
Gina terhuyung, kakinya terlalu lemas untuk menopang berat badannya sendiri. Banyaknya pikiran di dalam kepalanya membuat Dia kehilangan semua tenaga.
Gina dengan cepat berpegangan pada pintu rumah agar dia tidak jatuh. Namun pergerakan itu tentu saja membuat Alden sangat cemas.
Alden sontak saja membuang sosis yang dia makan lalu dengan cepat segera berlari menghampiri sang istri dan memeluknya erat.
"Astaga sayang, apa yang terjadi denganmu?" tanya Alden dengan suaranya yang terdengar Jelas jika merasa cemas.
Tapi Gina tidak bisa menjawab apa-apa sampai akhirnya Alden menatap tajam pada kedua orang asing yang sejak tadi mengerubungi istrinya.
"Pasti kalian yang sudah membuat istriku jadi seperti ini kan? kalian ini sebenarnya siapa?!" tanya Alden dengan suaranya yang meninggi. Kedua matanya menatap nyalang.
Dan kini jadi Raisa yang nyaris jatuh pingsan ketika melihat semuanya. Pria di hadapannya adalah sang adik, Zidane yang beberapa minggu terakhir hilang. Tapi kini Zidane malah bersikap seolah tidak mengenal dia.
Raisa terlalu gamang, sampai lupa jika Gina sudah memberitahunya jika pria ini mengalami Amnesia.
__ADS_1
Raisa yang nyaris jatuh langsung ditangkap oleh Bryan. Sang asisten yang juga sama bingung nya dengan keadaan ini.
"Zid," lirih Raisa, kedua matanya sudah berkaca-kaca sejak tadi. Rindu dan cemas yang selama ini menguasai hatinya seolah siap pecah. Tanpa pikir panjang, Raisa menepis Bryan dan berniat memeluk sang adik.
Tapi sayang, Alden dengan cepat mendorong tubuhnya. Beranggapan bahwa wanita ini berniat aku merusak rumah tangganya dengan Gina.
"Jaga sikapmu ya! jangan mentang-mentang kamu lebih cantik daripada istriku lalu bisa bersikap semaunya!" bentak Alden.
Dan Bryan akhirnya kini mengunci satu kata yang diucapkan oleh sang tuan, istriku. mendengar satu kata itu dia dengan segera menatap tajam pada Gina yang kini berada di dalam dekapan Zidane. sebuah Tatapan yang menuntut sebuah penjelasan.
Apa maksudnya? Kenapa tuannya berulang kali memanggil Gina dengan sebutan istriku?
"Maaf Tuan, maaf Nona, lebih baik kita masuk ke rumahku dulu," ajak Gina, bicara dengan sangat lemah.
"Tunggu sayang! Jangan sembarangan meminta orang asing untuk masuk ke rumah kita, bisa saja mereka perampok yang berdandan menggunakan baju mewah seperti ini," bisik Alden, tapi suara bisikannya sampai mau didengar oleh semua orang.
__ADS_1
"Bukan begitu Al, beliau adalah Nona Raisa, beliau adalah kakak kandung mu, keluarga mu!" kesal Gina, dia sangat takut pada Bryan, namun begitu berani pafa suaminya sendiri.
Bryan bahkan sampai tercengang melihat tingkah office girl itu. Padahal selama ini Zidane jauh lebih mengerikan dibanding dia.
Dalam bisnis, Zidane dikenal sebagai CEO berdarah dingin. Tanpa banyak bicara namun bisa mencapai semua target.
"Jangan bercanda sayang, ini tidak lucu," tolak Alden.
"Siapa yang bercanda, coba lihat lagi pria itu. Bukannya pria itu yang kemarin kamu bayangkan? beliau adalah asisten Bryan, asisten pribadi mu. Kamu adalah seorang CEO!" terang Gina lagi, benar-benar ingin Alden mengerti dengan semua usahanya ini. Hidup dan mati dia lakukan agar Alden kembali pada keluarga yang sesungguhnya.
Meski, meski mungkin saja dia akan mulai merasa kehilangan.
Mendadak Gina galau.
Setelah banyak bicara untuk menjelaskan semua keadaan ini, Kini Gina terdiam.
__ADS_1
Alden juga diam hingga membuat suasana jadi hening.
Sementara Raisa sudah menangis, tak sabar membawa sang adik pulang.