
Hari-hari berlalu....
Adi tak kunjung juga pulang ke rumahnya untuk menemui Sarah. Untuk menemui Farel anaknya, Adi memilih untuk pergi berkunjung ke sekolah Farel saat jam istirahatnya. Sementara untuk mengunjungi Bu Indah, Adi memilih saat Sarah tidak ada di rumah.
Seperti hari ini, saat weekend Sarah memang keluar rumah mengajak Farel pergi ke rumah Bu Lidia, mama nya. Sementara Bu Indah ditinggal di rumah.
Adi bergegas masuk ke dalam rumah saat pintu di buka oleh perawat Bu Indah.
"Pagi Ma." Sapa Adi.
"Pagi." Balas Bu Indah menghela napas.
Bu Indah tengah duduk di depan televisi di ruang keluarga dengan menyantap buah yang di sediakan oleh perawatnya.
"Mama gak enak badan ya?" Tanya Adi seraya duduk di lantai di hadapan Bu Indah.
"Sampai kapan kamu seperti ini Nak?" Tanya Bu Indah.
"Maksud Mama?" Tanya Adi balik.
Bu Indah kembali menghela napas.
"Sampai kapan kamu datang ke rumah seperti ini tidak bebas? Sampai kapan kamu tidak mau pulang ke rumah? Sampai kapan kamu tidak mau memperbaiki hubungan mu dengan Sarah?" Cecar Bu Indah.
Adi terdiam. Dia masih enggan memperbaiki hubungannya dengan Sarah mengingat perilaku Sarah yang belum juga kunjung berubah. Meski sebenarnya Adi memang lebih mencintai Ayu, tapi dalam lubuk hatinya, ia juga tak mungkin menceraikan Sarah mengingat mereka sudah memiliki Farel.
"Ma, aku akan kembali pulang jika Sarah sudah berubah." Ucap Adi.
"Gimana mau berubah kalau kamu tidak mau pulang dan berbicara dengannya." Balas Bu Indah.
"Aku akan pulang Bu. Tapi tidak dalam waktu dekat ini." Ujar Adi.
"Kapan? Bagaimana dengan pernikahan kalian? Apa kau masih mempertahankannya? Atau kau mau menceraikan sapah satu dari istri mu itu?" Tanya Bu Indah lagi.
"Aku tidak mau menceraikan Ayu Bu. Aku juga tidak berniat menceraikan Sarah." Jawab Adi.
__ADS_1
"Kalau begitu, kau selesaikan semuanya dengan baik." Ucap Bu Indah. "Mama hanya tak ingin ada yang terluka. Walau bagaimana pun perilaku Sarah, dia itu tetap menantu Mama. Setidaknya, kamu sebagai suami harus mampu merubahnya menjadi lebih baik." Lanjut Bu Indah.
*****************
Sementara itu di kediaman orang tua Sarah.
Sarah tengah mengobrol dengan mamanya, Bu Lidia. Sementara Farel tengah bermain seorang diri di halaman depan rumahnya.
"Sekarang bagaimana keputusan kamu?" Tanya Bu Lidia pada Sarah.
Sarah tampak memijit pelipisnya.
"Jujur saja Ma, aku akui selama ini aku memang kurang perhatian sama Mas Adi. Aku lebih senang main-main. Dan sebenarnya tidak masalah jika aku harus berpisah dengannya. Tapi, aku gak mau begitu saja melepaskan Mas Adi dengan pelakor itu, apalagi Mas Adi sudah memiliki banyak kekayaan sekarang. Enak aja wanita itu mau merampas semuanya dari ku." Ucap Sarah.
"Kalau begitu lakukan sesuatu." Balas Bu Lidia.
"Tentu saja Ma. Aku akan melakukan sesuatu. Aku gak akan melepaskan Mas Adi begitu saja. Aku harus mendapatkan yang sebanyak-banyaknya dari Mas Adi. Setelah itu, aku bisa meninggalkan Mas Adi dengan wanita tak tahu malu itu." Ujar Sarah dengan menyeringai.
Di halaman depan rumah, Farel melihat seorang tukang balon melewati jalanan yang ada di depan rumah. Farel lantas berjalan ke arah gerbang dan mencoba membuka gerbang itu.
Saat Farel berhasil membukanya, dia langsung berlari keluar rumah tanpa melihat kanan kiri hingga dia hampir tertabrak motor seorang pengendara yang lewat. Untungnya pengendara motor itu dengan sigap mengerem motornya hingga tabrakan pun bisa dihindari.
"Gak apa-apa Tante." Balas Farel.
Pengendara motor yang tak lain adalah Ayu itu lantas mengajak Farel menepi. Setelah itu ia menepikan motornya.
"Mau kemana? Rumah kamu dimana?" Tanya Ayu.
"Mau beli es krim. Rumah ku disana Tante." Balas Farel menunjuk seberang jalan.
Ayu tersenyum lalu mengusap kepala Farel.
"Kamu mau es krim rasa apa?" Tanya Ayu. "Biar nanti Tante yang belikan."
"Gak usah Tante, aku bisa beli sendiri." Balas Farel yang tampak tak percaya pada Ayu.
__ADS_1
Ayu kembali tersenyum.
"Tenang saja sayang. Tante bukan orang jahat. Kalau kamu mau, kamu tunggu aja di depan rumah. Nanti Tante hantarkan es krimnya kesana. Bahaya loh kalau kamu pergi mengikuti penjual es krim yang sudah jauh itu." Ucap Ayu seraya menunjuk penjual es krim keliling yang sudah tampak jauh itu.
Farel terdiam.
"Sudah, sana nyebrang mumpung sepi. Nanti Tante hantarkan es krimnya ke kamu. Kamu tunggu di dalam halaman aja ya. Jangan keluar dari gerbang. Bahaya." Ujar Ayu sambil mengantar Farel menyebrang.
Ayu kemudian kembali ke motornya dan bergegas mengejar penjual es krim itu. Setelah membeli beberapa es krim rasa coklat untuk Farel, Ayu lantas kembali dan memberikannya kepada Farel yang menunggu di dalam pekarangan melewati celah gerbang.
"Dimakan ya." Ucap Ayu tersenyum.
"Makasih Tante." Balas Farel.
Ayu lantas mengusap kepala Farel dan bergegas pulang.
Ayu memang sudah diberikan motor oleh Adi, supaya ia mudah bepergian agar tidak bosan saat berada di rumah sendirian.
'Semoga keponakan Mas Adi suka sama es krim tadi.' ucap Ayu dalam hati.
Ayu memang sejak awal melihat Farel sudah menyadari bahwa anak kecil yang hampir ditabraknya itu adalah anak kecil yang pernah dilihatnya di sebuah foto yang ditunjukkan oleh Adi dan diakui Adi sebagai keponakannya itu.
Farel kembali masuk ke dalam rumah dengan sekantung plastik berisi penuh es krim.
"Farel..." Panggil Sarah.
"Hmmm...." Balas Farel seraya melihat ke arah Sarah dengan mulut penuh es krim.
"Dapat es krim sebanyak itu dari siapa?" Tanya Sarah.
"Dikasih sama Tante cantik." Balas Farel santai lantas berjalan ke arah lemari pendingin untuk menaruh es krimnya itu.
Sarah menatap Bu Lidia.
"Tante cantik!" Seru Sarah.
__ADS_1
Bu Lidia hanya mengangkat bahunya.
Bersambung....