TERJERAT PESONA WANITA MALAM

TERJERAT PESONA WANITA MALAM
BAB 12. KEBERHASILAN RENCANA HELEN


__ADS_3

Agam duluan tiba, karena Chandra masih ada urusan dengan orangtuanya. Tapi Chandra berjanji akan tetap datang meskipun telat.


"Kita di sini dulu ya Mel, temanku telat datang, kamu mau pesan apa?" tanya Agam sembari menunjukkan buku menu kepada Melati.


"Aku minum saja Mas, jus alpukat. Aku masih belum tenang sebelum ibu pastikan anakku baik-baik saja. Aku takut Mas mereka menyiksa Bayu."


"Tenanglah Mel, mereka tidak akan berani. Nih aku sudah transfer apa yang mereka inginkan dan sekarang aku yakin mereka sedang asyik bersenang dan mungkin pergi shopping."


"Kenapa Mas setuju saja, uang 1M nilainya sangat banyak Mas. Aku saja belum pernah melihatnya, meski ada yang berani membayar ku senilai itu asal mau meninggalkan kota ini dan melupakan putraku."


"Aku nggak mungkin melakukannya, Bayu adalah hidupku. Aku lebih baik mati Mas ketimbang harus meninggalkan Bayu di tangan orang-orang seberti ibu mertuaku."


"Ya Mel, aku tahu. Anak segalanya untuk kita, meski aku belum pernah memilikinya."


"Maaf Mas, bukan maksudku mengingatkan Mas akan hal itu."


Agam tersenyum, dia tahu Melati sangat menyayangi anaknya dan dia rela menjalankan profesinya demi keselamatan Bayu.


Saat asyik mengobrol, ponsel Agam berdering, dia lupa mematikan setelah tadi menghubungi Chandra.


Di sana terlihat panggilan dari Resti hingga berulang-ulang. Bahkan panggilan masuk dari nomor Mama Helen.


Agam tidak menghiraukan, bahkan dia merijek panggilan untuk beberapa kali hingga membuat Resti marah.


Resti membanting barang yang ada di kamarnya, dia hari ini sengaja libur untuk menunggu kepulangan Agam. Namun, ternyata Agam tidak memberi kabar maupun berniat pulang.


Mama Helen yang mendengar suara barang pecah di kamar Resti, segera berlari. Beliau merasa penasaran dengan apa yang Resti lakukan.


Ketika pintu terbuka, sang mama diam membeku melihat kamar Resti seperti kapal pecah dan beliau melihat Resti menangis sembari bersimpuh di lantai.


Mama helan mengambil sapu dan serokan, lalu beliau menyingkirkan kaca yang menghalangi jalan.


Setelah itu beliau mendekati Resti dan bertanya, "Apa yang kamu tangiskan Res, Agam? untuk apa, biarkan saja dia tidak pulang, malah membuatmu memiliki alasan untuk segera mendepaknya."


"Hapus air matamu, tersenyum dan lihat siapa yang sedang memanggil. Ponselmu terus saja berdering. Mungkin itu Bos yang ingin menanyakan kenapa hari ini kau tidak masuk kantor."

__ADS_1


"Ternyata benar, beberapa kali panggilan masuk dari sang Bos."


Resti menghapus air matanya, lalu menelepon bos, dia ingin menanyakan kenapa tadi menelepon.


Ternyata Bos sudah ada di depan rumah, dia hendak mengajak Resti menghadiri pertemuan dengan kolega dari Jepang.


Memang karyawan yang menguasai berbagai bahasa di kantornya cuma Resti. Jadi ini kesempatan Bos agar bisa keluar lagi dengan Resti.


Meski malas, Resti pun bangkit, lalu dia meminta tolong Mama Helen untuk meminta Sang Bos masuk, sedangkan dirinya bergegas untuk bersiap.


Helen senang, ternyata orang yang disebutkan tadi, benar datang. Helen berharap Resti akan terhibur dan melupakan Agam yang sudah sangat dia benci.


Sejak Agam pergi, Helen terpaksa mengerjakan semua pekerjaan rumah bersama Resti. Makanan merekapun jadi terancam, karena makanan beli mahal dan jelas mengancam kondisi kantong mereka.


Agam tidak meninggalkan uang, dia sengaja ingin tahu, seberapa dia dibutuhkan di rumah itu. Bukan hanya tenaga tapi juga uangnya.


Resti sudah siap, lalu dia keluar untuk menemui sang Bos. Saat turun, Resti melihat mama serta Pak Bos tertawa sembari mengacungkan kedua jempol. Dia menjadi penasaran, sebenarnya apa yang sedang keduanya bicarakan.


Saat melihat Resti tiba, Pak Bos pun bangkit dan langsung pamit dengan alasan tamunya sudah menunggu sejak tadi.


"Dimana pertemuannya Pak?" tanya Resti saat melihat sang Bos melajukan mobil dengan kencang.


"Di sebuah resort yang ada dipuncak, Res dan tamu kita bermalam di sana, jadi kewajiban kita untuk menemani mereka."


"Kamu tidak keberatan kan, jika kita menginap? kamu izin deh kepada suamimu jika malam ini kita tidak pulang," ucap Pak bos yang pura-pura tidak tahu jika Agam sejak kemaren tidak pulang. Padahal, Mama Helen sudah menceritakan s


tentang pertengkaran antara Resti dengan Agam.


"Hemm, nanti saja Pak. Saat ini Mas Agam pasti sedang sibuk dengan pekerjaannya."


Binsar Raharja, itulah nama Bos Resti, dia sengaja memakai nama Raharja agar orang-orang segan serta tunduk terhadapnya.


Sang mertua pun tidak mempermasalahkan hal itu, selagi putrinya senang, Pak Raharja bisa memberikan apapun.


Mereka pun tiba di puncak, dan seperti yang telah dikatakan oleh Binsar Raharja, para tamu pun sudah menunggu di sana.

__ADS_1


Resti langsung memperkenalkan diri dengan menggunakan bahasa Jepang dan ketiga tamu itupun merasa puas dengan percakapan mereka.


Jamuan makan malam sudah terhidang dan mereka juga menyertakan minuman beralkohol.


Malam ini Binsar Raharja akan membuat Resti mabuk hingga terjerat dan tidak akan bisa lepas darinya lagi.


Sementara Resti sibuk melayani tamu, Binsar pun memasukkan sesuatu ke dalam minuman Resti. Binsar tersenyum, dia yakin rencananya malam ini akan berjalan lancar.


Binsar telah menyiapkan tiga wanita untuk menemani tamu-tamunya, sementara dirinya akan berkesempatan bersama Resti.


Kini ketiga tamu sudah pergi ke kamar masing-masing bersama para wanitanya, sedangkan Binsar masih memperhatikan Resti yang mulai memegangi kepalanya yang terasa sakit.


Resti hendak bangkit tapi dia malah terhuyung dan terjatuh ke dalam pelukan Binsar.


Binsar pun pura-pura menolong dan ingin mengantar Resti ke kamar. Tapi Resti menolak, dia ingin berjalan sendiri ke kamarnya.


Binsar hanya mengikuti Resti dari belakang dan belum sampai di depan pintu kamar, tubuh Resti luruh ke lantai.


Dengan sigap, Binsar pun menopang tubuh Resti, lalu menggendongnya ke dalam kamar.


Resti mulai kehilangan kesadarannya, hingga dia tidak menolak saat Binsar mulai menciumnya.


Binsar tersenyum puas, dia memfoto Resti yang terkulai di atas kasur, lalu mengatur rekaman pada ponselnya.


Malam ini Binsar ingin menikmati kemolekan tubuh Resti dan mengabadikannya lewat rekaman pada ponselnya.


Itu akan Binsar jadikan bukti hingga Agam jijik dan segera menceraikan Resti.


Ternyata ide Binsar disetujui oleh Mama Helen. Beliau tersenyum saat Binsar mengirimkan foto Resti yang yang sudah kehilangan kesadarannya.


Mama Helen berharap, akan memperoleh menantu yang lebih kaya hingga bisa beliau jadikan sebagai pohon uang.


Binsar pun memulai aksinya. Tanpa sadar, Resti menyambut serta membalas setiap perlakuan manis serta romantis dari Binsar.


Malam ini, Binsar dan Resti terlena dalam kubangan lumpur dosa. Mereka sama menikmati indahnya surga dunia.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2