
Di rumah Maggie
Sudah hampir 7 jam yang lalu aku kembali ke rumah, tapi aku masih tidak bisa melupakan tingkah lucunya itu...
7 jam yang lalu di rumah Ray
Maggie menjabat tangan Ray, mereka sepakat untuk memulai sandiwara mereka...
"Baiklah, karena kita sudah sepakat, mulai sekarang kita adalah pasangan kekasih, ingatlah itu, kau jangan sampai melupakannya" ucap Maggie
"Cih, aku tak pernah lupa akan apapun, ya walaupun terkadang aku suka melupakan hal yang tidak berharga" sahut Ray
"Tunggu sebentar, jadi maksudmu aku ini tidak berharga" ucap Maggie
"Itu asumsimu, bukan aku yang mengatakannya"
"Kau!" Maggie ingin memukul Ray tapi dia berhenti "Hufh, sudahlah terserah kau saja, jika kau tidak mengingatnya juga bukan masalah untukku, lagi pula masih banyak pria lain yang mau bekerja sama denganku, ya setidaknya mereka tidak bersikap dingin dan angkuh sepertimu" ucap Maggie sambil mulai pergi
Saat Maggie mulai berjalan menjauh, Ray bangkit dari tempat duduknya dan berlari menghentikannya sambil menarik tangan Maggie...
"Maafkan aku, mulutku terkadang mengatakan sesuatu yang kasar, tapi sebenarnya aku tidak pernah berniat seperti itu, aku hanya tidak tau bagaimana mengungkapkan perasaanku, karena sejak kecil aku hanya di ajarkan untuk memendam segalanya" ucap Ray sambil menundukkan kepalanya
■□■□■□■□■●○●○●○●○■□■□■□■□■
12 tahun yang lalu
Ray kecil sedang berlari di lorong rumah besar itu, dia bermaksud untuk mengejar Ibunya yang berdiri di ujung lorong, tapi sayangnya dia tersandung, dan kaki mungilnya tidak dapat menahan tubuhnya hingga dia pun terjatuh ke lantai...
"Akh!" rintih Ray kecil sambil mulai menjerit kesakitan memanggil Ibunya
__ADS_1
"Ibu, huhuhu, sakit, kaki Re sakit, huhuhu" Ray kecil mulai menangis sambil berharap Ibunya menggendongnya, tapi bukannya di gendong Ray bahkan di marahi oleh Ibunya
"Berhentilah menangis, kau itu seorang pria, kelak kau akan menjadi penerus ayahmu, jadi bersikaplah dewasa mulai sekarang dan jangan pernah memperlihatkan kelemahanmu di hadapan orang lain" ucap Ibu Ray dengan nada tinggi
"I.. ibu" Ray kecil yang sedih hanya bisa melihat bayangan Ibunya yang perlahan menghilang meninggalkan dia sendirian di lorong sunyi itu
■□■□■□■□■●○●○●○●○■□■□■□■□■
Ray masih menundukkan kepalanya, dia tidak sanggup melihat wajah Maggie yang terus-terusan dia sakiti itu, dia benar-benar merasa bersalah pada Maggie...
Maggie yang melihat Ray seperti itu sedikit terkejut, sebab pria dingin yang biasanya berkata kasar saat ini bertingkah seperti anak kecil yang merengek dan itu membuatnya tidak tega...
Maggie menggenggam tangan Ray sambil tersenyum "Baiklah kita berteman saja ya"
Ray terdiam melihat Maggie, entah mengapa dia terpukau melihat senyuman Maggie, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang, wajahnya mulai memerah dan itu tidak bisa di kendalikan olehnya...
Ray perlahan tersadar dan langsung menarik tangannya kembali, dia bahkan tidak sanggup melihat mata Maggie karena malu...
"Ehem, baiklah kalau begitu kita berteman" ucap Ray sambil membalikkan wajahnya
Maggie hanya bisa tersenyum melihat tingkah lucu Ray...
■□■□■□■□■●○●○●○●○■□■□■□■□■
*PRA**NG*
Suara pecahan gelas itu menyadarkan Maggie dari lamunannya, dia segera bergegas berlari keluar kamarnya dan mengecek apa yang terjadi...
"Akh!" rintih Mark
__ADS_1
"Mark apa yang kau lakukan?" tanya Maggie sambil berjalan mendekati Mark
"Kakak maafkan aku, aku tidak sengaja melakukannya" jawab Mark
Maggie mengehela napas dan bermaksud untuk mengambil sapu dan serokan untuk mengambil kaca-kaca yang berserakan itu, tapi saat dia hendak menyapu Mark menghentikannya dan menarik sapu dari tangan Maggie...
"Kakak biar aku saja, lagi pula ini juga karena kesalahanku" ucap Mark sambil mulai menyapu kaca-kaca itu
Maggie yang merasa dirinya tidak di perlu kan bermaksud untuk kembali ke kamarnya, tapi dia berhenti karena melihat noda darah di lantai dan itu membuatnya terkejut, dia langsung menarik sapu dari tangan Mark dan melemparkannya ke lantai...
"Kakak, apa yang kau lakukan?" tanya Mark
"Tangan berdarah dan kau masih bertanya apa yang aku lakukan" jawab Maggie dengan nada tinggi
"Kakak, aku... "
Maggie langsung menarik tangan Mark dan mulai membersihkan sisa darahnya dengan air mengalir...
"Kakak ini hanya luka kecil saja" ucap Mark
"Kau diamlah" Maggie mulai mencari kotak P3K di dapurnya
Maggie mulai mengoleskan betadine dan membalut tangan Mark dengan plester...
"Jika kau menyembunyikan rasa sakitmu sendirian kau akan menyakiti orang terdekatmu, mereka akan merasa tidak berguna, jadi berhentilah bersikap kuat saat kau bersamaku" ucap Maggie sambil mulai berjalan kembali ke kamarnya
"Kakak, kau tidak pernah berubah, sejak dulu hingga sekarang kau selalu melindungiku" batin Mark
Bersambung...
__ADS_1