Ternyata Dia Adalah Bossku

Ternyata Dia Adalah Bossku
BAB 22 - Seorang Pria


__ADS_3

Sehabis makan malam bersama, Gina merubah tempat duduknya untuk lebih dekat dengan Alden.


"Al, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan kepadamu."


"Apa?" tanya Alden pula, dia tidak merasa penasaran sedikitpun hanya ingin mendengarkan apa yang akan diucapkan oleh sang istri.


"Aku bilang aku tahu siapa Kamu sebenarnya kan, jadi sekarang aku akan menunjukkan buktinya."


"Hem, baiklah," balas Alden pula. Sebuah Jawaban yang akhirnya membuat mulut Gina mencebik, pasalnya sang suami berbicara seolah dia tidak antusias dengan apa yang ingin ditunjukkan olehnya.


Seolah biasa saja seperti itu.


"Kenapa lagi? kenapa malah cemberut?" tanya Alden pula, dia pun menggerakkan kursinya hingga lebih dekat dengan sang istri bahkan dari posisi mereka duduk dengan kursi yang berbeda Alden bisa memeluk tubuh istrinya.


"Kamu seperri tidak berminat, harusnya antusias dong, mana mana coba aku lihat, begitu." balas Gina, bicara dengan suaranya yang terdengar Jelas jika sedang merasa kesal.


Namun Alden malah membuang nafasnya kasar. Bagaimana bisa dia antusias ketika ingatannya di masa lalu hanya akan membuatnya berpisah dengan Gina.

__ADS_1


Alden sangat yakin, ini nanti akan dijadikan alasan oleh sang istri untuk membuat mereka berpisah.


"Mana bisa aku antusias Gi, jika setelah semua ingatkan ku kembali kamu ingin kita berpisah."


"Aku tidak bicara seperti itu Al, setelah ingatanmu kembali semua keputusan bukan di tanganku lagi tapi di tanganmu masih mau tetap bersamaku atau tidak," balas Gina pula, bicara tak kalah lirih, bahkan kini sorot matanya terlihat lebih serius daripada tadi.


Dan Hal itu membuat Alden tidak bisa berkutik.


"Baiklah, Tunjukkan apa buktinya," balas Alden pula. Seolah kini dia telah benar-benar siap untuk mulai mengingat tentang masa lalunya sendiri.


Dan saat itu juga Gina dengan segera membuka ponselnya dan mencari media sosial milik Samantha. Zidane tidak memiliki media sosialnya sendiri, namun kekasihnya itu memiliki banyak koleksi tentang pria ini.


Deg! seketika jantung Alden jadi berdenyut nyari. Bagaimana bisa di dunia ini ada orang yang begitu mirip dengannya.


"Itu adalah kamu Al, nama asli mu Zidane Harwell dan kamu adalah CEO di tempat ku bekerja." terang Gina apa adanya, bicara yang sesungguhnya.


namun tetap saja terdengar begitu aneh di telinga Alden. Bagaimana bisa dia menjadi CEO istri dan bernama Zidane. Sementara baginya dia memang Alden.

__ADS_1


"Tunggu, aku pusing," ucap Alden, dia meletakkan ponsel itu begitu saja di atas meja dan segera memegangi kepalanya menggunakan kedua tangan. memijatnya secara asal berharap bisa mengurangi rasa sakit ini.


Sementara Gina dengan cepat memeluk sang suami. Menahan tangan Alden yang bergerak asal dan membimbing sang suami untuk memeluk tubuhnya saja. Dan Gina pun memijat tengkuk suaminya dengan lembut.


"Sabar, jangan dipaksakan untuk mengingat." terang Gina, meski Dia sangat ingin Alden segera mengingat semua masa lalunya tapi dia tidak ingin memaksa.


Tidak ingin membuat Alden jadi menderita.


"Maafkan aku Gi, Kepalaku benar-benar pusing. aku melihat seorang wanita dalam foto itu tapi yang terbayang dalam benakku merasa seorang pria." balas Alden, dia memeluk Gina dengan kedua matanya masih terpejam, berusaha merekam tentang bayangan seorang pria yang dia ingat.


"Pria?" tanya Gina pula dan Alden mengangguk.


Sedangkan Gina pikirannya langsung tertuju ke arah dua pria yang dia duga memiliki hubungan dekat dengan Zidane, Bryan atau Leon?


"Tunggu Al, sepertinya aku tahu siapa pria itu." ucap Gina pula, masih dengan memeluk Alden seperti itu dia pun kembali menjangkau ponselnya dan mencari wajah seorang pria.


"Apakah ini?" tanya Gina dan Alden mengangguk.

__ADS_1


Saat itu juga Gina membuang nafasnya dengan lega.


Asisten Bryan.


__ADS_2