
"Mas Agam benar kembali kan? Takutnya nggak boleh keluar lagi oleh Mbak Resti. Mbak Resti pasti kangen dengan Mas Agam yang sudah beberapa hari tidak pulang."
"Bukannya aku menghalangi Mas untuk bertemu Mbak Resti, aku cuma nggak mau, jika masakan ini nanti mubazir."
"Aku pasti pulang sayang, bukankah besok pagi kita akan menjemput Bayu?"
"Oh iya ya Mas. Masalah uangnya bagaimana Mas? Apakah uang Mas Agam sudah cukup?"
"Inshaallah sudah cukup Mel. Kalau kita berniat baik, pasti ada saja jalan keluarnya. Kamu nggak perlu takut. Aku pergi dulu ya, pokoknya jam makan malam aku pasti pulang," ucap Agam sembari meninggalkan ciuman di puncak kepala Melati.
Melati pun melepas kepergian Agam dengan lambaian tangan. Bagaimana pun Melati masih takut jika Agam tidak akan pernah kembali.
Bersama Agam Melati mendapatkan kasih sayang yang tidak pernah dia dapatkan di kehidupan yang lalu-lalu.
Rumah terasa begitu sepi tanpa Agam dan dirinya jadi kurang bersemangat untuk melakukan apapun.
Namun, Melati tetap menyiapkan pekerjaan meski dengan hati yang gundah.
Agam sudah tiba di rumah dan dia mendapati sebuah mobil asing di sana. Lalu dia mengetuk pintu dan keluarlah seorang pria yang seumuran dengannya.
Belum sempat Agam bertanya, Helen muncul dari belakang pria tersebut.
"Heh...masih berani kamu pulang setelah menelantarkan putriku begitu saja!"
"Seharusnya Mama bertanya, kenapa aku bersikap seperti ini! Aku berhak pulang Ma, kapanpun aku mau. Harap mama ingat, rumah ini masih milikku dan sertifikatnya atas namaku!!"
"Kau tidak berhak lagi di sini, ini hak putriku! pergi kau dari sini!"
"Harusnya mama malu, mama yang tidak punya hak di sini dan memasukkan pria tidak di kenal ke dalam rumahku. Jika aku tidak menghargai Mama, bisa saja aku meminta Pak RT untuk mengusir Mama keluar dari sini."
Dul yang merasa takut dengan ancaman Agam segera pamit, dia tidak mau ikut campur dengan urusan antara mertua dan menantu.
Helen berusaha mencegah kepergian Dul, tapi Agam malah mengusir pria tersebut. Helen marah tapi Agam tidak peduli. Agam berhak mengusir karena dia tidak mau jika rumahnya di jadikan tempat mesum oleh sang mertua dan brondong kekasihnya.
Agam masuk ke dalam kamar, dia tidak menemukan Resti ada di rumah. Lalu Agam mengambil berkas-berkas penting yang dia butuhkan dan segera meninggalkan rumahnya kembali.
Helen berteriak-teriak, menyuarakan sumpah serapah, tapi Agam tidak peduli. Saking kesalnya, akhirnya Helen keceplosan dan mengatakan jika Agam pantas untuk ditinggalkan oleh Resti.
Agam tertawa, lalu dia berkata akan senang jika Resti meninggalkan dirinya.
__ADS_1
Dan dia akan menunggu gugatan cerai tersebut jika memang itu yang Resti inginkan.
Bahkan Agam mengirimkan rekaman video saat Resti tidak pulang dan malah pergi menginap dengan Bosnya.
Wajah Helen seketika berubah, berarti selama ini Agam sudah mengetahuinya, kepalang basah Helen pun mengatakan jika seminggu ini Resti sedang bersenang-senang dengan Bosnya itu di puncak.
Agam menanggapinya dengan tersenyum, dia tidak peduli lagi dengan apa yang dilakukan oleh Resti. Karena dia sudah bertekad apapun yang terjadi, bercerai atau tidaknya dia dengan Resti, Agam akan tetap menikahi Melati.
Dia malah bersyukur jika Resti mengajukan gugatan cerai, Agam jadi punya alasan tepat untuk meninggalkan rumah.
Melihat Agam menggeloyor pergi tanpa mengomentari omongannya, Helen semakin marah.
Kemudian, Helen mengejar Agam sembari berteriak, "Dasar suami tidak berguna! Aku bersyukur Resti sudah move on darimu dan sebentar lagi dia akan menjadi Nyonya, menjadi ratu di rumah pengusaha terkenal. Nggak mesti bersusah payah kerja lagi. Hidup denganmu cuma jadi gembel, miskin selamanya!"
"Asal Mama tahu, jika sampai keluarga besar Raharja tahu tentang perselingkuhan Binsar, dia akan ditendang ke jalanan."
"Dan hidupnya akan lebih buruk dari gembel! Harap ingat itu Ma! Jadi, jangan coba-coba Mama menghinaku terus. Sudah cukup apa yang kalian lakukan terhadap ku. Kini biarkan aku hidup tenang, tentang hidup Resti aku tidak peduli!"
"Mau dia selingkuh, mau dia menikah lagi, aku sudah tidak peduli! Tolong sampaikan kepada Resti, aku tunggu surat gugatan cerainya di kantorku!" ucap Agam sembari melangkah pergi.
Kesabaran Agam sudah habis, harga dirinya sudah diinjak-injak dan kini sang mertua juga sudah terang-terangan mengakui jika Resti memang selingkuh.
Tidak ada lagi yang bisa Agam pertahankan dari rumah tangganya. Hal itu semakin membuatnya yakin untuk meninggalkan Resti.
Agam membelikan Melati sebuah cincin yang sangat indah dan dia juga membeli seikat bunga.
Setelah itu diapun bergegas melajukan mobil pulang ke rumah Melati.
Saat mendengar ucapan salam, Melati buru-buru membuka pintu, dia merasa lega saat melihat orang yang dinantinya telah kembali.
Senyum indah terukir di wajahnya, rasa takut Melati ternyata tidak beralasan. Melati mengambil berkas yang ada di tangan Agam, lalu menyimpannya ke dalam kamar.
Sementara Agam kembali ke dalam mobil untuk mengambil bunga yang sengaja dia sembunyikan di sana.
Saat Melati hendak keluar dari kamar, dia terkejut, Agam berdiri di depan pintu sembari mengulurkan seikat bunga mawar import.
Melati mencium bunga tersebut, belum lagi rasa senangnya hilang, lagi-lagi Agam mengulurkan kejutan yang lain sembari berlutut dan membuka kotak cincin yang ada di tangannya.
"Melati, maukah suatu hari nanti kamu menjadi istriku?"
__ADS_1
Senyum Melati mengembang dan wajahnya bersemu merah. Melati mengangguk, dia merasa malu karena Agam tengah memperlakukannya seperti seorang gadis yang sedang dilamar oleh sang kekasih.
Agam memegang tangan Melati, lalu memakai kan cincin di jari manisnya. Dan Agam mencium tangan Melati sembari berkata, "Terimakasih sayang, selama ini kamu telah memberiku dorongan semangat, memberiku harapan untuk meraih kebahagiaan di masa mendatang."
Melati menitikkan air mata, rasanya dia ingin waktu berhenti berputar dan terus merasakan kebahagiaan bersama Agam.
Agam menghapus airmata Melati dan berkata, "Jangan menangis lagi Sayang, tersenyum dan yakinlah kita akan hidup bahagia."
"Mana nih kejutan untuk ku?" tanya Agam sembari berbisik di telinga Melati.
Melati berlari ke dapur, lalu dia mematikan lampu dan tiba-tiba lagu selamat ulang tahun berkumandang dan cahaya lilin menerangi ruangan.
Chandra ternyata ada di sana dan dialah yang memberitahu Melati jika hari ini Agam berulang tahun.
Agam sendiri lupa akan hal itu dan dia menepuk keningnya sendiri, sembari mengucapkan terimakasih kepada Melati dan Chandra.
Sebuah ciuman mendarat di pipi Agam, dia tertegun dan memegangi bekas ciuman tersebut.
Rasa bahagia menelusup ke sanubari, meski hanya acara sederhana tapi hati Agam begitu bahagia.
Chandra mengulurkan sebuah kado, yang isinya adalah tiket liburan selama seminggu untuk bertiga.
"Apa ini Chand? Mana bisa aku liburan, pekerjaan menumpuk."
"Lihat dulu, itu kado dari siapa?"
Agam membuka kartu ucapan dan ternyata kado itu dari Pak Indra.
Sudah paham kan, Pak Indra memberi waktu agar kalian liburan bertiga bersama Bayu.
"Darimana Pak Indra tahu Chand?"
"Kamu meremehkan Pak Indra, yang mata serta telinganya ada di mana-mana."
"Terimakasih Chand, nanti aku akan menelepon beliau."
"Kalau begitu aku pamit dulu ya, selamat bahagia."
"Tunggu, makan dulu Chand, baru pergi."
__ADS_1
Chandra tidak menjawab tapi dia mengangkat sebuah bungkusan, ternyata Melati telah memberikan makanan untuk Chandra.
Melati menggandeng lengan Agam, lalu merekapun menikmati makan malam yang telah Melati sajikan.