
10 tahun yang lalu
"Lempari dia" ucap anak 1
Lima orang anak tampak sedang melempari seorang anak yang lebih muda dari mereka dengan sebuah batu, bocah laki-laki itu hanya diam dan mencoba menutupi wajahnya dengan kedua tangannya...
"Hentikan!" teriak Maggie kecil sambil berdiri di hadapan Mark yang tengah terduduk di tanah
"Hey wanita menjauhlah" ucap anak 2
Maggie tidak menghiraukan ucapan mereka dan tetap berdiri di depan Mark sebagai tameng. Kelima anak itu semakin marah dan berusaha melempari mereka berdua...
BUK BUK BUK
"Hehehe rasakan itu, bocah bodoh" ucap anak 1
Mark yang melihat upaya Maggie dalam melindunginnya merasa terharu, tapi dia tidak bisa melakukan apapun untuk membantunya...
"Tenanglah, ini tidak sebanding dengan senyuman mu yang manis itu" ucap Maggie
"Ka.. kakak!" ucap Mark kecil
Kelima anak tersebut masih melempari Maggie dan Mark sampai sesosok baju hitam itu datang dan menangkap tangan salah satu anak itu...
"Kalian cari mati ya" ucap Kevin kecil
"Pa.. pangeran Kevin" ucap anak 1 ketakutan
"Akh!" Kevin mematahkan tangan anak tersebut dengan memuntirnya kebelakang
Keempat anak yang melihat hal itu merasa ketakutan dan berlari menjauhi mereka...
"Pangeran, apa kita harus mengejar keempat anak tersebut" ucap Martin pengawal Kevin
"Buang bocah ini ke kolam buaya milikku, dan untuk sisanya terserah padamu, tapi ingat untuk menyiksa mereka sebelum mereka mati" ucap Kevin
Anak laki-laki 1 itu gemetar mendengar perkataan Kevin dan memohon untuk mengampuninya, tapi Kevin tidak memperdulikannya dan membiarkan Martin membawanya pergi...
__ADS_1
"Kau terluka, ayo kita pulang, Ibu akan mengobati lukamu nanti" ucap Maggie penuh rasa khawatir sambil menarik tangan Mark
Mark melepaskan genggaman tangan Maggie dan bersikap acuh, tapi Maggie adalah wanita yang keras kepala, dia tidak peduli dan tetap menarik Mark...
"Lepaskan aku" teriak Mark kecil
"Diamlah, saat ini penting untuk mengobati luka-lukamu" ucap Maggie
"Adik, kau..." ucap Kevin tapi di potong oleh Maggie
"Kak, aku tau dia lahir dari Ibu yang berbeda dari kita, tapi bukankah kita tetap memiliki hubungan darah dengannya? Bagaimana kau bisa di sebut seorang kakak, jika kau membiarkan adikmu di siksa orang lain seperti ini?" ucap Maggie dan pergi membawa Mark
Kevin hanya bisa terdiam mendengar ucapan Maggie dan melihatnya pergi meninggalkannya...
Di aula istana
Terlihat seorang wanita dengan gaun merah bunga-bunga itu tengah duduk sambil berbincang-bincang dengan beberapa orang...
"Baiklah, apa kalian setuju dengan usulanku?" ucap Ratu Sisilia (Ibu Maggie)
"Yang Mulia, anda seperti biasa, selalu bijaksana dan selalu mementingkan warga kecil" ucap wanita 1
"Hehehe, kalian benar, dia memang wanita yang baik, bahkan dia rela di madu dan saat ini bersedia untuk menjaga anak dari gundiknya" sahut wanita 3
"Hei, dimana sopan santunmu?" ucap wanita 1
"Eh, bukankah apa yang aku katakan itu benar?" ucap wanita 3
Ratu Sisilia hanya bisa terdiam mendengarkan semua itu. Tak lama Maggie datang bersama Mark yang terluka...
Maggie tidak sadar bahwa dirinya sendiripun sebenarnya terluka. Dan saat Ratu Sisilia melihat Maggie dia langsung menariknya dan mendorong Mark hingga terjatuh di lantai...
"Sayang, kau baik-baik saja? Apa yang terjadi padamu?" ucap Ratu Sisilia yang khawatir pada Maggie
"Lihat itu, betapa pedulinya Ratu kita dengan anaknya, hingga dia tega mendorong anak gundiknya yang terluka itu" ucap wanita 4
"Cih, sungguh Ibu yang baik" ucap wanita 3
__ADS_1
"Ada apa ini, apakah Ratu sangat membencinya hingga membiarkan anak tersebut di pukuli orang" ucap wanita 4
"Cih, aku rasa sepertinya ini perang antar istri dan anak yang menjadi korban" ucap wanita 3
Wanita-wanita di sana terus menggosip dan berkata hal-hal yang menjelekkan Ratu Sisilia...
Di saat yang sangat menegangkan itu Raja Devan masuk dan membubarkan semua kerumunan di sana...
"Aku rasa sudah cukup menontonnya" ucap Raja Devan
Semua orang yang berada di sana terkejut dan memberi hormat pada Yang Mulia Raja...
"Sekarang kalian kembalilah dulu, aku memiliki hal penting untuk di bicarakan dengan Ratu" ucap Raja Devan dengan tegas dan membuat semua orang tidak berani menentangnya dan langsung pergi dari sana
"Apa yang terjadi sayang? Kenapa kau bisa terluka seperti ini?" ucap Ratu Sisilia
Maggie tidak terluka terlalu parah, tapi Ibunya tetap mengkhawatirkannya, sementara Mark yang terluka parah hanya di biarkan begitu saja dan itulah yang membuat hati Maggie sangat terluka, betapa bencinya Ibu pada adiknya...
"Saat seorang anak yang mendambakan kasih sayang dari Ibunya, tapi Ibu mereka tidak peduli dengannya dan membiarkannya begitu saja, itu adalah rasa sakit yang amat mendalam Ibu" ucap Maggie
Ratu Sisilia dan Raja Devan terdiam mendengar ucapan Maggie itu, sungguh luar biasa anak umur 6 tahun sudah bisa berkata sebijak itu...
"Aku tau Mark bukan anak kandungmu, tapi saat dia pertama kali membuka matanya yang dia lihat adalah dirimu Ibu, seorang wanita dewasa yang dengan baik hati menerimanya dan mengangkatnya sebagai anaknya, tapi apakah itu cukup Ibu? Bukan hanya nama dan materi yang di perlukan seorang anak Ibu, tapi juga kasih sayang. Kau sendiri yang telah mengajariku untuk selalu bersikap dewasa dan bertanggungjawab, tapi bagaimana denganmu Ibu? Apakah kau sudah memenuhi tanggungjawab mu sebagai seorang Ibu?" ucap Maggie
Perkataan Maggie membuat Ratu Sisilia terpukul, dia tidak bisa berkata apapun, sungguh pilu, seorang wanita yang harus berbagi suami dan kini harus mengurus anak dari musuhnya...
"Mark adalah adikku Ibu dan aku akan selalu melindunginya walaupun Ibu tidak menyukainya" ucap Maggie
Ratu Sisilia kemudian melihat wajah Mark dan luka-luka di sekujur tubuhnya, sungguh apalah salah seorang anak, jika dia bisa memilih mungkin dia tidak ingin lahir dari seorang gundik...
"Hisk...hisk...hisk..." Ratu Sisilia mulai menangis, dia merasa bersalah akan perlakuannya selama ini pada Mark...
Mark berjalan mendekati Ratu Sisilia, dia mulai menghapus air mata yang membasahi pipi merah mudanya itu...
"I.. Ibu Mark akan jadi anak baik, Ibu jangan menangis ya" ucap Mark kecil sambil menghapus air mata Sisilia
Mendengar ucapan Mark membuat Ratu Sisilia semakin bersedih, dia memeluk Mark dengan erat. Seketika suasana duka menyelimuti ruang aula tersebut, rasa bersalah dan sakit menjadi satu. Sejak saat itu tidak ada lagi yang berani mengungkit asal usul Mark, siapapun yang berani mengungkitnya Ratu Sisilia akan langsung menghukum mati orang tersebut...
__ADS_1
Bersambung...