
Agam dan Melati sudah tiba di kampung halaman orangtua Melati. Suara mobil yang memasuki halaman rumah membuat orang tua Melati berlari keluar.
Orangtua Melati sangat senang melihat anaknya pulang tapi mereka juga terkejut saat yang dilihat bukanlah si menantu melainkan pria lain.
"Pria itu siapa Mel, kok Bapak dan Ibu tidak kenal? Kamu tidak melakukan hal memalukan bukan? Nggak pantas wanita bersuami pulang membawa pria lain," tegur Bapak.
"Maaf Pak, kenalkan nama saya Agam."
"Pak sebaiknya ajak dulu mereka masuk. Kita ngobrol di dalam, nggak enak dilihatin tetangga."
"Iya Pak, nanti aku ceritain semuanya dan juga siapa Mas Agam ini."
"Ayolah Pak, anak baru pulang bukannya bahagia malah bapak curigai. Ayo Mel bawa tamumu masuk. Sini Nak biar ibu yang mengendong Bayu."
"Dulu terakhir Ibu melihat Bayu saat dia baru lahir, itupun karena Melati lahirannya di sini."
"Berarti Bayu putra Medan ya Bu?"
"Harusnya Nak, tapi Melati tidak pernah pulang, selalu saja beralasan jika suaminya sedang sibuk mengurus bisnis."
"Ibu harus paham dong. Namanya menantu kita pengusaha, mana mungkin sembarangan meninggalkan bisnisnya."
"Halah... Bapak selalu saja membela, masa sih tidak bisa pulang barang beberapa hari saja."
"Itu menantu Pak Baim juga pengusaha hebat, tapi dia berkali-kali pulang untuk menjenguk mertuanya yang sedang sakit."
"Pastilah, karena ada yang sakit, lah kita sehat wal'afiat."
"Ya setidaknya beri izin Melati, masa Melati juga tidak bisa pulang."
"Sudahlah Bu, Pak, yang penting sekarang Imel pulang."
"Maaf Pak, Bu, mungkin nanti Imel akan lebih sering pulang untuk menjenguk Bapak serta Ibu," timpal Agam.
Melati memandang Agam, dan Agam pun mengangguk. Rasanya seperti mimpi, Melati bisa berkumpul kembali dengan keluarganya.
Selama ini harapannya sudah pupus, karena selain dilarang juga karena tidak adanya biaya.
"Oh ya, sekarang kalian jelaskan, siapa Agam dan kenapa menantu membiarkan kamu pulang dengan pria lain yang bukan muhrimmu."
"Sebenarnya, Mas Izal sudah meninggal Pak dan Mas Agam adalah calon ayah sambung Bayu," ucap Melati ragu.
Dia masih takut jika sang Bapak akan melarang hubungannya dengan Agam.
"Apa? kamu jangan mengada-ada Mel, tadi pagi Bapak dapat telepon dari mertuamu jika kamu di suruh cepat kembali karena Izal sakit."
__ADS_1
"Mama telepon Bapak? Kok tumben?"
"Kamu diperhatikan mertua malah bilang tumben, nggak baik seperti itu Mel."
"Dan kamu, kenapa harus ikut putriku kesini. Jangan sampai penduduk sini tahu jika kamu bukan suami Melati bisa gawat. Mau ditaruh di mana muka Bapak."
"Pak, Mama bohong. Mas Izal memang sudah meninggal 3 bulan yang lalu. Jadi aku sekarang janda Pak dan kami kesini ingin meminta restu dari Bapak dan Ibu."
"Kamu serius Mel? Izal sudah meninggal?" tanya Ibu.
"Iya Bu."
"Melati benar Bu. Dia sekarang janda dan saya ingin menikahi Melati."
"Apa kalian bisa menunjukkan jika Izal memang sudah meninggal?"
"Saat ini kami tidak membawa bukti, tapi sebentar saya akan minta tolong teman untuk menghubungi RT setempat biar beliau memberi keterangan dan segera menguruskan akta kematian suami Melati."
"Hemm baiklah. Saya akan tunggu."
"Sebentar ya Pak."
Agampun menelepon Chandra dan dia meminta tolong agar Chandra menemui RT tempat Melati dulu tinggal untuk mendapatkan surat kematian suami Melati.
Chandra minta waktu 3 jam karena saat ini dia sedang rapat.
Bapak yang masih curiga, tidak berbasa-basi, beliau masih belum yakin jika saat ini status Melati adalah janda.
Bayu yang sudah bosan bermain, berlari menarik lengan Agam sambil berkata, "Pa, ayo kita puyang. Ayu au uyang!"
"Sayang, rumah kita jauh dan tidak mungkin pulang sekarang. Bayu main lagi ya, bukankah Bayu bilang pingin ketemu Nenek dan Kakek?"
"Sini sayang nenek gendong, kita lihat ikan ya. Bayu pasti suka dan di sana juga banyak teman Bayu."
"Iya Nek, ikan?"
Kemudian si Nenek pun menggendong Bayu, lalu membawanya ke belakang rumah.
Di sana ada kolam kecil, tempat biasa Bapak memelihara ikan hasil tangkapannya di sungai.
Bayu sangat senang, apalagi saat anak-anak tetangga pada berdatangan. Mereka mengajak Bayu bermain hingga Bayu lupa akan permintaannya.
"Ayo Mel, ajak Nak Agam makan. Mumpung Bayu sedang bermain. Pak, temani dong Nak Agamnya makan!" pinta Ibu.
Dengan sikap dingin, Bapak pun menemani Agam dan Melati makan, sedangkan ibu masih memperhatikan Bayu yang sedang bermain.
__ADS_1
Di sela makan, Bapak menatap Agam, sebenarnya beliau tidak ingin bersikap begitu karena perasaan beliau mengatakan jika Agam pria baik.
Tapi sebagai orangtua beliau harus menasehati Melati agar bisa menjaga martabatnya sebagai wanita terutama sebagai istri.
Saat Melati menambahkan lauk ke piring Agam, Bapak berdehem dan Agam pun berkata, "Aku ambil sendiri Mel, kamu lanjut makan saja."
"Kamu punya istri?" tanya Bapak tiba-tiba.
"Ada Pak, tapi sedang dalam proses perceraian."
"Apakah karena Melati kalian bercerai?"
"Tidak Pak, kami memang sudah tidak cocok saja."
"Hemm, ada anak?"
"Belum Pak, pernah hampir punya, tapi 4 kali keguguran. Istri saya tidak mau mengikuti saran dokter, dia masih kekeh ingin terus bekerja."
"Barangkali semua karena salahmu yang tidak mencukupi kebutuhannya."
"Saya sudah berusaha Pak, tapi apa yang saya lakukan masih kurang baginya."
"Apa saya salah Pak menginginkan seorang anak? Karena rezeki untuk anak pasti sudah dijamin Allah. Jika mengejar harta terus, kapan saya akan bisa merasakan kebahagiaan memiliki anak Pak."
"Harta tidak selalu bisa menjamin orang bahagia, meski saya juga tahu, tanpa harta hidup juga sengsara. Saya mau adanya keseimbangan, tidak terlalu ambisi tapi tetap harus dicari."
Bapak hanya manggut-manggut mendengar perkataan Agam, tapi beliau tetap butuh bukti jika Melati dan Agam sama-sama sudah bebas, tidak memiliki ikatan pernikahan lagi.
Kalau memang nanti terbukti, beliau pasti akan memberikan restunya.
"Oh ya Pak, apakah ibu masih juga menjadi buruh tanam?"
"Nggak Mel, Bapak minta ibu untuk mengurus rumah saja. Sejak kamu melunasi hutang Bapak, alhamdulillah penghasilan cukup untuk memenuhi semua kebutuhan."
Ibu yang mendengar percakapan itupun menyahut, "Ibu di rumah Mel, paling bantu Bapak jika panen sayur."
"Bagaimana jika Bapak dan Ibu ikut kami saja, jika saya dan Melati sudah menikah. Jadi Melati biar ada temannya di rumah saat saya bekerja. Inshaallah penghasilan saya cukup Pak untuk penuhi kebutuhan kita," ajak Agam.
"Terimakasih atas tawarannya Nak. Bapak orangnya tidak bisa berpangku tangan. Badan Bapak akan sakit jika tidak bekerja. Selagi kami masih kuat biarlah kami hidup di sini menjadi petani. Kecuali jika sudah tidak sanggup bekerja, mau tidak mau mengharap ikut serta diurus anak," jawab ibu.
"Iya, Ibu benar. Bapak nggak bisa jika hanya duduk diam."
"Doakan saja kami ya Pak, Buk diberi kemudahan dan kelancaran rezeki, jadi bisa sering menjenguk ibu dan bapak," pinta Melati.
Bapak pun mengangguk, lalu mencuci tangan karena sudah selesai makan. Kemudian beliau meminta Agam untuk menyusulnya nanti ke sawah. Beliau ingin menunjukkan bagaimana kerasnya petani dalam mengais rezeki.
__ADS_1
Bersambung....