
Chandra ternyata tidak bisa datang, hingga Agam dan Melati memutuskan untuk pulang ke apartemen.
Mereka malam ini menginap lagi di sana.
Malam ini Agam mendapatkan pertanda, gelas yang ada di tangannya tiba-tiba saja pecah dan dalam tidurnya Agam juga bermimpi, pakaian kesayangannya di curi orang.
Agam duduk merenungi makna mimpinya dan dia tidak tahu jika kesucian istrinya sudah direnggut orang.
Melati pun ikut terbangun, lalu dia bertanya kenapa Agam sepertinya sedang terbeban masalah.
Agam hanya menggeleng, kemudian meminta Melati untuk melanjutkan tidurnya.
Mereka masih saja tidur di sofa, karena Melati tidak ingin sendirian tidur di kamar Chandra.
Keduanya pun akhirnya bermain game dari ponsel Agam karena mata tak jua kunjung terpejam.
Mereka bertaruh, siapa yang kalah akan memasakkan sarapan buat sang lawan.
Agam yang pikirannya tidak fokus tentu saja kalah, lalu diapun menerima hukuman untuk menyiapkan sarapan pagi ini.
Melati tidak menyangka jika Agam sangat terampil dalam hal memasak dan dia melihat cara kerja Agam sangat bersih dan juga rapih.
Makanan sudah terhidang, tapi mereka putuskan untuk beribadah terlebih dahulu.
Setelah selesai, keduanya pun sarapan dan tiba-tiba bel pintu pun berdenting.
Agam yang tahu jika yang datang adalah Candra, segera meminta Melati untuk masuk ke dalam kamar.
Melati menurut, dia tidak mempertanyakan kenapa dirinya mesti bersembunyi.
Sementara Agam ingin membicarakan perihal Melati dan meminta Chandra untuk membantu membebaskan Melati dari jeratan sang mami.
Setelah melihat Melati masuk, Agam menuju pintu dan benar saja Chandra yang datang.
Chandra memeluk Agam, dia meminta maaf karena kemaren tidak bisa hadir disebabkan menemani sang mama yang sedang sakit.
Mata Chandra jelalatan dan dia mendengus, aroma nasi goreng terendus hidungnya.
Agam yang tahu jika sahabatnya juga lapar, langsung mengajaknya ke dapur.
__ADS_1
Chandra merasa heran, kenapa di atas meja terdapat makanan serta minuman yang belum di habiskan, lalu diapun menaik turunkan alis menunggu jawaban dari Agam.
"Kamu duduk dulu Chand, ini makanan untukmu. Sambil menikmati, aku akan ceritakan siapa orang yang menginap dan barusan makan bersama ku."
Chandra yang merasa penasaran, mendesak Agam untuk segera menceritakannya.
Agam pun sebelumnya meminta maaf, dia bukan bermaksud untuk membohongi Chandra tapi waktunya saja yang nggak tepat jika harus membicarakan lewat hape.
"Ada apa sebenarnya Gam, katakanlah, aku tidak akan marah," ucap Chandra sembari memukul bahu sahabatnya.
Agam pun menceritakan tentang Melati, dari pertama kali mereka bertemu hingga dipertemukan kembali dengan situasi yang serba kebetulan dan akhirnya merekapun menginap di apartemen Chandra.
Chandra bukannya marah, tapi malah tertawa terbahak-bahak, hingga membuat Agam merasa heran serta mengernyitkan dahinya.
Dia sama sekali tidak mengerti dengan maksud dari tawa Chandra.
"Takdir Gam, itu takdir!" ucap Chandra yang belum menghentikan tawanya.
"Sekarang kamu sembunyikan di mana Melati? Ayo minta dia keluar!"
"Tapi aku mohon, jangan kau sakiti dia chand, Melati tidak bersalah. Keadaanlah yang membuat dia tidak bisa memenuhi janji pekerjaannya."
"Melati ingin keluar dari pekerjaan itu Chand, tapi tidak mungkin bisa, jika tidak ada yang menolongnya."
Agam pun berdiri dan bergegas naik, memanggil Melati. Lalu dia membawanya turun guna mwnemui Chandra.
Saat melihat Chandra, Melati ketakutan karena dia telah ingkar janji. Melati tidak berani menatap dan dia berdiri di belakang Agam.
"Duduklah Mel, aku susah payah mencari dan menunggu anak buah mami untuk membawamu menemui ku, eh...ternyata kamunya sudah di sini."
"Maafkan aku Tuan. Aku tidak bisa lagi penuhi bookingan. Aku ingin berhenti dan hidup normal kembali, tapi mami pasti tidak akan pernah mengizinkan. Mami pasti akan terus mencari, menangkap bahkan mungkin menyiksa ku."
"Iya, kamu benar. Tapi bukan itu yang ingin aku katakan. Aku sengaja membooking mu untuk menemani sahabatku ini. Dia sedang galau, jadi ku pikir kamulah teman yang cocok untuknya."
"Rupanya takdir telah mempertemukan kalian tanpa campur tanganku."
"Aku senang jika kalian ternyata bisa cocok. Maaf Mel, jika kamu takut dengan ku. Selama ini aku telah menyelidiki latar belakang mu. Aku sudah tahu semua masalahmu. Jadi menurutku yang bisa menolongmu cuma Agam."
"Bagaimana Gam?"
__ADS_1
"Aku akan berusaha Chand, tapi aku tidak bisa melakukannya sendiri. Aku butuh bantuan mu karena yang kita hadapi bukan cuma mami, tapi juga keluarga almarhum suami Melati. Ibu mertua Melati telah menyandera cucunya sendiri."
"Ya, aku tahu Gam, makanya dari awal aku tertarik dengan sisi kehidupannya."
"Saat ini aku sedang mengusahakan agar Bayu bisa kembali ke tangan Melati dan untuk sementara sebaiknya Melati jangan menampakkan diri dulu. Karena mami serta para pengawal, pasti akan terus mencarinya setelah bookingan mu selesai."
"Kamu benar Gam, aku rasa apartemen ini sudah tidak aman lagi untuk Melati bersembunyi."
"Iya. Sekarang juga ikuti aku, kita akan cari tempat lain sebelum orang-orang mami datang dan menemukan kita di sini."
Ketiganya pun bergegas meninggalkan apartemen, Chandra membawa mereka ke sebuah rumah yang terletak di pinggiran kota.
"Ini kuncinya, di sini untuk sementara kalian tinggal. Tapi kalau boleh aku beri saran halalin dulu biar lebih aman."
"Mau nya sih begitu Chand, karena jujur, aku juga sudah tidak tahan."
Wajah Melati memerah karena merasa malu, sedangkan Chandra malah tertawa ngakak. Kejujuran Agam telah menggelitik hatinya.
Sebenarnya Chandra tahu jika kebutuhan batin sahabatnya itu sudah lama tidak terpenuhi.
Dia selama ini mendapatkan perintah dari seseorang untuk mengawasi kehidupan rumah tangga Agam.
"Jadi kapan kalian akan menikah?"
"Masih lama, tunggu masa Iddahnya selesai."
"Oh, tandanya kesabaran mu masih diuji. Sabar ya sobat, hitung-hitung sebagai latihan, biar tahu bagaimana rasanya menduda," ucap Chandra sembari tersenyum di kulum.
"Kalau itu mah sudah tahu, aku sering mengalaminya," ucap Agam sembari menutup mulutnya yang keceplosan.
"Oh ya Gam, nanti kamu cek saja rekeningmu, aku telah mentransfer sejumlah uang. Gunakan itu untuk membantu Melati keluar dari masalah."
"Sekarang aku pamit dulu ya, kalian hati-hati, kalau ada yang mendesak, hubungi aja detektif ini, pasti dia akan segera datang," ucap Chandra sembari memberikan nomor kontak orang tersebut.
"Satu lagi, semoga sukses masa menunggunya ya!" seru Chandra sembari berlalu pergi dari rumah itu."
Dari kejauhan Chandra pun kembali berkata, "Aku akan datang lagi besok, membawa stok bahan makanan. Ingat Gam, usahakan Melati agar jangan sering keluar rumah jika tidak ada kepentingan yang mendesak."
"Terimakasih atas bantuan mu sobat! anggap saja, saat ini aku berhutang dan suatu saat pasti akan aku bayar!"
__ADS_1
Chandra mengacungkan jempol, lalu keduanya pun masuk ke dalam rumah setelah melihat tubuh Chandra hilang dari pandangan.
Bersambung.