahan. Tapi jika Mas sadar, banyak orang lebih sibuk membicarakan tentang perayaannya dibanding bagaimana mempertahankannya. Banyak orang yang berlomba-lomba agar hari spesial mereka terlihat begitu megah. Lama-lama, aku hanya memaknai pernikahan seperti pesta yang dilakukan sekali seumur hidup."
Adi terdiam, pandangannya terus menatap lantai dengan kakinya yang terus bergerak. Sementara tangannya digenggam erat oleh Ayu.
"Jujur saja Mas, aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Tapi, Tuhan berkehendak lain. Coba saja Mas lihat berapa banyak kegagalan yang terjadi pada rumah tangga orang lain. Kita memang tidak bisa menjadikan kegagalan pasangan lain sebagai bayangan masa depan, namun aku tahu bahwa akan ada banyak sekali masalah yang datang dari berbagai sisi. Aku pesimis, apakah kita bisa melewatinya bersama atau tidak. Ketika masalah itu datang belasan bahkan puluhan tahun kemudian, apakah Mas masih cukup setia mencintaiku dan berjuang bersama atau kita memilih untuk menyerah."
"Sayang, dengerin Mas. Kamu jangan ragu lagi. Mas janji bahwa Mas akan bahagiakan kamu. Hilangkan semua keraguan kamu itu." Ucap Adi akhirnya berbicara.
"Semoga semua keraguan ini tidak bertahan lama Mas. Semoga ketakutan ku untuk mengikat janji suci bersamamu segera sirna. Tapi, untuk semua keputusan ini, aku harus tanya Ibu dulu." Balas Ayu.
"Baiklah." Balas Adi.
Ayu lantas memanggil Bu Ida untuk diajak membicarakan semuanya.
"Ibu sih terserah kalian berdua saja. Menikah itu kan ibadah. Apalagi kalian berdua juga sudah sama-sama dewasa. Terlebih Ayu juga sudah pernah menikah, jadi dia setidaknya sudah memiliki gambaran tentang bagaimana kehidupan berumah tangga. Tapi, satu hal yang masih membuat Ibu ragu Nak Adi." Ujar Bu Ida.
"Apa itu Bu?" Tanya Adi.
"Bagaimana dengan keluarga kamu, apakah mereka bisa menerima Ayu dengan statusnya yang seperti ini. Terlebih lagi, kamu tidak pernah memperkenalkan Ayu dengan keluarga kamu."
Ayu memandang Adi yang tampak menunduk.
"Mas aku akan setuju menikah dengan Mas. Walaupun untuk sementara kita hanya menikah sirih saja. Tapi Mas harus bawa keluarga Mas, dan kita menikah disaksikan oleh tokoh masyarakat disini. Aku bukannya gak percaya sama Mas tapi...."
"Iya Mas mengerti." Ucap Adi memotong ucapan Ayu.
__ADS_1
Meski sebenarnya masih ragu, Ayu pun akhirnya setuju untuk menikah dengan Adi, dengan syarat bahwa Adi akan memboyong keluarganya datang sebelum pernikahan mereka.
Bersambung....