
Setelah mendapatkan info tersebut, Resti bergegas pergi. Dia menelepon mantan mertua Melati sembari melajukan mobilnya.
Setelah mendapatkan alamatnya, Resti pun segera menghubungi travel penerbangan untuk memesan tiket.
Tiket penerbangan ke Medan untuk saat ini sudah habis dan yang ada penerbangan besok pagi. Resti kesal, lalu dengan mengomel diapun kembali melanjutkan perjalanan pulang ke rumahnya.
Besok pagi dia akan menyusul Agam, ke kampung halaman Melati.
Malam ini Resti gelisah, dia harus mencari alasan yang tepat kepada Binsar jika dirinya akan pergi. Dia tidak ingin Binsar marah dan menyetop transferannya.
Resti mengecek akun banknya, belum ada transferan dari Binsar, lalu dia mengirim pesan untuk menanyakan hal itu.
Binsar membalas pesan Resti dan mengatakan, jika besok baru akan dia transfer uangnya. Resti pura-pura merajuk dengan mematikan ponselnya secara sepihak.
Binsar pun merasa tidak tenang, mau tidak mau diapun mentransfer uang tersebut melalui rekening pribadinya, meski dengan resiko, sang istri bakal curiga.
Dia akan beralasan, jika membutuhkan bantuan Resti untuk membeli saham perusahaan lain yang di atas namakan Resti.
Mendengar notifikasi akun banknya berbunyi, Resti pun dengan tersenyum mengeceknya dan dia tertawa saat melihat rekeningnya kembali menggemuk.
"Terimakasih Binsar, kamu memang gampang aku bodohi. Teruslah menjadi pohon uangku sampai kantongmu kering," monolog Resti.
Resti sudah memiliki persiapan dana untuk kebutuhannya selama di Medan. Dan dia berencana baru akan memberitahu Binsar setelah sampai.
Malam ini, Resti bisa tidur nyenyak setelah melihat nilai uang yang ada dalam rekeningnya.
Tapi saat pagi tiba, sebuah telepon masuk mengejutkan Resti. Sang penelepon mengabarkan jika Helen masuk rumah sakit.
Resti bergegas menuju rumah sakit dan yang membuatnya lebih terkejut lagi, tubuh Helen seperti mummi, penuh dengan balutan perban.
"Ma, Mama kenapa? siapa yang tega melukai Mama seperti ini!"
"Semua ini gara-gara kamu!!"
__ADS_1
"Lho kok gara-gara aku?"
"Kamu tidak memberi Mama tempat tinggal dan uang, jadi Mama terpaksa mencuri dan akhirnya seperti ini."
"Ma, ma...kenapa Mama sekarang yang bodoh. Mama yang mengajari aku untuk memanfaatkan laki-laki. Nah sekarang, malah Mama yang dimanfaatkan laki-laki," ucap Resti sambil menggelengkan kepalanya.
"Maksudmu apa? Mama mencuri untuk biaya makan dan mengontrak rumah. Bukan untuk memberi uang kepada laki-laki!"
"Iya aku tahu. Tapi Mama bodoh, untuk apa berondong Mama itu, kalau bisanya cuma memanfaatkan Mama. Seharusnya, dia yang menanggung semua kebutuhan Mama seperti halnya Binsar dan Mas Agam yang menanggung semua kebutuhan ku."
"Mama paham 'kan! Sebaiknya Mama cari gebetan lain, yang bisa menjadikan Mama sebagai ratu bukan sebagai mesin ATM."
"Kamu bisa berkata begitu karena masih muda dan cantik, nah Mama, siapa juga yang mau dengan perempuan peyot dan tidak punya apapun, selain brondong Mama itu. Mama butuh dia untuk menghilangkan pusing di kepala. Kamu yang harusnya paham itu!"
"Dan kamu yang harusnya menjamin kehidupan Mama karena berkat Mama, kamu jadi pintar menguras kantong para lelaki bodoh seperti Binsar."
"Iya, iya deh. Nanti aku transfer. Sekarang Mama harus istirahat biar cepat sembuh. Tapi untuk beberapa hari ke depan aku tidak bisa menjenguk Mama, aku mau terbang ke Medan menyusul Mas Agam."
"Mama jangan pikirkan itu dulu, sebaiknya Mama fokus untuk sembuh. Aku ke Medan ingin memberi pelajaran kepada pelacur itu. Aku tidak mau dia enak-enakan hidup bahagia bersama Mas Agam."
"Melati pelacur dan selamanya akan tetap menjadi pelacur. Aku tidak mau dia mengalahkan ku, menempati posisiku di hati Mas Agam."
"Res, Res...biarkan saja mereka. Manfaatkan waktumu untuk hal yang lebih berguna. Kamu harus bisa menjadi nyonya besar di keluarga kaya, biar mata Agam terbuka dan menyesal telah menceraikan mu!"
"Iya, itu juga akan aku lakukan Ma, tapi aku juga harus membalas sakit hatiku. Mereka tidak boleh bahagia. Hanya aku yang akan bahagia!"
"Terserah lah, yang terpenting sekarang cepat transfer uang untuk Mama dan lunasi semua biaya rumah sakit. Mama nggak bisa keluar dari sini jika kamu lupa membayarnya."
"Iya, Mama tenang saja. Lihat Ma, aku baru dapat transferan dari Binsar. Kita akan segera menjadi orang kaya Ma!"
"Hahaha...pintar. Nah ini baru anak Mama," ucap Helen sambil mengacak rambut Resti.
"Stop Ma! Rambutku jadi kusut. Sekarang cek ponsel Mama aku sudah mentransfer 20 juta.
__ADS_1
"Mama harus hemat, pokoknya itu untuk kebutuhan Mama selama aku di Medan. Jangan Mama berikan kepada brondong itu, ingat itu Ma!"
"Iya, iya...Mama tahu. Kamu tenang saja. Oh ya, sekarang belikan Mama sate Res, masakan rumah sakit nggak enak, nggak level. Mama lapar, sejak siang belum makan apapun."
"Ya sudah, sekarang Mama tiduran dulu, aku mau beli satenya. Awas, jangan telepon berondong itu lagi, nanti Mama kena rayuuannya dan habis uang yang baru aku transfer," ucap Resti.
Helen hanya menjawab dengan mengacungkan tanda oke dengan jarinya dan diapun memejamkan mata, mencoba untuk tidur, sambil menunggu Resti kembali.
Resti keluar rumah sakit, mencari pedagang sate yang biasa sering mangkal di sana.
Dia bertanya kepada security tapi security mengatakan jika pedagang sate hari ini libur.
Resti pun kembali ke parkiran, mengambil mobil dan melajukannya keluar area rumah sakit untuk mencari pedagang sate lain.
Sementara Helen terbangun, saat kakinya terasa ada yang memijat. Dan dia melihat brondong simpanannya, tersenyum sambil mengucapkan kata-kata rayuannya.
Helen terbuai dengan rayuan maut dan janji-janji manis yang ujung-ujungnya dia dengan sukarela mentransfer separuh dari uang yang baru saja Resti berikan.
Brondong itupun tersenyum puas, mencium Helen sembari membisikkan sesuatu yang membuat hati Helen berbunga-bunga.
Dia berjanji akan membawa Helen ke suatu tempat romantis setelah Helen keluar dari rumah sakit.
Uang yang Helen berikan, sebagian untuk membooking tempat tersebut dan sebagian lagi untuk mengurus bisnis yang katanya baru mulai dirintis.
Setelah mendapatkan apa yang dia mau, berondong itupun pergi meninggalkan rumah sakit, karena secepatnya dia harus menghindar dari Resti yang mungkin sebentar lagi akan sampai.
Helen pun takut, jika Resti tahu, dia pasti akan marah dan tidak mau memberinya uang lagi.
Resti pun masuk dan untung saja si brondong sudah meninggalkan ruang rawat Helen.
Helen menarik napas lega, lalu dia berusaha duduk untuk menyantap sate yang Resti bawa.
Bersambung....
__ADS_1