
"Al, kamu kenapa?" tanya Gina sekali lagi, Kini dia benar-benar merasa sama dengan keadaan sang suami. terlebih saat melihat banyak peluh yang keluar dari dahi Alden.
Dia Coba menggapai tubuh Alden untuk dipeluknya erat namun belum apa-apa Alden sudah lebih dulu menepis tangannya yang hendak mendekat.
Deg! mendapat penolakan itu tentu saja membuat Gina merasa sangat terkejut, hatinya mencelos.
Terlebih saat melihat tatapan Alden kini berubah 180 derajat. yang tadinya selalu menata dia penuh cinta dengan tatapan matanya yang sayu, namun kini kedua mata itu berubah jadi sangat tajam seperti mata elang yang siap menerkamnya hidup-hidup.
Melihat tatapan itu seketika Gina mundur perlahan, mengambil satu langkah menjauh dari sang suami.
Gina tahu, akan ada hal yang tak baik di antara mereka berdua. meski entah apa itu.
Dan melihat Gina yang ketakutan, seketika kepala Zidane kembali mengalami pusing yang begitu hebat. Kenangan yang pernah mereka lewati berdua juga dia ingat dengan jelas.
Tentang pertemuan pertama mereka, tentang pernikahan dadakan sampai malam-malam panas yang pernah mereka lewati berdua.
__ADS_1
"Argh!!" Zidane mengeram kesakitan dia semakin mencengkram kuat kepalanya sendiri menggunakan kedua tangan.
Zidane terlalu pusing, namun yang jadi tujuan utamanya kini adalah membalas Leon dan Samantha. Lantas tanpa banyak kata lagi kasih dan dengan segera pergi dari sana, sementara Gina hanya tergugur di tempatnya berdiri melihat sikap Alden itu Gina menyadari satu hal. bahwa sang Bos pasti telah mendapatkan ingatannya kembali, pria itu bukan lagi Alden suaminya, melainkan Zidane Harwell CEO di tempatnya bekerja.
Sejak detik ini juga sudah putus semua hubungan di antara mereka. Jarak yang terbentang semakin jelas di depan mata.
Brak! Zidane menutup pintu dengan keras ketika dia sudah keluar dari rumah itu.
sementara Gina di dalam sana langsung menjatuhkan air matanya. rasa sakit hati yang selama ini sangat dia takuti akhirnya dia rasakan juga.
Gina menangis, sampai sesenggukan.
"Tidak, kamu tidak boleh menangis Gi, sejak awal kamu sudah tahu resikonya membuka hati."
"Tuan Zidane berhak mendapatkan hidupnya kembali tanpa harus terhalang oleh manusia hina seperti aku."
__ADS_1
Gina terus bergumam bicara pada dirinya sendiri, mencoba kembali menata hatinya yang sudah hancur lebur.
tapi ternyata usahanya tidak mudah kesedihan itu dia rasakan dengan begitu nyata, Gina luruh, dia terduduk di atas lantai dapur, memukuli dadanya sendiri yang terasa sesak.
"Alden pasti sudah melupakan aku, dia pasti tidak mengingat semuanya, begitu kan?" tanya Gina, sebuah pertanyaan yang jelas tidak akan ada yang bisa menjawabnya. Karena kini di sini Gina hanya sendirian.
Sementara Zidane sudah berlari Pergi menjauhi rumah kecil ini.
Di seberang jalan sana larinya Zidane tiba-tiba terhenti ketika dia melihat sang asisten berdiri di hadapannya.
Bryan adalah seseorang yang beberapa saat lalu menghubungi Gina dalam sambungan telepon. Dia berniat mengatakan pada wanita itu tentang kunjungannya malam ini. Tapi ternyata panggilannya tidak mendapatkan jawaban, dia malah mendapatkan laporan dari anak buahnya jika sang Tuan pergi meninggalkan rumah dengan raut wajah menyeramkan.
Dan di sini kini mereka berdua saling berhadapan.
Dari sorot mata pria itu Bryan sangat meyakini jika tuannya telah kembali.
__ADS_1
"Tuan Zidane," ucap Bryan, dia membungkuk memberikan hormat.