
"Pokoknya Mama harus ingat pesanku. Aku nggak mau Mama mengeluh nggak punya uang saat aku di sana nanti."
"Iya...iya. Mama akan berhemat. Tapi kamu jangan lama-lama di sana, Mama kan belum sehat."
"Lihat sikon Ma! Aku mau tidur dulu ya Ma, aku lelah. Besok harus berangkat pagi. Mama juga harus tidur. Oh ya Ma, bangunkan aku jika ada suster atau dokter yang datang. Karena aku ingin minta tolong ke mereka untuk membantu menjaga Mama."
"Hemm, ya sudah. Ini pakai bantal Mama, nanti kepalamu sakit karena tidur di sofa."
"Iya Ma. Aku bawa bantalnya."
Resti pun merebahkan tubuhnya di sofa dan sebentar saja dia sudah terlelap karena seharian mondar-mandir mencari Agam. Sedangkan Helen masih asyik menikmati sate sambil membalas chatt teman-temannya yang mengajak jalan-jalan setelah dia keluar dari rumah sakit.
Helen sebenarnya sudah tidak sabar ingin cepat keluar dan pergi bersenang-senang dengan teman-temannya tapi luka-luka di tubuhnya yang belum kering tidak memungkinkan dokter mengizinkan dia pulang.
Resti yang terbangun tengah malam dan melihat mamanya masih saja asyik dengan hapenya pun berkata, "Tidur Ma! hari sudah mau merangsek pagi!"
"Eh...iya Res, bentar lagi. Tanggung nih, teman-teman mama sedang siaran langsung menunjukkan barang dagangan."
"Terserah Mama deh, aku mau tidur lagi."
Sementara Agam dan Melati yang sudah sampai di Medan memilih menginap di hotel dulu sebelum meneruskan perjalanan ke kampung Melati yang jaraknya masih cukup jauh dari kota.
Mereka tidak mau ambil resiko melakukan perjalanan tengah malam, apalagi kampung Melati terletak di daerah Samosir yang harus menyeberang danau.
Pagi-pagi mereka check-out, lalu meneruskan perjalanan dengan memakai jasa mobil dari hotel yang sengaja Agam booking untuk mengantarkan mereka ke kampung halaman Melati.
Bayu sangat senang, dia duduk di pangkuan Agam sembari tertawa dan menunjuk-nunjuk keluar menanyakan tentang sungai juga hewan ternak yang terlihat olehnya.
Melati pun bahagia melihat kedekatan Bayu dengan Agam, dia berharap Agam akan menjadi sosok ayah baik yang selama ini tidak Bayu dapatkan dari almarhum suaminya.
"Mel, apakah masih jauh lagi?"
__ADS_1
"Masih Mas, ada dua kabupaten lagi yang masih harus kita lewati."
"Pantaslah kamu nggak pernah pulang sejak menikah, jika pulang sendiri juga terlalu beresiko."
"Sebenarnya enggak sih Mas, cuma biaya ongkos yang berat. Bisa untuk makan dan cukup untuk membeli kebutuhan Bayu saja sudah bersyukur, boro-boro memikirkan untuk pulang."
"Sebenarnya penghasilan mu sangat besar, bahkan penghasilan ku saja kalah. Mertuamu terlalu kejam Mel, mengambil hak kalian semena-mena."
"Hahhhh, entahlah Mas. Sudah nasibku. Untung aku bertemu Mas Agam, hingga bisa terbebas dari lumpur dosa itu."
"Sudahlah, sebaiknya kamu lupakan semua kepahitan itu. Sekarang waktunya untuk bahagia. Aku akan membahagiakan kalian, aku janji Mel," ucap Agam sembari menarik Melati ke dalam pelukannya.
Bayu tidak mau kalah, diapun minta dipeluk oleh keduanya.
Sembari memainkan tangan Bayu, Melati pun bertanya, "Keluarga Mas Agam yang lain dimana? Ayah atau adik kakak Mas?"
"Akupun nggak tahu Mel, ayah berpisah dengan ibuku sejak aku kecil. Kata ibu, dulu ayahku terpaksa memenuhi permintaan Kakek untuk menikahi kerabatnya. Jika tidak, beliau akan dibuang dari silsilah keluarga."
"Keluarga ibuku katanya tinggal di Sulawesi, tapi sejak kecil aku tidak pernah mengenal mereka."
"Meski begitu, aku bangga dengan ibu. Ibu wanita hebat, berjuang demi aku hingga aku bisa seperti sekarang ini. Tapi sayang, beliau pergi sebelum aku bisa membahagiakannya, terutama memberinya seorang cucu."
"Jadi Mas Agam tidak pernah mencoba untuk mencari ayah? Apa ibu tidak memberitahu alamat atau minimal nomor kontak beliau?"
"Nggak Mel, ibu nggak mau mengganggu kebahagiaan keluarga ayah. Beliau bilang, jika memang ayah bertanggungjawab terhadap ku, pasti sejak dulu beliau mencariku. Buktinya apa, sampai saat ini beliau tidak peduli."
"Biarlah Mel, semuanya berjalan seperti ini, aku hanya bisa mendoakan, semoga beliau selalu hidup bahagia. Aku tidak mau membencinya, yang hanya akan membuatku menjadi anak durhaka."
"Jika memang sebelum maut menjemput kami dipertemukan, aku hanya ingin meminta, ayah datang ke makam ibu untuk meminta maaf. Cuma itu harapanku Mel."
"Mas sangat berjiwa besar, jika orang lain pasti akan membenci ayah, yang telah mengabaikan Mas serta ibu."
__ADS_1
"Kita juga tidak tahu Mel, apakah kehidupan ayah bahagia atau tidak setelah berpisah dari ibu, jadi aku tidak mau menghakimi beliau."
"Ayah dan ibumu bagaimana Mel, apa mereka pernah datang menjenguk Bayu?"
"Nggak Mas, aku sengaja tidak memberikan alamat kami. Aku tidak mau mereka sedih melihat kehidupan yang aku jalani. Biarlah mereka tetap beranggapan jika aku, almarhum menantu serta besannya adalah orang yang baik."
"Aku malu Mas dan tidak mau nama baik mereka tercoreng di kampung jika tahu anaknya seorang pelacur."
"Mel, aku salut dengan jalan pemikiran mu. Jika aku berada di posisi mu, belum tentu bisa setegar kamu," ucap Agam sembari mengelus rambut Melati.
"Aku juga salut dengan Mas Agam, bisa sabar menghadapi sikap Resti. Resti terlalu bodoh, menyia-nyiakan pria seperti Mas Agam, sementara banyak wanita di luaran seperti ku yang mengharap bisa memiliki suami penyabar serta penyayang."
"Itulah hidup Mel, aku hanya berharap, Resti akan mendapatkan kemewahan seperti yang dia inginkan."
"Kamu tidak menyesal kan Mel, hanya mendapatkan calon suami seperti ku? Karena aku yakin kamu bisa mendapatkan yang lebih bila kamu mau."
"Sama sekali tidak Mas. Aku tidak akan pernah menyesal, aku beruntung mendapatkan Mas, yang rela mengorbankan semua demi menjaga kehormatanku dan melindungi kami."
"Alhamdulillah, terimakasih Mel. Semoga kedepannya kita bisa hidup bahagia seperti yang sama kita impikan."
Agam memeluk keduanya, dia merasa tenteram berada di dekat Melati dan juga Bayu. Agam telah menemukan sosok calon istri, seperti yang dia harapkan dan tidak pernah dia dapatkan dari Resti.
Pak sopir yang mendengarkan percakapan mereka senyum-senyum sendiri. Dia jadi teringat dengan istri tercintanya di rumah yang juga perhatian serta sayang terhadap dirinya.
Mobil terus melaju, melewati kelokan perbukitan, melewati hamparan sawah serta ladang yang berundak-undak dan menampilkan pemandangan yang sangat indah serta adem.
Suasana yang sejuk itu telah membuat Bayu dan Melati mengantuk dan akhirnya mereka tertidur dalam pelukan Agam.
Agam tersenyum, baru kali ini dia merasa memiliki keluarga bahagia meski masih butuh waktu untuk meresmikannya.
Bersambung.....
__ADS_1