TERJERAT PESONA WANITA MALAM

TERJERAT PESONA WANITA MALAM
BAB 11. MENANTANG MERTUA MELATI


__ADS_3

Agam mengantarkan Melati pulang, tapi Melati melarang Agam masuk ke halaman rumah sang mertua karena dia takut jika ibu mertuanya melihat, beliau pasti akan mempersulit Agam dengan meminta uang.


Tapi Agam tetap saja ingin mengantar Melati, minimal sampai dia melihat Melati masuk dan diterima kepulangannya dengan baik.


Akhirnya Melati terpaksa setuju, meski dia masih khawatir.


Saat mereka tiba di teras rumah, Melati berkata, "Pulanglah Mas, besok pagi Inshaallah aku ke apartemen untuk memberi jawaban, sekaligus memasakkan sarapan untuk Mas Agam."


"Ya sudah, kamu masuk ya. Jangan lupa angkat telepon ku nanti malam, aku mau kamu temani aku ngobrol hingga mengantuk."


"Iya Mas. Tapi setelah ibu mertuaku tidur ya."


"Oke. Sekarang masuklah, baru aku akan pergi."


Melati pun melambaikan tangan, lalu masuk ke dalam rumah. Saat pintu tertutup dan Agam sudah berbalik hendak pergi, langkahnya seketika terhenti saat mendengar suara keras benda dilempar ke lantai.


Agam berlari ke arah pintu karena dia mendengar suara Melati mengaduh, mengatakan sakit serta memohon agar diberi ampun.


Suara teriakan marah dari seorang wanita serta tangis Melati membuat Agam tidak sabar, lalu menendang pintu sekuatnya.


Agam melihat Melati menangis dan terduduk di lantai sambil memegangi kakinya yang berdarah.


Bu Neni, mertua Melati melemparnya dengan piring karena Melati pulang telat serta tidak membawa makanan dan uang.


"Apa-apaan ini! kasar sekali kamu Nyonya!" seru Agam yang membuat Bu Neni terkejut.


Karena banyaknya pecahan piring serta makanan yang berserakan di lantai, membuat Agam berhati-hati mendekat. Dia menggendong serta mendudukkan Melati di atas sofa.


Setelah itu Agam mengambil saputangannya, mengikatkan ke kaki melati yang masih berdarah.


Bu Neni yang melihat hal itu marah, lalu mendekat dan menarik kerah baju Agam sembari berkata, "Lepaskan Imel, siapa yang memberi izin kamu masuk dan menolongnya hah!"


Agam menepis tangan Bu Neni tanpa menatap, karena dia masih fokus dengan luka pada kaki Melati.


Bu Neni tambah berang, lalu memukul punggung Agam dengan tangkai sapu yang ada di dekatnya.


Agam marah, dia bangkit menarik sapu, lalu mematahkan tangkainya dengan sangat mudah.


Kemudian Agam melemparkan patahan tangkai sapu kesembarang arah hingga membuat Bu Neni terkejut dan semakin kesal.


"Siapa kau! Berani-beraninya ikut campur urusan kami! Pergi kau dari sini!" teriak Bu Neni dengan lantang.

__ADS_1


Suara pertengkaran merekapun membuat anggota keluarga yang lain berdatangan dan membela Bu Neni.


Mereka menyerang Agam dan hendak memukul Melati. Agam menghalangi hingga dia yang terkena pukulan.


Agam tidak mempedulikan dirinya, yang terpenting dia harus melindungi Melati dan membawanya pergi dari rumah itu.


"Berhenti! kurang ajar sekali kalian, saya akan laporkan hal ini ke pihak yang berwajib. Kalian telah melakukan penganiayaan!" teriak Agam.


Mendengar hal itu, mereka semua berhenti menyerang, tapi Bu Neni malah berkata dengan lantang, "Coba saja jika kamu berani!"


"Ibu pikir saya takut," ucap Agam sembari mengambil ponsel.


Melati yang melihat kemarahan Agam pun bangkit, lalu memeluk kaki serta memohon agar Agam mengurungkan niatnya untuk lapor polisi.


"Mas, aku mohon, tolong jangan libatkan polisi. Aku tidak mau mereka menganiaya putraku."


Agam meminta Melati untuk berdiri, dia heran mengapa Melati begitu ketakutan.


"Bangun Mel, mereka tidak bisa kita biarkan. Seenaknya saja menyakitimu. Aku tidak terima dan akan membawa kasus ini ke jalur hukum!"


"Nggak usah Mas, urusannya ribet, anakku masih di sembunyikan oleh mereka dan aku nggak mau jika mereka menyakiti Bayu."


"Hahaha...bagus Mel, jika kau masih ingat keselamatan putramu!"


"Kau mau tahu, kenapa kami bersikap seperti ini!"


"Anakku sekarat gara-gara dia, jika dia setuju membayar hutang ke bandar judi sejak awal, putraku tidak akan sakit dan di aniaya. Mungkin saat ini masih hidup."


"Anda dan kalian lucu sekali, kenapa malah menyalahkan Melati! Putramu yang salah, harusnya kamu malu menjual menantu demi hutang putramu dan biaya hidup kalian!"


"Mas, sudah Mas! Sebaiknya Mas Agam pulang, biar aku yang akan menyelesaikannya."


"Maaf Mel, sekarang masalah ini telah menjadi urusanku. Kamu jangan takut, kedzaliman harus kita lawan."


"Kamu usir dia Mel atau selamanya kau tidak akan pernah bertemu Bayu lagi!"


"Mas, tolong! turuti perkataan ibu. Pergilah Mas!"


Agam tidak mengindahkan permohonan Melati dan kini dia malah menantang mereka.


"Sekarang aku mau tanya, apa yang kalian inginkan dari Melati? Berapa aku harus bayar agar kalian melepaskan Bayu dan juga Melati!"

__ADS_1


"Wow, ternyata kamu hebat juga ya Mel! Baru saja menjanda sudah ada yang mau menjaminmu!"


"Baiklah, karena kau berbaik hati ingin memberiku uang, aku terima. Aku akan bebaskan Melati dan anaknya asal kau memberiku 1M."


"Mengenai hutang-hutang itu tetap tanggungjawabnya. Jadi urusan dengan mami, bukan urusanku!"


"Baiklah, aku setuju. Aku akan transfer seperempat dulu, tapi Melati akan ikut denganku karena aku akan membawanya berobat. Mengenai sisanya, aku akan memberikannya 3 hari lagi, sekalian menjemput putra Melati."


"Tapi ingat, kalian harus menandatangani sebuah perjanjian. Jika kalian sampai menyakiti mereka lagi, aku tidak akan segan menjebloskan kalian ke penjara."


"Oke, tapi jika kamu tidak menepati janji, jangan salahkan jika Bayu terpaksa kami jual kepada pasangan yang membutuhkan anak!"


"Bu, tolong dong jangan sekejam itu, walau bagaimanapun Bayu itu cucu Ibu," ucap Melati yang memohon di hadapan sang mertua.


"Aku tidak menginginkan cucu dari wanita tidak berguna seperti mu!"


Melati menangis, dia tidak menyangka, pengorbanannya selama ini, tidak berharga di mata keluarga suaminya.


Agam memegang tangan Melati, dia ingin memberi kekuatan dan menunjukkan bahwa Melati tidak sendiri lagi dalam menghadapi kekejaman mertuanya.


"Ini nomor ponselku, silakan kirim nomor rekening Anda, setelah membawa Melati ke dokter aku akan mentransfernya," ucap Agam sembari memberikan secarik kertas berisi nomor kontaknya.


"Ayo Mel, biar aku gendong kamu sampai ke mobil."


"Nggak usah Mas, aku jalan pelan-pelan saja."


"Sudah jangan menolak, lihatlah darahnya menetes terus."


Tanpa menunggu jawaban dari Melati, Agam langsung menggendongnya dan membawa masuk ke dalam mobil.


Agam melajukan mobilnya mencari klinik terdekat, dia tidak mau sampai Melati kehilangan banyak darah.


Tidak jauh dari tempat itu, ada klinik kecil yang kebetulan tidak terlalu ramai. Agam pun membelokkan mobilnya ke sana. Dan tidak menunggu lama, luka Melati langsung dibersihkan dan diberi obat.


Agam merasa lega, luka Melati sudah dibungkus perban oleh dokter dan mereka pun langsung menuju tempat di mana Agam janji bertemu dengan Chandra.


Apakah tanggapan Chandra saat melihat Agam datang bersama wanita yang telah dia booking?


Ikuti terus yuk kelanjutannya dan jangan lupa ya tinggalkan jejak kalian. Terimakasih ๐Ÿ™


Bersambung....

__ADS_1


Bersambung.....


.


__ADS_2