
Setelah mendengar jawanan pria itu, Bryan segera bangkit dari duduknya dan pergi dari sana. Sudah tidak ada yang dia butuhkan lagi disini. Dan setelah Bryan keluar dari gudang itu, anak buahnya pun kembali memberikan serangan sampai akhirnya kelompok perampok itu tak sadarkan diri.
Bryan benar-benar membalas seperti apa yang pernah mereka lakukan pada Tuannya.
Sudah mendapatkan nama Leon, Bryan kembali mengumpulkan banyak barang bukti. Termasuk tentang hubungan Leon dengan kekasih sang Tuan, Samantha.
Pekerjaan Bryan sangat banyak, belum lagi dia juga harus mengurus Raisa, sang nona muda yang sangat ceroboh. Keahlian Raisa hanyalah melukis pakaian-pakaian cantik, sedikitpun tidak ada keahlian dalam dunia asuransi.
Dan disaat Bryan sedang kalang kabut memikirkan masalah sang Tuan, Zidane malah sedang menikmati bulan madunya dengan sang istri.
Terus berbagi desah di ruang tengah. Alden menguasai tubuh istrinya dari arah belakang.
Terus menghentak sampai akhirnya sama-sama mendapatkan pelepasan.
"Akh!" lenguh keduanya dengan suara berat yang tertahan, menikmati kedutan yang begitu memabukkan.
Mereka berdua terduduk di sofa kempes itu dan berulang kali menetralkan suaranya yang terengah.
"Canduku," ucap Alden, Gina yang malu langsung memukul dada suaminya.
__ADS_1
"Lapar," ucap Gina pula.
"Tetap duduk diam disini, aku akan menyiapkan makan malam romantis untuk kita berdua," balas Alden, setelahnya dia mencium bibir sang istri dan bangkit dari sana. Memunguti baju mereka berdua dan segera memakainya kembali.
"Huh huh," Deru nafas Gina, setelah kepergian sang suami dia tetap duduk di sana. Melihat televisi yang sejak tadi terus menyala.
Gina lantas mematikan televisi itu menggunakan remote di atas meja. Dia pun memutuskan untuk menghampiri sang suami. Alden sibuk menggeser meja makan di dapur jadi lebih mendekati jendela. Malam itu Alden membuka jendelanya lebar-lebar, memperlihatkan rumah tetangga di ujung sana yang terang benderang.
"Kenapa di geser?" tanya Gina, dia bingung.
"Biar ada angin yang masuk," balas Alden asal. Entah Kenapa tiba-tiba dia ingin makan malam dengan suasana seperti ini.
"Ada yang bisa kubantu?" tawar Gina pula dan Alden malah menggeleng Seraya tersenyum kecil. Alden kemudian menarik Gina untuk duduk di salah satu kursi, mereka akan duduk saling berhadapan.
Gina hanya tersenyum melihat semua pergerakan suaminya itu, baginya ini lucu.
Dan tidak butuh waktu lama akhirnya semua makanan telah tersaji, Alden pun duduk di kursinya sendiri.
"Selamat makan sayang," ucap Alden.
__ADS_1
Gina terkekeh pelan, dia tidak menjawabi ucapan sang suami dengan kata-kata, tapi hanya dengan anggukan kepalanya kecil.
Makan malam pun di mulai, semilir angin yang masuk ke dalam rumah mereka memang menambah suasana romantis malam itu.
Berulang kali Alden dan Gina saling tatap dengan tatapan penuh cinta.
Sampai akhirnya ponsel Gina di atas meja berdering. Gina tidak ingin suara ponsel itu menganggu malam romantis mereka, jadi dia buru-buru mengambil ponsel itu ...
Dan ternyata Alden pun ingin mengambilnya juga, ingin melihat siapa yang malam-malam begini menghubungi sang istri.
Namun sikap Gina yang seolah tak mengizinkannya untuk melihat panggilan itu seketika membuat dada Alden sesak. Seperti ada yang sedang ditutup-tutupi oleh Gina.
Sesak di dada Alden itu pun membuat kepalanya sangat pusing. Sampai akhirnya kenangan masa lalu kembali menguasai dia.
"Al, kamu kenapa?" tanya Gina, sangat cemas saat melihat Alden memegangi kepalanya kesakitan.
Tapi Alden tidak menjawab, dia telah mengingat semua kenangan yang hilang. Saat makan malam bersama Samantha dan melihat ponsel sang kekasih yang mendapat pesan cinta dari Leon.
Tentang penyerangan dirinya atas perintah Leon. Tentang bisnisnya, keluarganya, semua itu telah kembali.
__ADS_1
"Shiit!" umpat Zidane. Yang pertama kali dia rasakan setelah ingatakannya kembali bukan tentang cintanya pada Gina.
Tapi dendam pada Leon dan Samantha.