Terjerat Cinta Pria Beristri

Terjerat Cinta Pria Beristri
Telepon Asing Lagi


__ADS_3

Pagi harinya...


Aku memutuskan untuk tidak menanyakan apapun kepada Mas Adi karena dia tentu saja tidak akan jujur padaku. Aku lebih memutuskan untuk bertindak lebih dulu. Aku akan mencari tahu sendiri, apakah semua kecurigaan ku ini benar.


Pagi ini adalah hari minggu, jadi Mas Adi tidak perlu pergi bekerja. Kami biasanya akan menghabiskan waktu seharian di rumah atau pergi ke pantai untuk refreshing. Tapi hari ini aku ingin diam di rumah saja. Aku ingin menghabiskan waktuku dengan Mas Adi. Aku ingin semua pikiranku teralihkan. Kecurigaan ku pada Mas Adi akan aku cari tahu sendiri nantinya.


Setelah selesai memasak menu untuk sarapan, aku kembali ke kamar untuk memanggil Mas Adi.


Ku dapati Mas Adi tengah sibuk menatap layar laptopnya. Aku berjalan masuk ke dalam kamar mandi dan mengganti pakaianku dengan gaun seksi berwarna merah yang diberikan Mas Adi beberapa minggu yang lalu.


Aku keluar dari dalam kamar mandi dan melangkah mendekati Mas Adi dan langsung duduk di pangkuannya. Tangan Mas Adi yang tadinya fokus mengetikkan sesuatu lantas beralih meraih daguku dan mencium bibirku.


"Sebentar sayang. Aku matikan laptop dulu." Ucap Mas Adi.


Setelah itu, dia menggendong tubuhku dengan posisiku yang memeluknya dan melingkarkan kakiku di pinggangnya.


"Kau sangat cantik pagi ini sayang." Ucap Mas Adi lembut di telingaku.


Perlahan Mas Adi merebahkan tubuhku ke tempat tidur.


"Ayo sarapan dulu." Ucapku.

__ADS_1


"Aku belum lapar." Balas Mas Adi.


Ia mulai mencium seluruh wajahku dan berpindah ke leher dan seluruh tubuhku. Aku membalas perlakuan manisnya dengan menciumnya juga. Saat kami sama-sama telah dibuai nikmatnya cinta, ponsel Mas Adi berdering membuatnya menghentikan aksinya.


Aku tak dapat melihat dengan jelas nama siapa yang tertera di layar ponselnya. Namun, raut wajah Mas Adi seketika berubah saat melihat nama yang memanggil di ponselnya. Sontak ia bangun dan duduk dengan selimut yang menutupi pinggang hingga kakinya.


"Halo. Ada apa?" Tanya Mas Adi.


Sedikitpun, aku tak dapat mendengar dengan jelas apa yang dikatakan si penelepon hingga membuat Mas Adi langsung berdiri dan beranjak masuk ke dalam kamar mandi tanpa busana. Yang aku dengar Mas Adi hanya mengatakan,


"Tunggu sebentar. Aku akan segera kesana." Ucapnya.


Saat keluar dari kamar mandi, Mas Adi sudah mengenakan baju kaos dan celana pendek. Dia mendekat ke arahku yang terduduk dengan memegang selimut untuk menutupi tubuhku yang polos.


"Kemana?" Tanyaku.


Mas Adi tidak langsung menjawab ku, dia malah memintaku untuk duduk disampingnya. Dia menatapku dengan begitu intens.


"Sayang, hari ini adalah ulang tahun dari keponakanku. Aku ingin sekali mengajakmu pergi. Tapi... Kau tahu sendiri bagaimana hubungan kita ini." Ucap Mas Adi.


"Tapi Mas, sampai kapan kita akan seperti ini? Aku ini sudah seperti istri simpanan mu." Ucapku mulai merasa kesal.

__ADS_1


Sampai kapan Mas Adi tidak mau memperkenalkan aku dengan keluarganya. Aku begitu kesal.


Mas Adi hanya terdiam.


"Mas..." Panggilku.


"Maaf sayang." Ucapnya.


"Mas, setidaknya jika Mas tidak bisa memberitahukan tentang status pernikahan kita, Mas bisa memperkenalkan aku sebagai kekasih Mas saja." Ucapku meminta padanya.


Jujur saja aku sudah merasa bosan dengan status pernikahan kami yang seperti ini. Mas Adi selalu saja punya alasan untuk dikatakan padaku tentang dirinya yang belum bisa memperkenalkan aku dengan keluarganya itu.


Pikiranku jadi kemana-mana.


'Apa jangan-jangan yang dikatakan Mbak Nina kemarin itu benar bahwa Mas Adi punya istri lain?'


Apalagi semalam juga ada wanita yang meneleponnya dan mengatakan rindu padanya.


"Sampai kapan Mas tidak mau membawaku menemui keluarga Mas?" Tanyaku lagi.


Tanpa menjawab pertanyaan ku, Mas Adi langsung berjalan keluar rumah. Aku jadi bertanya-tanya. Kenapa Mas Adi bersikap seperti ini padaku.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2