
Pak Indra kemudian mendekati Resti dan menatapnya dengan tajam, "Sekarang kamu tahu kan siapa mantan suamimu? Makanya jangan terlalu sepele dengan suaminya yang diam dan selalu mengalah."
"Aku tahu, selama ini bagaimana perlakuan mu terhadap putraku, makanya aku mendukung saat dia mencari menantu lain untukku."
Resti tidak mau kalah, lalu dia menimpali perkataan mantan ayah mertuanya.
"Hahaha... apakah Anda tidak malu mendapatkan menantu seorang pelacur? Mau ditaruh dimana wajah Anda jika para kolega mengetahui menantu dari Tuan Indra, pemilik perusahaan nomor 1 di kota ini hanya seorang pelacur!"
"Diam mulutmu, aku lebih bangga bermenantukan Melati ketimbang kamu yang memperbudak putraku serta menyelingkuhinya. Kamu lebih dari seorang pelacur."
"Kamu yang tidak pernah menghargai suami serta bermain api dibelakang suami tidak lebih baik dari Melati."
"Melati cuma korban dari mertua seperti wanita itu. Wanita yang tidak pernah menghargai menantu dan memanfaatkan serta menjual menantu demi kemewahannya sendiri!" ucap Pak Indra sembari menuding ke arah mantan mertua Melati.
"Kalian memang cocok dan sama akan mendekam di sel tahanan sampai membusuk!"
Mendengar ancaman tersebut, Resti bergidik ngeri, dia tidak tahu harus berbuat apa untuk bisa keluar dari jeratan hukum.
Sang mama pun tidak datang dalam persidangannya kali ini hingga membuat Resti merasa down dan putus asa.
Agam mendekati Pak Indra, lalu diapun berkata, "Pa, ayo kita duduk. Persidangan akan segera dimulai, percuma juga bicara dengan dia. Hatinya sudah buta dan dia tidak akan pernah menyadari semua kesalahannya."
Pak Indra pun menurut, lalu mengikuti langkah Agam menuju tempat duduk yang telah di siapkan.
Resti yang merasa ketakutan, mengesampingkan rasa malunya. Diapun berlari mengejar Agam, lalu memeluk kakinya sembari memohon agar mengampuninya.
Agam sebenarnya tidak tega karena seburuk apapun sikap Resti, dia pernah menjadi teman hidupnya hampir 7 tahun pernikahan.
Tapi saat memandang Bayu serta Melati, tangannya kembali mengepal. Andai saja Resti laki-laki pasti saat ini sudah Agam hajar hingga babak belur.
Melati mendekati Agam dan dia meminta Agam untuk memaafkan Resti tapi Agam menggeleng, dia harus memberi pelajaran agar Melati tidak semena-mena lagi terhadap orang lain.
Agam melepaskan dekapan Resti pada kakinya, lalu dia mengajak Melati serta Bayu untuk duduk bersama sang Papa.
Persidangan pun di mulai, semua saksi memberikan keterangan yang memang memberatkan untuk keduanya.
Salah satunya adalah pengasuh Bayu.
Keputusan pun dibacakan dan keduanya dijatuhi hukuman yang berbeda.
Mantan mertua Melati dijatuhi hukuman berat karena telah menganiaya Bayu dan pengasuhnya serta pernah menjual Melati sebagai pelacur.
Bukan itu saja, Pak Indra juga menambahkan dengan kejahatannya di masa lalu yang telah memeras uang orangtuanya, yaitu kakek Agam.
Pak Indra ternyata masih menyimpan bukti-bukti tersebut yang dia letakkan dalam lemari arsip di kantornya.
Selama persidangan berlangsung dia meminta sekretaris untuk membawakannya ke ruang sidang.
Sementara Melati dijatuhi hukuman 5 tahun penjara. Menurut Agam itu sudah cukup untuk memberinya pelajaran.
Melati menangis, kini penyesalannya tidak berguna. Agam sudah tidak mempedulikan dirinya lagi. Cinta Agam untuknya pun sudah benar mati.
Saat polisi membawa Melati, Agam hanya bisa menghela nafas dan dia berdoa, semoga Melati akan sadar dan menjadi orang baik selama di dalam sel dan saat bebas nantinya.
Sementara si nenek terus saja berteriak-teriak, memaki Melati dan Pak Indra. Dia tidak terima dan mengancam akan membalasnya nanti.
Kedua mantan ipar Melati juga mencaci bahkan melempar Melati dengan botol air mineral.
Untung saja Agam tanggap hingga dia bisa menghalangi dan akhirnya botol tersebut mengenai lengannya.
Agam mendekati keduanya, menatap tajam lalu berkata, "Jika kalian menyakiti istri dan anakku, jangan salahkan aku jika segera menyusul ibu kalian, mendekam di sel yang sama!"
__ADS_1
Nyali keduanya menciut, lalu mereka buru-buru pergi dari tempat tersebut.
Pak Indra hanya tertawa melihat keduanya lari terbirit-birit karena ancaman putranya, lalu beliau pun mengajak Agam, Melati serta Bayu untuk pulang ke rumah kediaman beliau.
Chandra hari ini tidak bisa hadir karena dia sedang mendampingi papanya menemui klien.
Pak Indra pun meminta Agam untuk tinggal bersamanya dan beliau akan mengadakan resepsi atas pernikahan Agam yang sempat tertunda.
Beliau tidak peduli apa komentar para tamu nanti, yang terpenting baginya adalah kebahagiaan Agam yang mencintai Melati.
Agam dan Melati sebenarnya tidak ingin resepsi besar, mereka hanya ingin syukuran dan berbagi dengan kaum miskin dan anak-anak panti.
Namun Pak Indra sudah mengatur semuanya dan Agampun tidak bisa menolak lagi.
Pak Indra meminta asisten pribadinya agar pergi ke kampung halaman Melati untuk menjemput Bapak dan Ibu.
Beliau ingin di resepsi nanti keluarga Melati turut hadir karena di sana beliau ingin memperbaiki citra Melati yang terlanjur buruk di mata masyarakat.
Pak Indra juga ingin memperkenalkan Agam kepada semua tamu bahwa Agam adalah putranya dan juga pewaris yang akan mengendalikan semua usahanya.
Melati tidak menyangka hidupnya akan berubah sedrastis itu, dari seorang pelacur menjadi Nyonya dari keluarga ternama.
Meski nasibnya sudah berubah tapi Melati tetaplah wanita baik yang selamanya akan menjadi kesayangan Agam.
Kehidupan bahagia pun mereka jalani hingga Agam mendapatkan sebuah kejutan istimewa yang sama sekali tidak dia duga akan secepat itu Agam dapatkan.
Sepulang kantor Melati menunjukkan alat tes kehamilan yang menunjukkan garis dua dan itu berarti mereka akan memberikan adik bagi bayi.
Kabar itu adalah hadiah terindah bagi Agam dan juga Pak Indra. Hal itu akan mereka rayakan sekaligus dengan resepsi pernikahan.
Agam tidak memperbolehkan Melati untuk mengerjakan apapun dan sekarang gantian Agamlah yang melayani semua kebutuhan Melati saat dirinya di rumah.
Orangtua Melati yang sudah tiba pun merasa terkejut, saat melihat kehidupan baru putrinya.
Awalnya mereka menolak tapi karena Agam memohon agar mereka bisa membantu memperhatikan kehamilan Melati, keduanya pun akhirnya setuju.
Melati sangat senang, dia bisa berkumpul lagi dengan kedua orangtuanya.
Pesta pun berlangsung, para tamu penting dan para pengusaha ternama di kota itu semua di undang oleh Pak Indra. Dan benar saja dugaan Melati, mereka mengolok, membicarakannya serta ada yang ingin melecehkan.
Pak Indra yang mengetahui hal itupun segera membawa Melati dan Agam ke aula pesta dan di sana beliau mengatakan semua kebenaran tentang Melati dan Agam.
Dengan lantang beliau berkata, jika dia bangga terhadap sang menantu dan akan melawan siapapun yang masih berkeinginan untuk melecehkan Melati.
Para tamu pun terharu dan mereka meminta maaf. Meski sebagian masih mencibir tapi Pak Indra dan Agam tidak peduli.
Pak Indra pun mengumumkan kebahagiaan lain yang akan segera dia terima yaitu kehadiran cucu penerus keluarganya.
Orangtua Melati awalnya terkejut, malu serta kecewa saat mengetahui jika putrinya pernah menjadi seorang pelacur.
Namun setelah Agam menjelaskan merekapun merasa bersalah kenapa selama ini tidak tahu jika putrinya hidup menderita.
Bapak dan ibu meminta maaf dan mereka merasa turut andil menjadikan Melati pelacur karena keluh kesah mereka yang dulu kesulitan dalam hal keuangan.
Melati Memeluk ibu dan bapak, dia menangis dan minta ampun jika selama ini telah mempermalukan keduanya.
Bapak dan Ibu tidak menyalahkan Melati lagi, mereka hanya menyayangkan kenapa Melati menyimpan rahasia sebesar itu dan memilih hidup menderita hanya demi menyenangkan keluarga.
Pak Indra menengahi dan beliau meminta agar mereka melupakan masa lalu kelam Melati. Sekarang yang terpenting adalah memperbaiki kesalahan dan menata hidup kembali.
Pesta pun berlanjut meriah hingga usai. Para tamu satu persatu pulang dan saat mereka hendak beristirahat, datang security yang memberitahu jika ada seorang wanita tua yang berpakaian compang camping layaknya pengemis memaksa masuk dan ingin menemui Agam.
__ADS_1
Akhirnya Agam pun meminta security untuk membawa wanita itu masuk dan Agampun terkejut saat wanita itu tiba-tiba memeluk kakinya sembari menangis.
Agam meminta wanita itu untuk berdiri dan dia tambah terkejut saat wanita itu menatapnya sembari mengatupkan kedua tangan, meminta maaf atas semua kesalahannya.
"Mama Helen?"
Helen pun menangis dan kembali meminta maaf, dia memohon agar Agam menolong Resti yang saat ini sedang sekarat di rumah sakit.
Ternyata Resti mencoba bunuh diri karena tidak tahan hidup di penjara yang selalu mendapat siksaan dari teman-teman satu selnya.
Agampun iba, lalu dia mengajak Melati dan juga Chandra untuk menjenguk Resti.
Mama Helen pun berterimakasih karena Agam masih mau peduli dengan Resti dan juga dirinya.
Agam meminta Helen untuk melupakan semuanya dan memulai kehidupan yang baru. Dia berjanji akan mengembalikan semua Aset yang selama ini Agam ambil hanya karena ingin memberi pelajaran kepada Resti.
Sesampainya di rumah sakit, Agam masuk ke ruangan Resti dan dia melihat Resti terbaring dengan perban terbalut pada lengannya.
Resti memotong urat nadinya sendiri dengan senjata milik teman satu selnya.
Agam duduk di samping Resti, lalu dia menggenggam tangan yang kini tampak mengecil dan pucat, lalu Agam pun berkata, "Res, kenapa kamu melakukan hal ini. Ingat Res hukum akhirat lebih sakit dari hukum dunia. Bangun dan bertobatlah Res, Allah pasti mengampuni hamba-Nya yang benar ingin bertaubat."
"Aku tahu sebenarnya kamu wanita baik, hanya karena tergiur harta kamu jadi lupa. Bangunlah Res, kasihan mama. Lihatlah bagaimana keadaan beliau sekarang. Beliau mencemaskan mu Res!"
Kelopak mata Resti mulai bergerak, itu menandakan jika dirinya mulai sadar.
Agam dan Bu Helen merasa lega, akhirnya Resti selamat dari kematian.
Resti menangis saat membuka mata dan melihat Agam serta Melati ada di hadapannya. Dia merasa malu karena orang yang telah dia dzolimi ternyata masih mau datang menjenguknya.
Melihat sikap Resti, Agampun berkata, "Sudahlah jangan menangis Res, yang terpenting sekarang kamu harus semangat untuk sembuh. Lupakan semua yang pernah terjadi dan tatalah hidupmu kembali. Masih ada waktu untuk berubah menjadi manusia baik."
Isak tangis pun terdengar dan dengan suara gemetar Resti mengucapkan permintaan maaf kepada Agam dan Melati.
Melatipun ikut menggenggam tangan Resti dan dia mengatakan jika telah memaafkan semua kesalahan Resti.
Resti dan mama Helen pun merasa lega karena kesalahan mereka sudah di maafkan dan merekapun berjanji akan pergi dari kota ini setelah Resti bebas.
Mereka akan kembali ke kampung halaman Helen untuk memulai kehidupan yang baru.
Agam pun berjanji akan mengembalikan aset serta memberikan sejumlah uang untuk bekal hidup Resti serta Helen kedepannya nanti.
Kini mereka sudah berdamai dan Agam pamit karena dia tidak mau sampai Melati kelelahan. Melati saat ini sedang hamil muda jadi kondisinya masih rentan.
Resti memberi selamat dan timbul penyesalan dalam hatinya karena telah menyia-nyiakan suami baik seperti Agam.
Penyesalan memang selalu datangnya terlambat dan itu yang saat ini Resti rasakan. Dia telah kehilangan Agam untuk selamanya.
Dari kisah ini kita bisa sama belajar jika kesabaran itu ada batasnya dan janganlah kita menyia-nyiakan cinta tulus seorang suami, karena banyak perempuan di luaran sana yang mendambakan cinta seperti yang kita miliki.
Penyesalan setelah kehilangan takkan berguna maka kita sama berbenah dan berjuang untuk menggapai ridho serta cinta suami hingga ke Jannah.
π»π»π»π»TAMATπ»π»π»π»
Akhirul kalam, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sampai jumpa dalam kisah di karyaku selanjutnya.
Terimakasih dan semoga dukungan yang kalian berikan berkah untuk ku dunia dan akhirat.
Jangan lupa ya para sobat mampir di karyaku yang lain, ketik Julia Fajar dikolom pencarian dan tinggal pilih mana karya yang kalian suka (Ada 15 karya)π
Selamat malam dan selamat menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan bagi yang seakidah dengan ku.
__ADS_1