TERJERAT PESONA WANITA MALAM

TERJERAT PESONA WANITA MALAM
BAB 25. MENCARI TAHU KEBENARAN ALASAN BINSAR


__ADS_3

"Keterlaluan kau Res!"


"Aku hanya mempertahankan rumah tanggaku Mas. Kamu yang keterlaluan!"


"Rumah tangga yang mana lagi Res, ikatan kita sudah berakhir. Nggak ada yang harus dipertahankan lagi!" bentak Agam sembari melepaskan cengkeraman tangannya.


"Mas, ayolah kembali, aku masih mencintaimu. Kita perbaiki semuanya dan mulai dari awal lagi. Aku janji Mas, akan melaksanakan tugasku sebagai istri dan aku akan berhenti bekerja seperti maumu," rayu Resti yang sedang kesal dengan sang Bos. Dia merasa diabaikan karena si Bos lebih memperhatikan istrinya yang sedang sakit.


"Maaf Res, semuanya sudah terlambat dan aku tidak mungkin lagi kembali denganmu."


"Karena dia kan Mas!"


"Ya! Aku mencintai Melati, Res dan kami akan menikah setelah proses perceraian kita selesai."


"Tidak! pokoknya aku tidak mau bercerai dan aku tidak akan membiarkan kalian menikah Mas! hiks...hiks...hiks...kalian jahat! Aku tidak terima hal ini."


"Terserah kamu Res, aku sudah lelah, aku juga ingin bahagia. Ingin memiliki keturunan seperti yang lain, tapi kamu terlalu egois. Kamu hanya mementingkan dirimu sendiri."


"Ini kunci rumah yang kamu minta dan aku telah ajukan gugatan, tunggu saja suratnya datang. Oh ya, kamu boleh ambil semua, aku tidak akan menuntut hak ku sedikitpun tapi dengan syarat mama Helen tidak boleh tinggal di sana, sebelum beliau menikah. Jika hal itu tidak kalian penuhi, aku akan menuntut hak gono gini. Aku tidak mau rumahku untuk tempat berbuat mesum."


"Kamu sembarangan ngomong, siapa juga yang berbuat mesum! jangan-jangan malah kalian. Apalagi yang kalian lakukan jika sudah tinggal serumah selain berzina! Dasar pelacur ya tetap pelacur!"


Agam sudah tidak sabar menghadapi Resti dan tangannya sudah hampir melayang memberikan tamparan, tapi Melati yang berada di ambang pintu toko berteriak melarang.


"Mas, hentikan! sudah, jangan berdebat lagi di sini, sebaiknya kita segera pergi. Semuan'ya tidak akan selesai dengan cara kekerasan."


Agam menurunkan tangannya, lalu berbalik dan berjalan ke arah Melati.


Resti kembali berkata, "Urusan kita belum selesai hai pelacur! jangan senang dulu, mentang-mentang Mas Agam membelamu!"


"Dia tidak akan pernah jadi milikmu. Mas Agam cuma mencintaiku dan suatu hari nanti, dia pasti akan kembali ke dalam pelukan ku! Ingat itu pelacur!"


Agam geram, dia ingin kembali membungkam mulut Resti tapi Melati menarik lengannya dan mengajaknya masuk untuk menyelesaikan ganti rugi.


Melihat Agam menurut serta pergi mengikuti Melati, Resti pun sangat kesal. Dia menghentakkan kaki, mengomel dengan nada mengancam, sembari masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


Resti melajukan mobilnya menuju rumah, saat ini dia hanya bisa mengalah tapi tidak akan menyerah. Resti akan mengambil kembali Agam dari Melati.


Helen yang sedang menunggu kedatangan Resti menjadi sasaran kemarahan. Resti tidak memperbolehkan Helen masuk sebelum dia memutuskan brondong pacarnya itu.


Resti tidak mau memiliki ayah sambung seorang brondong dan dia tidak akan membiarkan mamanya melakukan hal bodoh yang bisa membuatnya kehilangan sebagian harta seperti ancaman Agam.


Kemudian Resti pun masuk, menutup pintu dan menguncinya tanpa meminta sang mama masuk.


Helen memaki, bersumpah serapah, mengatakan jika Resti anak durhaka.


Karena tidak diizinkan masuk, Helen pun menelepon sang pacar berharap akan dijemput dan diajak menginap di apartemen milik pacarnya itu.


Tapi nyatanya malah Helen diminta untuk mencari penginapan terdekat.


Helen bertambah kesal, lalu diapun melempar pintu dengan batu kerikil yang ada di hadapannya dan pergi meninggalkan rumah Resti dengan menyetop taksi yang kebetulan lewat di kompleks tersebut.


Pengemudi taksi merasa heran karena Helen tidak juga berhenti mengomel meskipun sudah jauh meninggalkan rumah Resti.


"Dasar anak tidak berguna, bisa-bisanya mengusirku hanya karena ancaman menantu kere itu. Kamu akan menyesal Res telah memperlakukan mama mu seperti ini!" omel Helen.


Kelakuan Binsar mulai tercium, makanya dia memutuskan untuk sementara menjauh dari Resti karena takut ketahuan sang istri.


Agam juga telah meninggalkan Resti hingga dia telah kehilangan dua sumber asetnya.


Kini rumah Resti seperti kapal pecah, benda pecah belah hancur berserakan dan dia menangis meratapi nasibnya.


Resti bangkit, membasuh wajahnya dan berkata, "Aku tidak boleh kalah, aku akan mendapatkan Mas Agam atau Binsar kembali. Jika aku tidak bisa mendapatkan salah satunya, wanita-wanita itu juga tidak akan aku biarkan untuk bahagia bersama mereka!"


Kemudian Resti menyambar tas dan kunci mobilnya, dia menuju rumah Binsar.


Resti akan berpura-pura menjenguk istri Binsar sebagai alasan agar dia bisa menemui Binsar kembali yang telah menonaktifkan ponselnya seharian tadi.


Mobil melaju membelah jalan raya menuju ke rumah kediaman istri Binsar.


Seorang pembantu membukakan pintu saat Resti memencet bel. Dan dia langsung melapor kepada sang nyonya jika ada seseorang yang datang menjenguk.

__ADS_1


Pembantu itupun mempersilakan Resti untuk langsung menuju kamar sesuai perintah istri Binsar. Dan ternyata memang benar, istri Binsar sedang sakit.


Tapi saat ini Binsar sedang tidak ada di rumah, menurut keterangan pembantu, Binsar sedang menjemput keluarga mertuanya yang baru tiba dari luar negeri.


Melihat kedatangan Resti, istri Binsar pun mempersilakannya duduk, lalu memegang tangan Resti sembari berkata, "Res, ada yang ingin saya tanyakan, tapi kamu harus jujur, jangan menutupi borok Bapak!"


"Iya Bu, memangnya ada apa Bu dengan Bapak?"


"Begini Res, sepulang dari luar kota kemaren, saya curiga jika Bapak bukannya sedang mengurus bisnis, tapi bersenang-senang dengan selingkuhannya."


"Resti terkejut tapi sebisa mungkin dia menutupi rasa keterkejutan dengan buru-buru berkata, "Siapa yang bilang Bu? Bapak memang sedang mengurus bisnis, saya sendiri ada bersama beliau meski tidak 24 jam."


"Saya menemukan kejanggalan Res, di dalam koper Bapak ada sepasang pakaian dalam dan juga alat pengaman. Nggak mungkin kan jika itu milik kolega Bapak. Makanya sekarang ponsel Bapak, saya yang pegang. Karena saya ingin tahu, siapa perempuan itu."


"Resti baru tahu, ternyata Binsar tidak berbohong. Dan pakaian dalam itu memang miliknya yang tidak sengaja ikut terbawa masuk karena mereka buru-buru saat Binsar mendapatkan telepon jika istrinya pingsan."


Mengenai alat pengaman, memang milik Binsar yang dia beli sebelum mereka berangkat ke luar kota.


Binsar pikir Resti tidak menginginkan hubungan secara langsung, makanya dia membelinya. Ternyata dugaan Binsar salah, jadi benda tersebut tidak terpakai dan Binsar lupa membuangnya.


"Bagaimana Res, siapa wanita itu, kamu jangan takut, aku tidak akan membocorkan jika kamu yang memberitahu. Malah aku akan memberimu imbalan jika kita berhasil memisahkan mereka."


"Nggak ada lho Bu, mungkin Bapak cuma iseng dengan wanita penghibur karena beliau kesepian. Maklumlah Bu, seorang pria berpisah jauh dari istri dalam waktu beberapa minggu, sudah pasti tidak bisa menahan hasratnya."


"Serius kamu Res, Bapak juga mengatakan hal yang sama denganmu. Kalian tidak sekongkol kan?"


"Tidak Bu, mana berani aku membohongi Ibu. Tolong pahami posisi Bapak Bu."


"Baiklah untuk kali ini saya percaya, tapi saya akan lebih waspada. Saya tidak mau kecolongan. Tapi jika Bapak coba-coba berbohong, saya tidak akan segan untuk menarik semua fasilitas hingga Bapak akan kembali menjadi seorang gembel."


Resti terdiam, untuk apa juga dia tetap bersama Binsar, kalau akhirnya akan lebih kere daripada hidup bersama Agam.


Kalaupun nanti dia kembali dengan Binsar, Resti harus bisa menguras kekayaannya lebih dulu, baru pergi meninggalkannya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2