
Di sekolah
Mark berjalan menuju kelas Maggie, karena ada hal penting yang ingin dia sampaikan secara langsung, tapi saat dia berada di depan kelas dan melihat ekspresi malu dan bahagia kakaknya, membuat Mark mengurungkan niatnya dan kembali lagi ke kelas...
Saat Mark sedang berjalan menuju kelasnya, seseorang datang dan menghadang jalannya...
"Apakah Maggie kakakmu?" tanya Jigar sambil mengangkat tangan kirinya untuk menghentikan jalan Mark
Mark terdiam sejenak, tapi saat dia melihat sabuk OSIS di lengan kanan Jigar membuatnya sadar "Jadi kau ketua OSIS? Apa yang kau inginkan?" jawab Mark dengan balik bertanya
"Waktu ku tidak banyak, aku hanya ingin memperingatkanmu dan Maggie" ucap Jigar
"Apa maksudmu?" tanya Mark
"Julio, siswa baru itu, dia sangat berbahaya aku pernah melihatnya membuntuti Maggie saat pulang sekolah dan saat aku bertanya padanya kenapa dia mengikuti Maggie, dia langsung mencekik leherku dan mengancam ku" jawab Jigar
Mark terdiam sejenak, sambil berpikir apakah pria ini bisa di percaya atau tidak, tapi dia ada benarnya, Julio memang pria jahat yang pernah meninggalkan Maggie begitu saja...
"Jika kau tidak percaya itu terserah padamu, yang penting aku sudah menyampaikan apa yang seharusnya aku sampaikan, tapi yang jelas berhati-hatilah" ucap Jigar sambil berjalan meninggalkan Mark
Mendengar peringatan dari Jigar membuat Mark memutuskan menelpon pengawalnya dan menyuruh orang untuk mengawasi gerak-gerik Julio...
Di ujung lorong sekolah
Terlihat seorang siswa berpakaian rapi sedang berdiri sambil menyandarkan sedikit tubuhnya ke dinding...
"Aku sudah melakukan sesuai perintah Willie" ucap Jigar
"Bagus, sekarang lo pergilah" sahut Elzo
"Sekarang waktunya memberikan sinyal pada Willie"batin Elzo
π©Mangsa telah menggigit umpan
DRINGG
"Elzo! " batin Willie sambil melihat pesan di handphonenya
"Hehehe, skenarionya sudah berjalan dengan bagus tinggal menunggu para pemainnya memainkan peran mereka masing-masing" batin Willie
Tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul 5 sore, Buk Cinbi langsung menutup pelajaran hari ini dan memperbolehkan semua siswa-siswi untuk pulang ke rumah masing-masing...
"Baiklah semua, kita pada kan pelajaran kita hari ini sampai di sini" ucap Buk Cinbi
Willie langsung berdiri dan memimpin salam penutup "Class, beri hormat" ucap Willie
"Terima kasih Buk Cinbi" ucap seluruh siswa-siswi itu bersamaan
__ADS_1
Buk Cinbi pun meninggalkan ruang kelas di ikuti dengan siswa-siswi lainnya di belakang...
Semua orang bergegas pulang ke rumah masing-masing, kecuali beberapa orang yang masih duduk sambil membereskan barang-barangnya di meja...
"Tunggu aku, kau pulang dengan siapa?" tanya Ray
"A.. aku pulang dengan Efelin" ucap Maggie
"Ray, kau jangan kabur, bantuin aku membereskan semuanya" sahut Willie
"Aish" ucap Ray kesal
"A.. aku duluan" ucap Maggie
Ray menarik tangan Maggie "Tunggu, berhati-hatilah, ingat chat aku jika kau sudah sampai di rumah dan ini ambillah, Efelin bilang kau sangat menyukainya jadi aku membelinya untukmu" ucap Ray sambil memberikan satu kotak cokelat
"Oh, terimakasih" sahut Maggie sambil menerima cokelat itu
Maggie dan Efelin pun berjalan meninggalkan Ray dan yang lainnya di sana...
"Cie, yang lagi kasmaran" goda Willie sambil menyusun buku-buku tugas mereka
"Diamlah dan cepat selesaikan ini" sahut Ray
TAP TAP TAP
Riko datang sambil berlari ke arah kelas...
"Hufh, Willie lo ikut gue sekarang" ucap Riko sambil mengatur napasnya
"Eh ada apa?" tanya Willie
"Kepala sekolah manggil, katanya sih masalah Selena, ayo buruan" ucap Riko sambil menarik tangan Willie
"Tapi tugasku di sini belum kelar semuanya" sahut Willie
"Udahlah kan ada Ray" ucap Riko
"What? Kalian jangan buat gua jadi babu woy" ucap Ray sambil membanting sebuah buku di atas meja
"Santai bro, ini mendesak tolonglah lo bantu ya" ucap Riko
"Ray, kau cukup beresin buku-bukunya, setelah itu taruh di meja Buk Cinbi" jelas Willie
"Hemz"
__ADS_1
"Bagus thanks Ray" ucap Riko sambil menarik tangan Willie
Willie dan Riko pun akhirnya pergi menuju ruang kepala sekolah, sementara itu Ray masih sibuk membereskan buku-buku tugas itu...
"Aish, merepotkan saja" ucap Ray
Di lorong sekolah
"Aktingmu luar biasa" ucap Willie
"Hahaha, gimana? kerenkan gue" ucap Riko
"Heheh, sekarang tinggal menunggu pertunjukannya di mulai" ucap Willie
"Eh tunggu, menurut gue pertunjukan begini gak ada seru-serunya kali" sahut Riko
"Apa aku pernah memberikan pertunjukan yang tidak menarik?" tanya Willie
"Tidak sih, tapi kalau Ray sampai mati bukakah film ini akan berakhir?" jawab Riko dengan kembali bertanya
"Dasar bodoh, ini masih awalannya saja, film yang sesungguhnya masih belum di mulai, heheh" ucap Willie
Di ruang kelas
"Bahkan Tuhan pun merestui rencanaku" batin Julio sambil mengeluarkan pisau dari dalam tasnya
Julio mulai berjalan mendekati Ray dengan pisau tajam di tangannya, sementara Ray dia tidak memperhatikan arah belakang dan terus menyusun buku-buku itu sesuai urutannya...
Julio langsung berlari ke arah Ray dan menusukkan pisau tajam itu ke tubuh Ray...
******SWOSH******
ΰΌΆβ’βββ§βββββ§βββ’ΰΌΆ
Ok sampai di situ dululah π ntar pasti di sambung lagi sama author, kalau penasaran ayo di vote biar author semangat buat up...
LIKE π
RATE βββββ
FAVORITKAN β€
DAN TINGGALKAN KOMENTAR
XIE XIE
__ADS_1