
Binsar sudah kembali ke rumah bersama sang mertua dan dia terkejut saat masuk ke dalam kamar dan melihat Resti ada di sana.
"Ngapain kamu di sini Res? Aku kan bilang, untuk sementara nggak mau diganggu dengan urusan pekerjaan. Aku mau fokus menemani istriku dulu sampai dia benar-benar sembuh. Sebaiknya kamu kembali dan besok masuk kantor, urus semua agenda kerjaku dan kosongkan jadwal untuk beberapa hari kedepan."
"Papa kok begitu sikapnya dengan Resti? Resti datang mau jenguk aku lho, bukan mau membicarakan urusan pekerjaan. Papa nggak perlu marah-marah dengan Resti, harusnya Papa bersyukur memiliki tangan kanan seperti Resti."
"Iya Sar, kamu bukannya nanya baik-baik, malah langsung marah. Bagaimana pegawai mau respek sama kamu, jika sikapmu terhadap mereka seperti ini," timpal Papa mertua Binsar.
"Bukan begitu Pa, aku pusing saja, aku nggak bisa melihat anak Papa sakit. Aku jadi stres dan nggak konsen bekerja."
"Maafkan aku ya Res, aku nggak bermaksud memarahimu."
Resti yang sejak tadi tertunduk pun mengangguk dan berkata, "Iya Pak, saya maklum kok. Saya cuma ingin menjenguk ibu. Kalau begitu saya permisi ya Bu, Pak."
"Iya Res, terimakasih ya sudah repot menjenguk saya dan terimakasih atas buahnya. Oh ya Mas, antar Resti dong keluar barangkali memang ada pekerjaan yang sekalian ingin dia bicarakan."
"Eh iya Sayang. Memang ada pekerjaan yang harus kami bahas. Aku tinggal sebentar ya. Pa, Ma, aku keluar sebentar."
"Iya Sar. Aku bangga kamu bisa jadi pemimpin dan suami yang baik untuk putriku. Terimakasih ya Sar," ucap sang Papa mertua.
Binsar pun mengikuti Resti yang sudah keluar duluan dan sesampainya di teras, Binsar celingukan takut ada pelayan yang mendengar percakapan mereka.
Kemudian setelah aman, Binsar pun menarik lengan Resti dan berkata, "Tolong Res, patuhi dulu omonganku. Kamu harus sabar, aku pasti datang. Aku juga rindu kamu kok, tapi saat ini aku harus fokus dengan kesehatan istriku, apalagi mertuaku sedang ada di sini. Kamu paham dan sabar kan?"
"Tapi, sisihkan waktu dong untuk aku Pak dan jangan lupa, aku butuh uang, tambahin dong saldonya. Bapak kan tahu, Mas Agam sudah menjatuhkan talak, jadi aku tidak akan mendapatkan nafkah lagi dari dia. Kalau gajiku habis buat beli skincare dan perawatan lain."
"Iya aku tahu, besok malam.aku usahakan datang tapi nggak bisa menginap. Mengenai jatah kamu, nanti aku transfer tapi pakai rekening orang lain, aku nggak mau istriku curiga, ada pengeluaran besar dari rekening ku lagi."
"Oke Sayang. Aku tunggu besok malam, pokoknya jangan ingkar lagi ya," ucap Resti, lalu mencium Binsar.
__ADS_1
Binsar ketakutan dan kembali celingukan, lalu diapun meminta Resti agar cepat pergi dari rumahnya, sebelum ada yang curiga.
Resti melambaikan tangan, jeratannya berhasil, pokoknya dia akan terus menguras harta Binsar sebelum dirinya dicampakkan.
Dengan tersenyum, Resti meninggalkan rumah Binsar dan dia akan menyelidiki keberadaan Agam saat ini.
Resti melajukan mobil ke rumah pengasuh Bayu, dia ingin mengorek keterangan dari si mbak pengasuh.
Sesampainya di sana, Resti tidak menemukan siapapun karena si Mbak sedang diajak ke rumah kontrakan Agam dan Melati.
Resti kesal karena sejak tadi menggedor-gedor pintu tapi tidak ada yang keluar, akhirnya diapun bertanya kepada tetangga. Dan tetangga pun memberitahu jika si Mbak pergi dengan tuannya.
"Mbak tahu dimana tempat yang punya rumah ini bekerja?"
"Katanya jauh Mbak di pinggiran kota, dekat SLB gitu kalau nggak salah."
"Oh, terimakasih atas infonya ya Mbak."
Resti tidak akan membiarkan Melati hidup tenang dan dia akan mengacaukan hubungan Melati dengan Agam.
Sekarang Resti sudah tahu asal usul Melati dan dia sudah memikirkan bagaimana caranya menghancurkan hubungan Melati dengan Agam.
Resti bermaksud bekerjasama dengan keluarga mantan mertua Melati. Dia akan menjerat Melati kembali ke tempat pelacuran yang lain, agar Agam membenci dan akhirnya meninggalkan Melati.
Namun saat ini keluarga mantan mertua Melati tidak ada yang tahu kemana Agam membawa Melati, jadi Resti harus mencari tahu sendiri di mana Agam dan Melati saat ini tinggal.
Di pinggiran kota mereka, hanya ada satu SLB jadi setidaknya Resti tidak terlalu sulit untuk mencarinya.
Sesampainya di sekolah tersebut, Resti celingukan, mencari orang yang bisa dia tanyai. Kebetulan ada seorang pedagang sayur keliling yang lewat dan Resti pun menunjukkan foto Agam saat dia bertanya.
__ADS_1
Pedagang sayur tidak mengenali Agam karena pelanggannya kebanyakan emak-emak, sementara Resti tidak memiliki foto Melati.
Resti hanya bisa menggambarkan ciri-ciri Melati, tapi si pedagang sayur tetap tidak bisa mengenali. Pelanggannya banyak yang memiliki ciri-ciri seperti yang disebutkan oleh Resti.
Pedagang sayur memang tidak tahu nama Melati, yang dia kenal hanya Imel dan itupun ada 3 orang dengan nama panggilan yang sama, hanya yang membedakan adalah nama anak mereka masing-masing.
Merasa tidak mendapatkan info yang akurat, Resti pun meninggalkan pedagang sayur, lalu dengan berjalan kaki dia menyusuri jalanan di sana, berharap bisa segera menemukan rumah Melati.
Ternyata Resti beruntung, dia melihat Agam sedang menggendong Bayu dan membukakan pintu mobil untuk Melati.
Sepertinya Agam dan Melati hendak bepergian jauh karena mereka membawa tas pakaian yang cukup besar.
Sementara Mbak pengasuh terlihat melambaikan tangan, dia tidak ikut karena harus menjaga rumah Melati.
Resti mengikuti mobil Agam, dia penasaran kemana sebenarnya Agam akan membawa Melati dan putranya pergi.
Namun, Resti kehilangan jejak saat mobilnya berhenti di sebuah lampu merah. Resti kesal, dia memukul stir mobil dengan kuat.
Resti melanjutkan perjalanan tapi mobil Agam sudah tidak terlihat. Akhirnya dia putuskan untuk kembali ke rumah tadi dan menanyakan kepada Mbak pengasuh Bayu, kemana sebenarnya tujuan Agam serta Melati.
Sesampainya di sana, Resti menggedor pintu dan langsung nyelonong masuk saat pintu dibuka. Dia memaksa si Mbak untuk mengatakannya, tapi Mbak pengasuh tidak mau membuka mulut.
Mbak pengasuh ingat siapa Resti makanya dia tidak mau mengatakan karena takut jika Resti akan kembali menyakiti Melati.
Namun bukan Resti namanya jika tidak bisa bertindak kejam, dia mencekik leher si mbak pengasuh hingga akhirnya Mbak itupun terpaksa jujur jika Agam dan Melati akan ke luar kota menemui orangtua Melati.
Melati akan memperkenalkan Agam kepada keluarganya dan dia ingin meminta restu untuk pernikahan yang akan segera mereka langsungkan.
Namun Mbak pengasuh tidak tahu pasti alamatnya, yang dia tahu hanya nama kotanya saja.
__ADS_1
Hal itu sudah cukup bagi Resti, karena dia bisa menanyakan alamat pastinya kepada mantan mertua Melati.
Bersambung....