TERJERAT PESONA WANITA MALAM

TERJERAT PESONA WANITA MALAM
BAB 22. MENDAPATKAN JALAN KELUAR


__ADS_3

"Gam, kamu dengar perkataan ku. Mereka orang-orang ternama di kota ini."


"Aku tidak peduli siapa mereka Chand, yang terpenting saat ini, aku harus mendapatkan uang untuk membebaskan Melati. Apapun akan aku lakukan demi dia. Melati akan menjadi istriku dan aku tidak mau siapapun menyentuhnya lagi."


"Benar berarti pepatah yang mengatakan jika cinta itu buta, sekarang aku menyaksikannya sendiri, hal itu terjadi padamu. Jadi apa yang akan kamu lakukan sekarang?"


"Mungkin aku akan menjual aset yang tersisa. Kalau yang ada di Resti nggak akan aku ganggu. Aku masih memiliki sebuah rumah peninggalan ibuku dan itu juga akan aku jual."


"Kamu serius Gam? apa kamu tidak sayang menjual yang menjadi kenangan dari ibumu."


"Apa boleh buat Chand, tidak ada cara lain. Sebagian akan aku coba pinjam kepada Pak Indra, bukankah beliau telah mengatakan akan bersedia membantu."


"Ya, beliau mengatakan hal itu. Aku sebenarnya heran Gam, kenapa beliau begitu perhatian terhadap mu. Sepertinya beliau tidak menganggap mu karyawan tapi seperti anak."


"Entahlah Chand, aku juga heran. Sudah banyak sekali pertolongan yang beliau berikan. Aku tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan beliau."


Pak Indra yang melihat Agam serta Chandra keluar lalu bergegas menghampiri mereka dan bertanya, "Bagaimana Gam? Apakah kalian bertemu Melati?"


Agam menggeleng, lalu berkata, "Cuma bertemu mami."


Kemudian Chandra pun menceritakan semua perjanjian yang mereka sepakati dengan mami dan Pak Indra langsung bertanya, "Berapa yang mami inginkan agar dia membebaskan Melati?"


"Belum tahu Pak, nanti dia akan kirim totalnya via chatt. Pastinya sangat banyak, jika melihat daftar orang-orang yang ingin ditemani oleh Melati."


"Ya sudah, jika sudah dia tentukan beritahu saya. Saya akan bayar berapa pun yang dia minta."


Agam dan Chandra merasa tidak percaya dengan yang mereka dengar. Karena merasa tidak enak, Agampun berkata, "Saya ada tabungan, mobil dan juga rumah peninggalan ibu. Aset akan saya jual Pak, kekurangannya saya pinjam ke Bapak. Saya janji akan bekerja keras untuk mencicilnya."


"Nggak usah kamu jual rumah itu Gam, nggak baik menjual peninggalan orang tua. Kamu jangan khawatir, saya akan potong bonus kamu setiap mendapatkan tender untuk mencicilnya."


"Tapi Pak, mau berapa puluh tahun? saya tidak mau menyusahkan Bapak. Saya tetap akan menjual rumah itu, almarhum ibu pasti akan mengerti dengan posisi saya saat ini."


"Kalau begitu biar saya yang membeli rumah itu. Dan kapanpun kamu mau, bisa mengambilnya kembali dari saya."


Chandra menyenggol lengan Agam, dia ikut senang, tapi sekaligus makin heran, sebenarnya Pak Indra ini siapa, hingga beliau begitu perhatian terhadap Agam.

__ADS_1


"Baiklah Pak, saya akan pulang dulu untuk mengambil sertifikatnya, besok pagi saya akan ke kantor untuk menyerahkannya kepada Bapak," ucap Agam.


Di satu sisi Agam senang telah mendapatkan jalan keluar, di sisi lain, dia malas harus bertemu serta berurusan dengan Resti dan juga Helen sang mantan mertua.


"Jadi malam ini juga kamu akan pulang Gam?"


"Ya, karena aku juga masih memegang kunci rumah ku dengan Resti."


"Bagaimana jika Resti tidak mengizinkan kamu mengambil sertifikat itu?"


"Aku akan menuntut pembagian harta gono-gini, karena rata-rata aset masih atas namaku."


"Resti nggak mungkin menghalangi karena dia sendiri yang akan rugi jika aku minta bagian harta gono-gini."


"Oh, baiklah sekarang kita pesan taksi dulu."


"Nggak usah, aku akan antar kalian!" ucap Pak Indra.


"Ayo kita pergi dari sini, kita antar Agam dulu baru saya akan mengantarmu ya Chand?"


Mereka pun meninggalkan rumah mami menuju rumah Agam dan Resti. Hari pun sudah menjelang dinihari saat mereka tiba di rumah kediaman Resti.


Agam mengucapkan terimakasih, lalu diapun bergegas membuka kunci rumahnya.


Untung saja, pintunya tidak dikunci tambahan dari dalam hingga Agam bisa dengan mudah masuk.


Agam melambaikan tangan, lalu menutup pintu dan bergegas menuju kamar.


Dia tidak menemukan Resti ada di sana, tapi Agam mendengar suara ******* berkali-kali dari dalam kamar Helen yang Agam lewati.


Agam marah, lalu dengan kasar mengetuk pintu kamar Helen. Dia tidak rela rumahnya di jadikan tempat mesum dan Agam akan mengusir keduanya keluar dari sana.


Helen dan sang brondong yang sedang bercumbu buru-buru mengenakan pakaian mereka, lalu Helen dengan kesal membuka pintu kamarnya.


Dia sangat kaget saat melihat siapa orang yang berdiri di hadapannya.

__ADS_1


"Keluar kalian dari sini atau aku akan memanggil warga untuk mengarak kalian keliling komplek!" teriak Agam hingga membuat sang brondong ketakutan.


"Kamu tidak berhak mengusirku, ini rumah menjadi hak Resti karena kau telah menceraikan dia!"


"Ya, aku memang akan memberikan rumah ini untuk Resti tapi bukan untuk Anda, apalagi untuk tempat berbuat mesum seperti ini! Keluar sekarang juga!"


Kemudian Agam menarik kerah baju sang berondong, lalu memberikan beberapa pukulan untuk melampiaskan kejengkelannya.


Sang berondong pun kabur diikuti oleh Helen yang sempat marah dan berkata bahwa dia senang jika Resti telah bercerai dengan Agam. Sekarang hidup Resti lebih bahagia dan lebih kaya.


Agam tidak peduli, yang dia pikirkan saat ini adalah membebaskan Melati, menikahinya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih bahagia.


Setelah keduanya pergi, Agam masuk ke dalam kamar, lalu mencari sertifikat rumah peninggalan ibunya.


Setelah mendapatkannya Agampun memasukkan ke dalam tas, agar besok tidak lupa untuk membawanya ke kantor.


Malam ini Agam menginap untuk yang terakhir kali di rumahnya. Dia memandang foto perkawinannya dengan Resti, yang menempel di dinding. Lalu mengelus wajah Resti sembari berkata, "Aku tidak menyangka Res, semua akan berakhir seperti ini."


"Cinta yang dulu mati-matian aku perjuangkan ternyata salah, kau telah menghancurkan semuanya."


"Selamat tinggal Res, kita pilih jalan masing-masing. Semoga kau bahagia dengan pilihanmu dan aku juga bahagia dengan pilihanku."


Kemudian Agam pun merebahkan dirinya di kasur, kini yang terbayang adalah wajah Melati dan juga Bayu.


Agam bahagia bisa kenal Melati dan dia yakin, akan menjadikan Melati tambatan cinta terakhirnya.


Rasa lelah membuat Agam tertidur, lalu dia terbangun ketika suara seruan berkumandang. Seperti biasanya Agam menjalankan kewajiban sebelum bersiap untuk pergi dari sana.


Agam membawa kedua kunci dan dia akan menyerahkan rumah itu kepada Resti dengan syarat, Helen tidak berhak untuk tinggal di sana lagi.


Jika Resti tidak mematuhi hal itu, Agam akan melaporkan ke pihak pemerintahan setempat untuk mengusir Helen yang suka berbuat Zina di rumahnya.


Agam memesan taksi, lalu dia berangkat ke kantor untuk menyerahkan sertifikat rumah ibunya kepada Pak Indra.


Bersambung...

__ADS_1


.


__ADS_2