
Agam dan Melati seperti sudah kenal lama, mereka bercanda dan sesekali tertawa. Waktu tidak terasa sudah hampir pagi saat keduanya sama-sama menguap dan merasakan kantuk.
"Tidurlah di kamar Mel, biar aku di sofa ini. Masih ada waktu sejenak untuk kita beristirahat sambil menunggu pagi."
"Biar aku di sini saja Mas. Oh ya, boleh aku numpang toilet?"
"Silakan, di dekat dapur ada dan di kamar juga."
Melati pun mengangguk dan berjalan menuju dapur, sedangkan Agam naik ke kamar untuk mengambil selimut.
Saat Agam turun, dia melihat Melati sudah memejamkan mata sembari bersandar di sofa. Melati memang merasa lelah dan tubuhnya sakit semua setelah tadi bekejaran dengan para bodyguard.
Agam memperhatikan Melati, dia merasa iba dengan nasib wanita cantik yang sudah terlelap di hadapannya.
Nafas yang teratur menandakan jika Melati sudah berada di alam mimpi.
Agam meletakkan bantal dan merebahkan kepala Melati di atas bantal.
Saat melihat sembulan seksi pada bagian dada Melati, Agam menelan saliva. Bohong jika dia tidak merasakan desiran aneh seorang pria normal yang menginginkan hal itu. Apalagi sudah lama dia tidak mendapatkan layanan dari sang istri.
Agam membuka jaket, lalu menutupkan ke bagian dada Melati, kini matanya tertuju ke bagian paha dan kaki mulus yang akan dia naikkan ke atas sofa.
Terdengar suara ******* berkali-kali dari mulut Agam yang berusaha menahan hasrat.
Dengan memejamkan mata, Agam mengangkat kedua kaki Melati, lalu dia membukakan sepatu serta menyelimuti wanita itu dengan selimut yang Agam ambil dari kamar Chandra.
Kini Agam bisa lega, godaan itu sudah tidak terlihat. Dia hanya melihat wajah cantik seperti malaikat sedang tertidur pulas dengan kernyitan di dahi.
Sejenak Agam terpaku, dia bertekad ingin melindungi Melati dan menolongnya agar bisa keluar dari jeratan sang mami.
Agam ingin Melati meninggalkan dunia malam dan menjadikannya wanita baik-baik.
Rasa kantuk akhirnya membuat Agam ikut merebahkan diri di sofa depan Melati.
Agam tersenyum, dirinya merasa damai berada di dekat Melati dan diapun tertidur hingga aroma masakan membangunkannya.
Sambil mengucek mata, Agam melihat arlojinya. Ternyata sudah pukul 5 pagi.
Agam bangkit dan saat tidak melihat Melati ada di tempatnya, Agam langsung ke dapur dan dia mencium aroma sedap dari masakan yang sedang Melati masak.
__ADS_1
Melati menoleh, sambil tersenyum diapun mengucapkan selamat pagi.
Agam melihat melati menggunakan jaketnya dan menutup bagian bawahnya dengan kain sarung.
Merasa risih diperhatikan oleh Agam, Melati pun berkata, "Maaf Mas, tadi aku ke atas mencari kain ini agar bisa beribadah seadanya. Aku sudah lama melupakan Tuhan Mas, sejak diriku kotor."
"Dan obrolan kita tadi malam, telah menampar dan mengingatkan ku kembali, untuk bertaubat."
"Aku ingin lepas dari pekerjaan ini Mas dan kembali menjadi wanita baik-baik, meski aku nggak yakin jika mami akan melepaskan ku."
"Soalnya Mami pernah mengatakan, jika aku adalah asetnya yang paling berharga. Banyak pelanggan yang bersedia membayar mahal, meski hanya untuk mengobrol saja denganku."
"Aku akan membantu mewujudkan niatmu. Aku akan melepaskan kamu dari jeratan mami."
"Jangan Mas, biar aku saja. Aku nggak mau sampai mami mencelakai Mas Agam."
"Kamu tenang saja, aku pasti bisa menolongmu. Hemm...kamu masak apa Mel, harum sekali."
"Masak seadanya yang ada di kulkas Mas. Oh ya, Mas sholat dulu gih, baru kita sarapan. Aku sudah lapar, karena kemaren tidak makan gara-gara kejaran para bodyguard mami."
"Kamu kenapa tadi malam tidak bilang Mel, harusnya kita keluar membeli makanan atau pesan makanan via online. Ya sudah aku sholat dulu ya, kamu makan dulu kalau lapar, nanti sakit."
"Nggak Mas, aku menunggu Mas selesai. Lebih enak makan bersama ketimbang makan sendirian."
Agampun bergegas ke kamar Chandra, dia menyambar handuk lalu mandi.
Setelah itu Agam mencari pakaian bersih milik Chandra yang ada di dalam lemari.
Untuk sementara, Agam memakai pakaian Chandra dan selesai sholat nanti dia akan menelepon serta meminta sang sekretaris untuk membelikan pakaiannya dan juga pakaian Melati.
Agam berencana akan tinggal beberapa hari di sini sampai dirinya siap untuk pulang.
Selesai sholat, Agam buru-buru turun, dia kasihan melihat Melati yang sudah kelaparan.
Hidangan sudah tersaji di atas meja dan aromanya begitu menggugah selera.
Melati menarikkan kursi, lalu mengambil piring sembari bertanya, mana makanan yang diinginkan oleh Agam.
Agam hanya boleh menunjuk dan Melati yang mengambil serta meletakkannya ke dalam piring.
__ADS_1
"Terimakasih Mel," ucap Agam saat dia menerima piringnya yang sudah penuh dengan makanan yang Agam inginkan.
Melati mengangguk, lalu mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
Mereka pun makan dengan lahap karena keduanya memang sama-sama lapar. Selain itu, makanan yang Melati masak rasanya sangat lezat dan cocok dengan lidah Agam.
"Tambah lagi Mas," ucap Melati sembari mengacungkan lauk ke arah Agam.
"Sudah Mel, bisa meledak perutku. Baru kali ini aku makan bisa tambah hingga 3 kali. Jika begini terus setiap hari aku bisa obesitas Mel," ucap Agam sembari mengelus perutnya yang sebah karena kekenyangan.
Melati tertawa, dia senang Agam menyukai makanan yang dia masak.
Melihat tawa lepas Melati, yang seakan tanpa beban, membuat Agam senang. Melati terlihat lebih cantik saat tertawa meski tanpa polesan make-up.
Mendapati dirinya di tatap seperti itu oleh Agam, Melati jadi malu dan dia tertunduk sembari membereskan sisa makanan.
Saat Melati hendak mengambil piring kotor di hadapan Agam, tangan mereka bersentuhan karena Agam juga ingin mengambilnya dan ingin membantu Melati mencuci piring.
Keduanya sama-sama terkejut, desir aneh pun menyelusup ke relung hati masing-masing. Melati menarik tangannya dan Agam pun berkata, "Maaf Mel, biar aku saja yang mencuci piring. Kamu kan sudah capek memasak."
"Biar aku saja Mas. Mas Agam nyantai saja, ini tugas saya lho, lagipula cuma sedikit."
"Nggak apa-apa Mel, aku terbiasa kok melakukannya. Nggak enak saja melihatmu bekerja sendiri," ucap Agam yang bangkit dan ikut membantu Melati.
Melati pun nggak bisa menolak lagi dan dia tertegun saat melihat Agam dengan cekatan menyelesaikan pekerjaannya.
Dapur kini telah bersih dan rapi seperti semula dan Melati yang sempat masuk ke kamar, begitu melihat pakaian kotor Agam, langsung mencucinya dengan tangan. Tanggung rasanya jika dia harus menggunakan mesin cuci.
Agam yang sedang menelepon sekretarisnya tidak menyadari jika pakaian kotornya telah dicuci oleh Melati.
Setelah menjemur, Melati pun kembali ke ruang tamu untuk pamit dengan Agam. Melati hendak pulang untuk mencari tahu tentang kabar putranya.
Agam yang melihat Melati datang sudah rapi dan melepaskan jaket, merasa heran. Lalu diapun bertanya, "Kenapa kamu buka jaketnya Mel dan kamu kok sudah pakai sepatu, memangnya mau kemana?"
"Aku mau pulang Mas, mengecek kabar putraku dan sekaligus mau menemui mami. Aku ingin berhenti baik-baik dan mengenai sisa hutang, aku akan mencicilnya nanti setelah mendapatkan pekerjaan lain yang halal."
"Tunggu dulu Mel, sekretaris ku sedang menuju kesini membawakan pakaian untuk kita. Aku tidak mau kamu keluar rumah dengan pakaian seperti itu. Tolong pakai dulu jaketnya sampai sekretaris ku tiba," pinta Agam yang takut khilaf, melihat kemolekan tubuh Melati.
Meskipun Melati seorang ibu tapi keindahan tubuhnya tidak kalah dengan seorang gadis.
__ADS_1
Melati pun menurut dan memakai kembali kain sarung beserta jaket Agam. Dan tanpa sepengetahuan Melati, Agam kembali menelan salivanya dengan susah payah.
Bersambung....