
Agam membuka pintu dan dia melihat dua orang bodyguard menggotong seorang wanita yang kedua tangannya diikat dan kedua mata juga ditutup dengan kain serta mulutnya di sumpal. Wanita itu sepertinya sedang pingsan.
"Apa-apaan ini! Kenapa kalian perlakukan wanita seperti ini!" bentak Agam.
"Maaf Tuan, kami akan membawanya masuk dulu."
Kedua bodyguard itupun meletakkan tubuh wanita itu di kursi, setelah itu mereka mengatakan, "Kami terpaksa membekap dan membuatnya pingsan, habisnya dia melawan dan terus mencoba kabur. Kami tidak mau terkena imbas kemarahan Mami."
"Sekarang kami pamit, wanita pesanan Tuan sudah kami antarkan dengan selamat, jadi kami mohon Tuan segera telepon Mami dan katakan jika kami sudah menjalankan tugas dengan baik."
"Oh ya Tuan, harap hati-hati. Wanita ini terlalu liar dan galak, jangan sampai Tuan kewalahan dan dia berhasil kabur lagi. Kami pergi dulu ya Tuan, semoga malam Anda menyenangkan dan puas dengan wanita pilihan Mami."
Kedua bodyguard itupun pergi, sementara Agam masih bingung dengan apa yang mereka maksud. Setelah berpikir sejenak, barulah Agam sadar, mungkin wanita ini yang Chandra minta kepada Shelly tadi, saat di cafe.
Karena penasaran dan iba, Agam membuka ikatan tangan serta sumpalan di mulut wanita itu. Lalu diapun membuka penutup mata.
Agam sangat terkejut, lagi-lagi dia bertemu dengan wanita yang sama. Wanita yang baru dua hari ini dia kenal.
Kemudian Agam berlari ke dapur, dia mengambil segelas air untuk menyadarkan wanita itu. Beberapa kali Agam meraupkan air ke wajahnya dan menepuk-nepuk lembut agar sang wanita cepat sadar.
Usaha Agam berhasil, sang wanita mengerjapkan mata dan mata wanita itu membulat saat melihat wajah tak asing kembali ada di hadapannya.
Dia buru-buru bangun dan bertanya, "Saya ada di mana saat ini Mas? kenapa bisa bertemu Mas lagi? Mana bodyguard-bodyguard yang telah menangkap saya?" tanyanya sembari celingukan.
"Kamu aman di sini, kedua bodyguard itu sudah pergi. Sepertinya kita jodoh, selalu bertemu di saat kamu dapat masalah. Oh ya maaf, kita belum kenalan, namaku Agam, nama kamu siapa?"
"Aku Melati Mas, orang seringkali memanggilku Imel. Terimakasih ya Mas sudah kembali menolongku."
"Sekarang kamu tidak boleh pergi sebelum menceritakan masalah yang sedang kamu hadapi. Kemaren kamu buru-buru pergi karena suamimu meninggal. Tadi karena anakmu sedang sakit dan sekarang malah kamu bersama dua bodyguard."
"Sebenarnya bodyguard itu siapa dan kenapa kamu selalu di kejar-kejar. Dan yang membuatku aneh, penampilanmu sangat berbanding terbalik dengan yang kemaren."
"Rasanya tidak pantas saja bagi janda yang baru sehari di tinggal mati suami, berpakaian seperti ini."
Mendengar perkataan Agam Melati menangis tergugu. Dia belum mampu untuk menceritakan masalahnya kepada Agam.
Agam menghapus air mata Melati, lalu diapun berkata lagi, "Ceritalah, barangkali aku bisa membantu kesulitanmu."
__ADS_1
"Masalah ku sangat banyak Tuan, aku bingung harus mulai dari mana menceritakannya. Hiks...hiks...hiks."
"Berhentilah menangis dan ceritakan saja pelan-pelan, di mana kamu tinggal dan tentang keluarga mu," ucap Agam sembari kembali mengelap air mata di pipi Melati.
"Aku tinggal di rumah mertua yang tidak jauh dari tempat pertama kita bertemu."
"Suamiku terlilit hutang karena judi dan aku harus membayar serta memenuhi semua kebutuhan hidup kami beserta kebutuhan ibu mertua dan juga kedua anak perempuannya."
"Suamiku sudah bertaubat tapi dia terluka parah karena di lukai oleh bandar judi yang menagih hutang secara paksa."
"Ibu mertua selalu menyalahkan aku, beliau mengatakan jika aku tidak becus menjadi seorang istri. Dan beliau mengatakan, aku harus bertanggungjawab atas kejadian yang menimpa putranya."
"Aku bingung harus mendapatkan uang darimana untuk memenuhi kebutuhan hidup, jangankan untuk biaya pengobatan, untuk makan sehari-hari saja aku sudah kelimpungan bekerja kesana-kemari sebagai buruh cuci."
"Sampai suatu hari, sakit suamiku makin parah dan mertua membawanya ke rumah sakit, tapi ternyata biaya yang beliau gunakan hasil minjam kepada mami."
"Ibu ternyata menjualku kepada mami, untuk membayar biaya perobatan serta untuk biaya hidup mereka."
"Aku tidak bisa menolak karena beliau mengancam akan menjual anakku jika aku tidak bekerja dengan mami."
"Lalu tanggapan suamimu bagaimana? Masa iya, kamu yang harus membayar hutang-hutangnya."
"Suamiku koma Mas, jadi dia tidak tahu jika aku dipaksa bekerja dengan Mami."
"Gila mertuamu, masa demi menyelamatkan putranya dan mengisi perut mereka, rela menjual menantunya sendiri."
"Ibu memang tidak pernah menyukaiku sejak awal menikah, beliau mengatakan jika aku istri pembawa sial."
"Dulu suamiku memang seorang pengusaha sukses tapi setelah menikah, usahanya gulung tikar dan suamiku mencari pelampiasan stres ke miras serta judi."
""Anak kamu berapa orang Mel?"
"Satu Mas dan saat ini berusia 5 tahun."
"Jadi, kenapa kamu tidak pergi saja dan tinggal bersama keluargamu?"
"Aku tidak memiliki keluarga Mas, aku berasal dari panti asuhan yang sekarang sudah ditutup oleh pemerintah."
__ADS_1
"Panti di tutup karena pengurus dituduh memperalat anak-anak untuk mengemis. Ada pihak yang memiliki kepentingan sengaja memfitnah ibu panti."
"Miris ya, ulah para mafia tanah."
"Sekarang suamimu sudah meninggal dan kamu tidak berkewajiban untuk mengurus kebutuhan keluarganya. Jadi tinggalkan saja pekerjaan itu dan bawa anakmu pergi dari sana."
"Tidak semudah itu Mas, anakku disembunyikan oleh mertua dan kedua iparku."
"Jika aku berhenti bekerja, mereka akan menyakitinya. Mereka hanya mengizinkanku bertemu dua kali dalam seminggu, itupun dibawah pengawasan."
"Kemaren anakku sakit Mas, makanya aku menolak untuk melayani pelanggan dan memilih kabur. Tapi mami marah, karena kata mami pria itu bukan pelanggan sembarangan dan aku telah mengecewakannya."
"Walaupun pelanggan itu cuma butuh teman ngobrol, tapi karena pikiran ku sedang tidak tenang dan ingin segera menemui anakku. Aku siap menanggung resiko apapun."
"Oh, makanya itu kamu dikejar-kejar oleh bodyguard suruhan mami."
"Iya Mas. Oh ya kalau aku boleh tahu, bagaimana aku bisa sampai disini? Padahal yang aku ingat, kedua bodyguard itu menangkap, mengikat serta menutup mataku, setelah itu aku tidak ingat apapun lagi."
Agam terdiam, saat ini dia tidak mungkin mengatakan jika pria yang membooking Melati adalah Chandra, sahabatnya.
"Mas, kenapa diam? Apa Mas Agam pria yang membooking aku?"
"Eh, bukan Mel. Bukan aku, kebetulan saja aku bertemu bodyguard-bodyguard itu dan menolongmu."
"Oh, jika orang itu memang Mas Agam, aku nggak keberatan menemani Mas ngobrol. Mas orang baik dan aku masih punya hutang terhadap Mas, yang harus ku bayar."
"Nggak perlu, kamu nggak berhutang apapun. Anak kamu bagaimana? Apa masih sakit?"
"Katanya sudah mendingan dan saat VC, aku lihat sudah ceria kembali."
"Oh ya Mas, ngomong-ngomong apakah ini apartemen milik Mas Agam? Dan kenapa sepi, apa keluarga Mas tidak tinggal di sini?"
"Bukan, ini milik temanku. Aku menginap sementara untuk menenangkan diri."
Keduanya pun ngobrol panjang lebar. Agam dan Melati sama-sama merasa nyaman dengan obrolan-obrolan mereka.
Bersambung....
__ADS_1