Ternyata Dia Adalah Bossku

Ternyata Dia Adalah Bossku
Bab 21 - Sendirian


__ADS_3

"Ja-jangan dulu, pokoknya aku belum mau kalau_"


"Kalau apa?" potong Alden dengan cepat, satu tangannya pun meremas bokong sang istri dengan gemas. Tubuh Gina baginya adalah miliknya juga.


"Kalau ingatan kamu belum kembali," jawab Gina lirih.


Sebuah ucapan yang akhirnya pun membuat Alden terdiam, karena baginya hal itu seperti mustahil. Setelah hari berlalu cukup lama, nyatanya sekalipun dia tidak pernah mendapatkan kepingan keuangannya yang hilang.


Meski berulang kali mencoba, tetap Gina yang dia ingat, tidak ada yang lain.


"Itu artinya selamanya kamu akan menolak ku."


"Tidak, aku akan membantu mu mengingat semua kenangan. Setelah itu putuskan mau bagaimana tentang kita." putus Gina, sambil menunggu Alden benar-benar pulih dari semua rasa sakitnya, dia pun akan coba untuk membantu Alden mengingat siapa dia yang sebenarnya, seorang tuan muda dari keluarga Harwell.


"Bagaimana caranya?" tanya Alden pula.


"Lepaskan aku dulu, malam ini aku akan memasakkan makanan kesukaan mu," terang Gina dengan bibir yang mulai tersenyum lebar, tak sabar rasanya untuk membuat Alden sadar. Sampai ingat jika nama sebenarnya adalah Zidane.


Ini semua sudah seperti tujuan baru bagi Gina.


Alden menurut, dia pun ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh sang istri.

__ADS_1


Sore itu juga Gina dengan segera berkutat di dapur untuk menyiapkan makanan makan malam. Memasak masakan kesukaan Alden, informasi tentang hal itu dapat dia temukan dengan mudah di internet. Profil Zidane Harwell sudah banyak dimuat oleh beberapa blog.


Gina mengolah daging yang dia beli jadi steak. Ada juga salad sebagai sayurannya.


Cukup lama sibuk sendiri dan akhirnya dia menyajikan itu semua di meja makan.


Alden yang melihat keahlian yang istri memasak pun sampai dibuatnya kagum.


"Ini terlihat enak sayang," ucap Alden, sudah dimasakan seistimewa ini membuatnya otomatis memanggil sang istri dengan sebutan sayang.


dan mendengar panggilan itu membuat Gina pun jadi tersenyum. Lalu memukul tangan Alden yang hendak mengambil irisan steak di atas meja.


"Aw."


"Mandi bareng ya?"


Gina tertawa dan menggelengkan kepalanya kuat.


Mereka mandi sendiri-sendiri. Gina lebih dulu dan Alden setelahnya. Saat Gina keluar dari dalam kamar mandi, Alden menatapnya intens. Dari tatapan itu Gina tahu jika Alden menginginkan dia. Tapi sungguh, Gina tak ingin berada di ambang ketidakpastian.


Dia bisa menyerahkan Tubuhnya, tapi tidak dengan mahkotanya.

__ADS_1


Alden menarik tubuh sang istri dan memeluk pinggangnya erat, mencium bibir istrinya lembut mereka bersandar di meja rias.


Gina tidak menolak, dia pun merasa nyaman di sentuh seperti ini. Namun seketika mendelik saat Alden coba melepaskan handuknya.


"Al," cegah Gina, dia pun melerai ciuman mereka.


"Jangan tolak aku Gi, tidak akan masuk, hanya ingin menyentuh tubuh mu."


Gina merinding, terus lari pun akan semakin sulit, karena mereka tinggal di satu atap.


Akhirnya Gina hanya diam saat Alden kembali coba melepaskan handuk itu. Sampai jatuh dan membuatnya polos.


Alden menatap tubuh indah itu, dan hanya ditatap seperti ini saja sudah berhasil membuat Gina berdenyut hebat di bawah sana.


Sebelum Hina merasa tak nyaman, Alden dsngan segera kembali mencium bibir istrinya. Dilumaaatnta lembut dengan tangan yang mulai aktif.


Bermain bola di atas kemudian turun ke lembah yang sudah basah.


Dan saat itu Gina tak lagi bisa menghindar, karena akhirnya dia mendapatkan pelepasan.


Alden tersenyum.

__ADS_1


"Sekarang giliran ku, sendirian di dalam kamar mandi," ucap Alden, membuat Gina tertawa, menahan malu dan tubuhnya yang sudah lemas.


__ADS_2