TERJERAT PESONA WANITA MALAM

TERJERAT PESONA WANITA MALAM
BAB 10. INGIN MENIKAHI MELATI


__ADS_3

Melati merasa takut saat mendengar bunyi bel, tapi dia tidak mungkin membiarkannya terus berbunyi sementara Agam sedang berada di kamar mandi.


Akhirnya melati memberanikan diri untuk membukanya dan ternyata yang datang adalah seorang wanita cantik dengan membawa beberapa paper bag.


"Selamat pagi Mbak, Pak Agamnya ada?" tanya Sang sekretaris sembari memandang Melati dari atas hingga ke bawah.


Melati merasa risih dengan penampilannya, tapi dia tidak mungkin menghindar lagi selain meminta Sekretaris Agam untuk masuk.


Ternyata Agam sudah berada dibelakang Melati dan ikut meminta Sita sang sekretaris untuk meletakkan barang yang dibawanya ke atas meja.


"Oh ya Pak, ini surat-surat yang harus Bapak tandatangani dan jam 3 sore nanti bapak ada janji bertemu dengan klien kita di Resto Kuliner Nusantara."


"Mengenai izin Bapak sudah saya sampaikan ke Pak Indra dan beliau menyarankan agar Bapak selesaikan dulu masalah pribadi, baru masuk kantor. Nanti Pak Indra akan menghubungi Bapak langsung."


"Terimakasih ya Sita, maaf telah merepotkan mu."


"Nggak apa-apa Pak, ini juga bagian tugas saya untuk melayani pimpinan."


Setelah semua ditandatangani, Sita pun pamit dan dia kembali menatap dengan tatapan aneh kepada Melati.


Agam tahu jika Sita curiga, tapi dia tidak mempunyai kewajiban untuk menjelaskannya kepada Sita.


Setelah Sita pergi, Melati berkata, "Apa Mas Agam tidak malu dan tidak takut jika digosipkan di kantor dan juga berita tentang kita akan sampai ke telinga istri atau keluarga Mas Agam?"


"Kenapa harus takut Mel, kita tidak berbuat apa-apa 'kan? Jika pun kita dipaksa harus menikah, ya sudah, aku tidak keberatan. Aku akan menikahimu selepas masa Iddah," ucap Agam sembari membuka paper bag tanpa memandang Melati yang menatapnya dengan heran.


Tidak ada suara maupun pergerakan dari Melati, membuat Agam menoleh dan dengan tersenyum diapun berkata, "Kenapa, apa omonganku salah?"


"Mas Agam aneh-aneh saja. Mana mungkin Mas Agam mau menikahi saya yang hanya perempuan kotor. Lagipula tidak ada alasan untuk kita menikah."


"Ada, aku merasa nyaman berada di dekatmu Mel," jawab Agam jujur.


"Tapi Mas..."


"Mengenai istriku? Jika kamu setuju, aku siap menghadapi apapun rintangan dan tantangannya," jawab Agam dengan tegas.


"Apa Mas Agam yakin tidak merasa jijik dengan wanita kotor seperti ku?"

__ADS_1


"Justru aku ingin menyelamatkanmu Mel. Aku akan mengeluarkan mu dari lembah dosa yang memang bukan keinginan mu."


"Untuk melawan Mami tidaklah mudah dan untuk melindungi mu dari mereka kita harus tetap bersama. Tidak mungkin 'kan kita tinggal bersama, sementara kamu bukan siapa-siapa ku."


"Lagipula, jujur aku tidak akan tahan berdekatan terus denganmu seperti ini tanpa ada ikatan. Aku pria normal Mel, yang masih membutuhkan layanan wanita."


"Tapi Mas, aku tidak mau menyusahkan hidup Mas, apalagi menghancurkan rumah tangga Mas. Aku siap melayani, jika Mas Agam butuh daripada harus menghancurkan kehidupan rumah tangga Mas Agam."


"Tidak Mel, jujur saat ini aku butuh, tapi aku ingin yang halal. Aku belum bisa menceritakan perihal rumah tanggaku sekarang, suatu hari nanti kamu pasti akan tahu."


"Jadi tolong pikirkan tawaran ku Mel. Aku serius ingin menikahimu dan punya anak darimu," ucap Agam sembari menatap manik mata Melati.


Sebenarnya tidak pantas bagi seorang janda yang baru di tinggal mati suami untuk membicarakan masalah tawaran pernikahan.


Namun yang dikatakan oleh Agam memang benar, saat ini Melati butuh pelindung, yang bisa membantunya lepas dari mami dan juga melepaskan diri dari siksaan sang mertua, terutama untuk mengambil putranya.


"Memangnya Mas Agam belum punya anak?"


"Dua kali keguguran dan sampai sekarang belum ada dan mungkin tidak akan ada jika aku tidak menikah lagi," ucap Agam sedih.


pendirian Resti yang kekeh belum mau berhenti bekerja. Tapi Agam belum ingin menceritakan semua masalahnya kepada siapapun termasuk Melati.


"Oh, maaf jika pertanyaan ku membuat Mas Agam sedih. Beri aku waktu ya Mas, aku akan pikirkan dulu."


"Baiklah, tapi jangan lama-lama. Aku takut mami dan para bodyguard nya akan menyakitimu lagi."


"Iya Mas. Besok aku akan beri keputusan. Hari ini aku harus pulang Mas untuk memastikan keadaan putraku."


"Bagaimana dengan mami dan bodyguardnya, apa mereka tidak akan menangkap mu?"


"Tidak Mas, selagi orang yang membooking ku tidak komplain ke Mami. Aku di booking oleh orang tersebut selama seminggu. Mudah-mudahan saja dia tidak menghubungi Mami hingga masa bookingan ku selesai."


"Masalah biayanya, apa dia sudah melunasi ke Mami?"


"Biasanya sudah Mas. Mami selalu minta kepada pelanggan ku untuk bayaran di muka. Beda dengan teman-teman ku yang lain."


"Entah mengapa, semua pelanggan yang memintaku tidak ada yang merasa keberatan. Mereka siap membayar berapapun yang mami minta."

__ADS_1


Agam tertegun, dia percaya dengan ucapan Melati. Para pelanggan ibarat seperti dirinya yang nyaman tinggal bersama Melati, meski tidak melakukan adegan ****.


Melati ibarat bunga Melati yang indah, membuat orang terpesona dengan warna, harum serta bentuknya yang sederhana.


Daya pikat Melati sangat kuat, hingga siapa yang mengenalnya tidak ingin lepas dan ingin selalu memilikinya.


"Mas, apa bisa aku pergi dari Mami Mas? Aku takut."


"Tenanglah Mel, kita akan hadapi sama-sama. Mudah-mudahan langkah baik akan mendapatkan ridhonya."


"Sekarang bersiaplah, aku akan mengantarmu pulang, masalah mami jangan kamu pikirkan. Aku akan coba cari jalan keluarnya. Tapi ingat janjimu, besok aku tunggu jawabannya."


"Iya Mas. Aku bersiap dulu ya."


Melati mengambil paper bag yang di berikan oleh Agam, lalu diapun bergegas ke kamar Chandra untuk mengganti pakaiannya.


Sementara menunggu Melati, Agam menelepon Chandra dan dia ingin bertemu Chandra setelah mengantar Melati pulang.


Chandra akan menunggu di cafe tempat Melati bekerja, tapi Agam menolak. Dia takut jika Chandra dan mami sampai bertemu dan membicarakan tentang Melati yang belum datang menemuinya.


Agam yang memilih tempat dan Chandra pun akhirnya setuju.


Melati sudah selesai berdandan, dia tidak menyangka jika Agam sangat memperhatikan penampilannya.


Agam bahkan membelikannya beberapa gamis beserta pashmina, hingga membuat Melati menitikkan air mata.


Selama pernikahannya, dia belum pernah mendapatkan perhatian seperti yang Agam lakukan. Suaminya dulu malah yang menjerumuskan Melati ke dalam lumpur dosa.


Karena menunggu Melati terlalu lama, Agam pun naik untuk menjemputnya dan dia melihat Melati sedang berdiri mematung di depan kaca sembari menangis.


Agam mendekat, lalu bertanya, "Ada apa Mel, kenapa kamu menangis? Kamu tidak suka ya dengan pilihanku?"


Tangis Melati semakin pecah dan dengan suara gemetar dia berkata, "Terimakasih Mas, telah mengajakku untuk menjadi baik."


Agam menghapus air mata Melati lalu memintanya untuk tersenyum. Senyum yang membuat Agam semakin ingin cepat menghalalkannya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2