TERJERAT PESONA WANITA MALAM

TERJERAT PESONA WANITA MALAM
BAB 19. ALASAN KE ISTRI TUA


__ADS_3

"Aku sudah berusaha Mel untuk menjadi suami yang baik bagi Resti, tapi aku gagal. Aku tidak bisa membuat Resti kembali ke kodratnya sebagai seorang istri," ucap Agam sembari meraup wajahnya dengan kasar.


Melati memegang tangan Agam dan dia yakin jika Agam tidak berbohong.


"Maukah Mas Agam menjadi suami yang baik untuk ku dan menjadi ayah yang baik bagi Bayu?"


Agam mendongak, dia menatap manik mata Melati untuk mencari kebenaran di sana. Agam masih belum yakin dengan apa yang baru saja dia dengar.


Melihat hal itu, ada niat Melati ingin menjahili Agam.


"Ya sudah aku tarik omongan, Mas Agam nggak mau kan?"


"Kamu serius Mel? kamu mau menerimaku?"


"Ya, aku serius Mas."


"Terimakasih sayang, alhamdulilah aku akan jadi ayah sesungguhnya."


Melati mengerutkan dahi, hingga membuat Agam tertawa, "Iya kan Mel? aku akan jadi ayah. Setidaknya ayah untuk Bayu dan mudah-mudahan menyusul akan jadi ayah seutuhnya," ucapnya sembari menyeringai dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Agam sangat bahagia dan tidak ada keraguan lagi dalam hubungannya dengan Melati.


Dia ingin memeluk Melati tapi akhirnya menarik tangan kembali. Agam sadar jika Melati belum halal untuknya.


Melati tersenyum lalu berkata, "Ayo Mas, sekarang kita tidur. Besok takutnya kita kesiangan, bukankah kita berangkat dengan penerbangan pagi?"


"Iya Mel, apakah bekal kita sudah kamu siapkan?"


"Sudah Mas, hanya tinggal pakaian bayu saja yang belum aku masukkan ke dalam koper."


Keduanya pun bergegas ke kamar, Agam membantu melipat pakaian Bayu yang akan dibawa.


Setelah selesai, keduanya pun berangkat tidur dengan mengapit Bayu yang tidur di tengah.


*


*


Di rumah Resti


Setibanya di rumah, Resti mengamuk, dia membuang semua barang yang ada di atas meja rias. Barang-barang itu pecah berserakan di lantai.


Kamar Resti kini mirip dengan tempat pembuangan sampah.


Helen yang melihat hal itu berteriak, "Apa-apaan kamu Res! Kamu seperti orang gila! Ini semua dibeli dengan uang, jadi hargailah barang milikmu Res!"

__ADS_1


Resti tidak peduli, kini giliran bantal dan guling yang menjadi sasaran kemarahannya.


"Hentikan Res! lihatlah salju beterbangan kemana-mana. Jika kamu ada masalah, cerita ke mama, jangan seperti ini. Percuma, nggak akan ada penyelesaiannya!"


Helen mencoba menenangkan Resti, dia menarik Resti ke dalam pelukannya. Resti terisak, suaranya gemetar saat berkata, "Mas Agam Ma, dia jahat! Mas Agam telah menceraikan ku Ma! hiks...hiks...hiks.


"Itu toh masalahnya, kenapa harus nangis? bagus dong! Bukankah Itu yang kita mau, agar kamu bisa secepatnya menikah dengan Binsar."


"Aku nggak mau bercerai Ma, aku nggak ikhlas Mas Agam menikahi perempuan itu!


Berarti selama ini dia yang telah membuat Mas Agam berubah dan tidak pulang."


"Memangnya siapa perempuan itu Res?"


"Janda anak satu Ma, aku juga tidak kenal dan baru hari ini melihatnya."


"Tadi saat di lampu merah, aku mengikuti mereka. Pokoknya aku nggak ikhlas! Aku akan buat perhitungan. Aku tidak akan membiarkan mereka menikah dan hidup bahagia!"


"Kamu jangan bodoh Res, biarkan saja mereka, yang terpenting sekarang raih masa depanmu dan tidak usah menoleh ke masa lalu."


"Agam suami tidak berguna, ngapain juga kamu pertahankan. Mending Binsar yang bisa memberi kita kenyamanan. Membuat rekening menggemuk. Tidak seperti Agam yang hanya memiliki gaji pas-pasan."


Resti terdiam, dia akui perkataan sang Mama memang benar. Dia akan menerima lamaran Binsar tapi Resti juga ingin membalas perbuatan Agam.


Kemudian Resti pun bangkit, menyambar kunci serta tasnya. Dia akan menemui Binsar untuk memberinya keputusan.


Melihat Resti keluar kamar dengan tergesa, Helen pun berkata, "Res tunggu! Kamu mau kemana?"


"Aku akan menemui Binsar, Mama tidurlah. Suruh Bibi tuk bersihkan kamar ku Ma. Malam ini, aku akan menginap di hotel bersama Binsar."


"Nah gitu, lupakan Agam. Mama setuju, pepet terus Binsar, jika mungkin secepatnya singkirkan perempuan tua itu, agar kamulah yang menjadi ratu di hati dan juga di rumah Binsar."


"Iya, aku pergi dulu Ma."


"Hati-hati ya sayang. Pikiranmu sedang kusut, mama nggak mau kamu celaka."


"Siap Ma."


Resti malajukan mobilnya membelah jalanan, tujuannya kini adalah rumah Binsar.


Sesampainya di sana dia berbicara dengan penjaga utama, bahwa ingin menemui Binsar karena ada urusan penting tentang pekerjaan.


Penjaga pun berlari ke dalam, memberitahu sang majikan. Binsar yang masih ngobrol dengan Laila, mengernyitkan dahi. Dia merasa tidak memiliki janji dengan siapapun.


Namun, saat penjaga mengatakan jika orang yang mencarinya bernama Resti, Binsar pun pura-pura menepuk keningnya.

__ADS_1


"Oh ya aku lupa Ma, malam ini kolega kita yang dari Bali tiba dan aku janji akan menemani mereka bersama Resti."


"Ya sudah, cepatlah bersiap Pa. Kasihan Resti menunggu di luar. Mama temui Resti dulu ya!"


"Iya Ma, papa akan bersiap."


Tanpa curiga sedikitpun, Laila beranjak keluar dan dia melihat Resti sedang di pos jaga.


Laila melambai, dia meminta Resti untuk masuk dan menunggu di dalam.


Resti pun masuk, lalu duduk di hadapan Laila.


"Maaf ya Bu, mengganggu istirahat ibu."


"Nggak apa-apa Res, aku senang kamu selalu sigap dengan tugas-tugas kantor. Tolong bantu Bapak ya Res, untung ada kamu yang selalu mengingatkan beliau."


"Sekarang saya lihat Bapak lebih giat mengurus bisnis, banyak klien-klien dari luar ya Res?"


"Iya Buk. Doa'in ya Bu, kerjasama-kerjasama kami berjalan lancar."


"Oh ya Res, tolong lihatkan sikap Bapak di luaran ya. Tahulah wanita-wanita sekarang, sukanya menggoda suami orang. Pantang lihat yang klimis dan kantong tebal, nggak peduli jika itu suami orang."


"I-iya Bu," jawab Resti gugup.


Untung saja Binsar cepat keluar dan mengajaknya pergi, hingga Laila tidak berkesempatan membahas hal itu lagi.


"Kami pergi dulu ya Ma," pamit Binsar sambil mencium sang istri.


Resti yang melihat Binsar bersikap manis dengan sang istri merasa tidak suka. Lalu dia bangkit dan berkata, "Ayo cepat Pak, kita sudah ditunggu."


"Baik Res."


"Bu, kami berangkat dulu ya."


Setelah pamit, Binsar dan Resti buru-buru pergi dan mereka menuju hotel yang telah Resti booking sebelumnya.


"Sebenarnya ada apa kamu tiba-tiba datang ke rumah tanpa pemberitahuan lebih dulu Res. Aku sampai jantungan, tolong deh jangan seperti itu lagi. Tunggu aku yang akan menghubungimu atau chatt dulu biar kita bisa buat janji."


"Aku suntuk di rumah Pak, lah Bapak enak santai bersama ibu. Aku iri dong Pak, aku kangen Bapak lho," ucap Resti dengan nada manja.


Binsar merasa tersanjung dikangenin, dia tertawa sambil mencapit hidung resti dengan jarinya.


Keduanya bak pasangan muda yang sedang di mabuk cinta, bercanda, bermesraan serta tidak segan untuk saling memberi ciuman.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2