Terjerat Cinta Pria Beristri

Terjerat Cinta Pria Beristri
6. Study Tour Arya


__ADS_3

Ayu kembali terngiang momen pertama dia bertemu dengan mendiang sang suami, Haris. Saat itu, Ayu baru masuk sekolah menengah pertama. Dia dan Haris sama-sama datang terlambat di hari pertama masuk sekolah.


Haris merupakan pemuda yang tinggal di panti asuhan. Ia sudah hidup di panti asuhan sejak masih bayi. Jadi Haris sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Sejak drama keterlambatan itulah Ayu dan Haris saling mengenal, hingga memutuskan untuk berpacaran sejak kelas satu SMA hingga mereka tamat sekolah bersama dan memutuskan untuk menikah muda.


Keduanya begitu bahagia di hari pernikahan mereka. Disaat teman-teman seusia mereka melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, keduanya justru memilih untuk menikah muda. Haris sosok pria yang sangat baik dimata orang tua Ayu. Setelah menikah, Haris memang tinggal di rumah Ayu mengingat ia sendiri tidak mempunyai rumah.


Namun dengan tekad dan kerja keras yang ia lakukan dengan membuka usaha bengkel, membuat perekonomian keluarga Ayu menjadi meningkat. Bapak Ayu yang sehari-hari hanya bekerja sebagai buruh tani pun bahkan ikut membantu di bengkel milik menantunya yang memang lokasinya berada di depan rumah.


Dengan hasil yang didapat dari pekerjaan itu, rumah Ayu akhirnya bisa di renovasi menjadi lebih baik.


"Terima kasih sudah hadir di hidup aku Mas. Dan aku minta maaf karena belum bisa ngasih Mas keturunan." Ucap Ayu.


Haris memegang tangan Ayu kemudian menciumnya.


"Sudah berapa kali Mas katakan, jangan pernah minta maaf atas hal itu. Itu semua sudah dari Yang Maha Kuasa. Mungkin saat ini kita belum dipercaya untuk diberikan titipan berupa bayi karena usia kita yang masih terlalu muda. Siapa tahu 2 atau 3 tahun lagi, saat tubuh kamu sudah siap, Tuhan akan titipkan bayi di dalam rahim kamu." Ujar Haris.


Ayu langsung bersandar di dada sang suami.


"Dek, sebenarnya justru Mas yang harusnya berterima kasih sama kamu karena sudah mau menerima Mas yang asal usulnya gak jelas ini."


"Hussshh.... Ngomong apa sih." Ucap Ayu.


Malam itu, keduanya berencana untuk pergi mengunjungi keluarga dari Bapak Ayu yang tengah mengadakan hajatan pernikahan. Jadi, saat pagi hari tiba, seisi rumah sudah mulai bersiap-siap. Namun, saat itu Bu Ida bersama dengan Arya batal ikut karena Arya yang saat itu berusia 12 tahun, tiba-tiba demam. Jadi hanya Ayu, Haris dan Bapak Ayu saja yang bisa pergi.


Ayu dan Haris beserta Bapak Ayu menumpang di sebuah mobil pick up yang juga membawa rombongan lainnya yang memang bertujuan untuk pergi hajatan bersama mereka.


Semua orang bersuka hati, tertawa dan bercanda sepanjang jalan. Termasuk juga pasangan penuh cinta Ayu dan Haris. Mereka berdua awalnya hendak menggunakan sepeda motor untuk pergi ke acara hajatan, namun karena Bu Ida dan Arya tidak jadi ikut mereka berdua pun memutuskan untuk ikut bersama Bapak Ayu menaiki mobil pick up.


"Mas, enak juga ya naik mobil bak terbuka seperti ini. Adem." Ujar Ayu.


"Iya adem sih, tapi sebenarnya mobil seperti ini itu tidak boleh buat bawa orang bahaya. Cuma ya beginilah kebiasaan. Udah bahaya tetap aja dilakukan. Belum lagi konsekuensi kalau ketemu polisi, nasib langsung ditilang." Ujar Haris cekikikan.


Haris tengah memeluk pinggang Ayu saat mobil pick up yang mereka tumpangi hendak berbelok kanan masuk ke sebuah gang. Namun naas, dari arah depan, tampak sebuah truk bermuatan pasir melaju dengan begitu kencang menghantam mobil pick up yang mereka tumpangi.


Semua penumpang yang berjumlah 10 orang terpental bersamaan dengan mobil pick up itu yang terseret sejauh lima meter. Bapak Ayu yang berada tepat di sisi kiri mobil yang merupakan bagian yang ditabrak truk itu seketika meregang nyawa. Sementara Ayu sendiri mengalami luka cukup serius di kaki dan kepalanya hanya terdapat goresan saja. Hal itu terjadi karena Haris yang sigap memeluknya dengan erat saat keduanya terlempar dari mobil pick up.


Atas kejadian naas itu, lima orang dinyatakan meninggal di tempat. Sementara Haris dalam kondisi kritis dan dilarikan ke rumah sakit bersamaan dengan Ayu.


Masih jelas dalam ingatan Ayu senyum Haris yang menatapnya saat tubuh keduanya di naikkan ke mobil pick up lainnya saat akan dibawa ke rumah sakit.


"Maaf." Ucap Haris.


"Mas bertahan ya." Isak Ayu yang tak lagi menghiraukan sakit dikakinya.


Ayu dalam posisi duduk dan merangkul kepala suaminya. Hati Ayu hancur melihat pria yang dicintainya itu tak berdaya. Sekujur tubuh Haris dipenuhi dengan darah. Ayu bahkan tak berani melihat ke arah kaki Haris yang sudah tidak bisa diselamatkan itu.


"Mas, jangan tinggalin aku Mas." Isak Ayu.


'Bapak sudah meninggal, dan aku gak mau kehilangan Mas.'


Tiba di rumah sakit, nyawa Haris benar-benar tidak bisa tertolong. Ayu meraung dengan keras. Rasa sakit dikakinya tak ia perduli kan, sesak di dadanya lah yang begitu amat sangat menyakitkan.

__ADS_1


Tepat sebelum menghembuskan napas terakhirnya, Haris sempat mengatakan sesuatu kepada Ayu.


"Tersenyumlah sayangku. Kau jelek kalau menangis. Aku mencintaimu."


Mengingat semua itu, air mata Ayu kembali mengalir begitu deras. Pengalaman terpahit yang pernah ia lewati. Ia harus kehilangan kedua sosok pria yang merupakan orang paling penting dalam hidupnya.


"Mas Haris, maafkan karena aku tidak bisa mencegah hatiku untuk jatuh cinta pada pria lain selain dirimu Mas. Kau akan selalu ada dalam setiap doaku. Kau akan selalu jadi cinta pertamaku Mas." Ucap Ayu dengan berlinang air mata.


Perkataan para tetangga yang terus menerus memberikan stempel kepada Ayu sebagai janda gatal hingga bahkan sudah membawa-bawa nama Bu Ida membuat Ayu begitu sakit hati. Hal itulah yang menjadi pemicu kenapa ia kembali terngiang akan kejadian yang merenggut statusnya sebagai seorang istri yang bertukar menjadi janda dan sekarang malah menjadi cemoohan para warga.


"Mas, andai kau tidak pergi saat itu. Maka status janda ini tidak akan melekat padaku. Orang-orang tidak akan menghina aku dan juga Ibu." Lagi-lagi Ayu terisak.


Setelah semalaman lelah menangis, Ayu pun ketiduran. Dalam tidurnya yang lelap, ia bermimpi bertemu dengan Haris yang kembali mengatakan, "tersenyumlah sayangku. Kamu jelek kalau menangis. Aku mencintaimu. Sekarang lanjutkan hidupmu."


*************


Keesokan paginya, Arya yang tengah duduk di meja makan menikmati sarapannya, tampak terkejut melihat mata Ayu yang sembab.


"Kakak kenapa? Ada masalah apa sama Kak Adi?" Tanya Arya penasaran.


"Gak ada apa-apa." Balas Ayu.


"Gak apa-apa gimana nya. Orang mata kakak itu sembab kayak digigit tawon. Ahahaha..." Arya mulai menertawakan Ayu.


"Diam kau!" Bentak Ayu kesal.


Arya masih saja tertawa, kemudian ia mengeluarkan sebuah kertas dari dalam ransel sekolahnya.


Ayu terus membaca isi kertas yang diberikan Arya itu.


"Mau study tour?" Tanya Ayu yang dibalas anggukan Arya. "Kapan?" Tanya Ayu lagi.


"Besok." Balas Arya.


"Ya udah." Ayu beranjak masuk ke dalam kamarnya dan tak lama kemudian, Ayu keluar dengan membawa dompet.


Ayu mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah.


"Ini lebih dari cukup kan?" Tanya Ayu.


"Makasih Kak." Balas Arya seraya mengambil uang yang diberika Ayu kemudian keluar dari dalam rumah setelah selesai sarapan untuk bergegas berangkat sekolah.


Ayu sendiri mulai membantu sang Ibu yang sudah lebih dulu berada di dalam warung makan mereka.


"Hari baru dimulai lagi. Semoga pelanggan tetap setia datang kemari." Ucap Ayu saat masuk ke dalam warung makannya itu.


***********


Malam harinya, Arya sudah bersiap untuk pergi study tour ke kota. Dia sudah tampil tampan dengan pakaian dan sepatu yang diberikan Adi sebagai hadiah padanya itu.


"Waahh, anak Ibu ganteng sekali." Ujar Bu Ida.

__ADS_1


"Kak Adi hebat pilihin aku baju. Tahu aja kalau ini bakalan cocok di aku." Ucap Arya dengan bangga.


Ayu hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah adik lelakinya itu yang tengah berjalan mondar-mandir dengan cara jalan seorang model.


"Sudah-sudah. Ayo kakak antar, nanti terlambat." Ucap Ayu.


"Biar aku aja yang bonceng kakak. Malu lah kalau kakak yang bonceng aku dilihat teman-teman yang lainnya." Ucap Arya.


Arya pun lantas bergegas mengendarai motor matic itu menuju sekolah dimana teman-temannya yang lain sudah berkumpul.


"Hati-hati ya." Ucap Ayu kepada Arya saat sudah tiba di depan gerbang sekolah.


Teman-teman Arya terus menatap Ayu yang tampak begitu cantik. Padahal Ayu hanya menggunakan kaus oblong berwarna hitam dan juga celana jeans panjang berwarna hitam.


"Iya Kak, entar aku bawain oleh-oleh." Ujar Arya yang membuat Ayu tersenyum.


Saat Ayu kembali ke rumah, teman-teman Arya lantas mendekatinya.


"Itu kakak kamu?" Tanya teman Arya.


"Iya, kenapa?" Tanya Arya.


"Seriusan? Waahh cantik banget."


"Naksir? Dia udah janda. Tapi jangan salah, dia janda bermartabat." Ucap Arya yang membuat temannya terdiam.


Selama ini Arya memang tidak pernah menceritakan apapun tentang Ayu kepada teman-temannya. Arya tipe pemuda yang introvert. Dia memiliki sedikit teman. Bahkan Ayu merasa heran kenapa adiknya itu tidak pernah membawa teman-temannya ke rumah.


"Males, entar malah gak jadi belajar karena jelalatan liat kakak." Ucap Arya kala Ayu bertanya padanya.


Akhirnya, bus yang ditumpangi Arya beserta teman-teman sekelasnya berangkat pukul 20.00 Sepanjang perjalanan di isi dengan bernyanyi bersama diatas bus.


Pada pukul 23.00, mereka sampai di rest area untuk beristirahat sejenak karena ada yang mau buang air kecil, beli jajanan dan lain sebagainya. Setelah sudah di rest area akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan untuk menuju ke perjalanan selanjutnya yaitu ke kota J.


Jam menunjukkan pukul 05.00 pagi, dimana mereka sudah sampai di kota J bertepatan di masjid untuk melaksanakan sholat, mandi terlebih dahulu agar setelah itu mereka langsung melanjutkan perjalanan menuju ke sebuah museum ternama.


Mereka akhirnya tiba di museum itu untuk menunggu informasi selanjutnya. Sambil menunggu, Arya dan teman-temannya sarapan pagi terlebih dahulu. Dan setelah makan pun selesai mereka semua langsung masuk ke dalam museum untuk mulai mengikuti kegiatan study tour mereka.


Arya secara tidak sengaja melihat Adi berada di museum itu bersama seorang wanita dan juga seorang anak kecil yang tampak bergandengan tangan bersama.


'Itu Kak Adi kan? Tapi sama siapa?' pikir Arya.


Arya yang tahu benar hubungan sang kakak dengan Adi, tampak begitu penasaran dengan wanita dan anak kecil yang tengah bersama Adi itu. Tanpa pikir panjang, Arya pun mendekati Adi dan menyapanya.


"Hai Kak Adi..." Sapa Arya.


Melihat kehadiran Arya, Adi pun menjadi kelabakan.


"A.... Ar... Arya...." Ucap Adi gugup.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2