
Keesokan pagi di sekolah
Maggie terlihat sedang berjalan di Koridor sekolah dengan senang sambil mendengarkan lagu kesukaannya, dia tidak tau bahwa di ujung koridor ada sesuatu yang telah menunggunya...
Semua siswa-siswi itu menatap Maggie dengan tatapan sinis, mereka mulai membicarakannya dan itu sangat mengganggu...
"Ich jadi dia si jalang itu" ucap siswi 1
"Benar, wajahnya sangat cantik tapi sayang malah jadi pelakor" ucap siswi 2
"Lihat dia menatap kemari, ich sungguh menjijikkan" sahut siswi 3
"Cuma modal wajah cantik aja malah ngerebut pacar orang dasar wanita jalang" ucap siswi 4
Karena penasaran Maggie langsung melepas earphone nya dan berjalan ke arah mading sekolah, saat melihat selembaran itu tiba-tiba hati Maggie hancur. "Kenapa ini bisa terjadi? Aku salah apa? Apa dia mempermainkanku?" semua pertanyaan itu terus muncul di kepala Maggie
"Ternyata kita semua tertipu selama ini, dia hanya seorang jalang" ucap siswi 1
"Benar, seorang jalang seharusnya tidak di biarkan tetap bersekolah di sini, sangat mencoreng nama baik sekolah" sahut siswi 2 mulai memanas-manasi
"Kalian tidak boleh begitu, itu kan belum tentu, lagian kami yakin Maggie itu adalah wanita yang baik, sebaik wajahnya" ucap siswa 1 mencoba membela
"Iya itu benar" sahut siswa 2, 3 dan 4 bersamaan
"Cih, kalian para pria telah di tipu dengan wajah cantiknya, kalian seharusnya jadi pria itu bijak jangan mau di bodoh-bodohin sama cewek jalang sepertinya" ucap siswi 3
Para siswa-siswi itu terus berdebat, sementara itu Maggie dia hanya bisa termenung melihat informasi itu...
Willie dan Riko yang memantau dari jauh hanya tersenyum puas melihat betapa suksesnya rencana mereka, tapi Julio dia merasa bersalah saat melihat ekspresi wajah sedih Maggie...
"Kenapa kita harus menyakitinya begitu?" tanya Julio
"Itu di perlukan kawan, untuk memisahkan mereka berdua" ucap Willie
"Tapi aku sangat tidak tega melihat ekspresi wajahnya yang bersedih begitu" ucap Julio
Julio yang tidak tega hendak berjalan ke arah Maggie dan mencoba untuk menenangkannya, tapi Riko menghadang jalannya lalu mendorongnya...
"Apa lo gila?" ucap Riko sambil menghentikan Julio
"Aku tak bisa membiarkannya seperti itu" ucap Julio
"Bodoh, apa lo mau rencana yang di buat Willie menjadi berantakan semua?" tanya Riko
__ADS_1
"Tapi, aku... " jawab Julio tapi di potong oleh Willie
"Tidak masalah pergilah, hibur dia" sahut Willie
"Serius?" tanya Julio yang terkejut
"Iya tentu saja" jawab Willie sambil tersenyum
Julio pun turun dari atas dan mencoba menghibur Maggie yang sedang bersedih di bawah...
"Lo gila? Rencana kita bisa gagal kalau begini" ucap Riko sambil menarik kerah baju Willie
"Dih, santai aja kali, apa menurut mu aku akan melakukan hal bodoh? Tentu saja tidak, pertunjukan yang serunya baru akan di mulai" ucap Willie sambil perlahan melepaskan tangan Riko dari kerah kemejanya
20 menit sebelumnya di rumah Ray
TOK TOK TOK TOK TOK
Ibu Ray menggedor-gedor pintu rumah Ray dengan keras sambil berteriak "Ray, buka pintunya, kita harus bicara" teriak Ibu Ray
Ray mendengar itu tidak memperdulikan nya dan terus menghabiskan sarapannya..
"Ray, jika kau tidak membukanya ibu pastikan wanita itu tidak akan ada lagi di dunia ini" teriak Ibu Ray
"Anak kurang ajar, berani sekali kau diam-diam berkencan di belakang Ibu dengan wanita murahan itu" jawab Ibu Ray
BRUK
Ray memukul kuat pintu rumahnya dan langsung meninggal Ibunya di sana, tapi Ibu Ray tidak menyerah dia langsung menarik tangan Ray...
"Ibu sudah melahirkan dan membesarkanmu Ray, apakah ini balasan mu pada Ibu?" ucap Ibu Ray
"Cih, kau memang telah melahirkanku, tapi apakah pernah kau melakukan tugasmu sebagai seorang ibu? Tidak kau selalu sibuk dengan pekerjaanmu, uang lebih penting dari seorang anak begitukan, Bu" ucap Ray sambil tersenyum sinis
PLAK
Tanpa sadar Ibu Ray menampar Ray dengan kuat, bekas cap merah itu membuat Ray tertawa sinis dan pergi begitu saja tanpa berkata apapun...
"Ray kau tidak bisa pergi begitu saja" teriak Ibu Ray
Ray tidak memperdulikannya dan masuk ke dalam mobil begitu saja menuju sekolah...
Di sekolah
__ADS_1
Maggie yang terkejut melihat kertas-kertas yang di tempel di mading itu hanya bisa terdiam sambil meneteskan air matanya, sementara itu para siswa-siswi lain masih terus membully nya dengan mengata-ngatainnya, bahkan ada yang dengan sengaja melemparkan susu kotak ke bajunya, ada pula yang melemparkan telur, sampai terakhir seorang siswi wanita dengan sengaja mendorongnya ke arah kaca koridor dan itu sangat berbahaya...
Maggie yang sedang bersedih hanya bisa pasrah "Hidupku sungguh sangat menyedihkan" batin Maggie
"Apa aku sudah mati? Kenapa rasanya sangat hangat" ucap Maggie sambil menutup matanya
"Hey sadarlah tuan putri" ucap Ray sambil memeluk Maggie
Untungnya Ray datang tepat waktu dan bisa menghentikan kecelakaan yang menimpa Maggie
"Kau!" Maggie langsung membuka matanya dan betapa terkejutnya dia melihat Ray di sebelahnya, sangkinkan tidak percaya dia bahkan berulang kali mengusap-usap matanya
"Lihat dirimu, kau sangat jelek seperti itu" ucap Ray sambil mengusap air mata Maggie
"Kau dari mana saja? Aku kira kau, huhuhu" ucap Maggie sambil mulai menangis
"Tenanglah tuan putriku, bukankah aku telah mengatakannya padamu, bahwa kebahagiaan mu adalah kewajibanku dan senyumanmu adalah hadiah terindah dalam hidupku, jadi aku tak akan pernah meninggalkanmu" ucap Ray sambil mengelus lembut rambut panjang Maggie
Melihat Ray di sampingnya membuat Maggie berhenti menangis dan mulai tersenyum kembali...
"Brengsek, kalian memperlakukan pacarku seperti ini mau cari mati" ucap Ray dengan marah
Siswa-siswi yang tadinya membully Maggie kini terdiam ketakutan melihat Ray...
"Siapa yang menempelkan selembaran bodoh ini? Katakan padaku" ucap Ray dengan nada tinggi
"Ka.. kami tidak tau apa-apa Ray, sesampainya di sekolah kami sudah menemukannya menempel di mading" jelas siswi 1
"Terus, siapa yang menyuruhmu untuk dengan berani menyentuhnya?" tanya Ray
"Aku, aku hanya ikut-ikutan saja dengan mereka" jawab siswi 1 sambil menunjuk teman yang lain tapi mereka perlahan menjauhinya
"Kau punya otak itu di pakai, jika satu helai rambutnya saja sampai putus aku pastikan kau, kalian semua tidak akan bisa membuka mata lagi" ucap Ray
Siswi 1 yang ketakutan terduduk lemas di lantai, sementara siswa-siswi lainnya memilih pergi meninggalkan mereka...
Julio yang datang terlambat dan menyaksikan semua itu semakin geram dan kesal, dia merasa Ray terus-terusan merebut Maggienya...
"Aku pasti akan membuatmu menderita" ucap Julio sambil mengepalkan tangannya
Willie dan Riko yang melihat itu hanya tertawa "Semakin kau kehilangannya maka rasa balas dendammu akan semakin kuat" ucap Willie
"Kau sungguh sutradara yang hebat" sahut Riko
__ADS_1
Bersambung...