Ternyata Dia Adalah Bossku

Ternyata Dia Adalah Bossku
Bab 33 - Titah Pertama


__ADS_3

"Bryan, dimana mobil ku? malam ini juga aku akan membunuh Leon," gertak Zidane, tidak ada lagi kata ampun bagi pria itu. bukan hanya menusuknya dari belakang, tapi Leon bahkan sudah berniat untuk melenyapkan nyawanya dan hal itu adalah kesalahan yang tidak akan pernah bisa dia Maafkan.


Nyawa dibalas nyawa, itulah prinsip yang Zidane pegang dalam hidupnya.


"Maafkan saya Tuan, tapi saya mohon bersabarlah, kita akan memberikan pembalasan yang jauh lebih menyakitkan dari apa yang pernah dia lakukan kepada Anda."


"Apa maksudmu!" bentak Zidane pula, saat ini dia tidak ingin bernegoisasi, dia hanya ingin memukul kepala pria badjingan itu menggunakan tongkat baseball sampai otaknya keluar.


Dan saat itu juga, Bryan menjelaskan semua rencananya dengan rinci. Tentang pembalasan dendam yang setimpal, mengambil paksa semua harta yang dimiliki oleh Leon dan melempar pria tidak berguna itu pada semua musuh-musuh Leon yang lain. Zidane hanya perlu memperhatikan pria itu mati di tangan orang lain.


Leon bukanlah orang yang bersih, musuhnya tidak hanya ada satu. Leon telah dibenci oleh para pengusaha lain karena terlalu sering menggunakan cara licik untuk mendapatkan keuntungan.


Dan setelah mereka berhasil melengserkan perusahaan milik Leon, maka biarlah pria itu mati dipukuli oleh musuh-musuhnya yang lain.


mendengar penjelasan sang asisten cukup membuat Zidane sedikit tenang, deru nafasnya yang memburu karena dendam kini perlahan mulai mereda.


"Lebih baik kita sekarang kembali ke apartemen," ucap Bryan. ini adalah keputusan paling baik yang berpikir olehnya, menyembunyikan tuannya di tempat yang layak, bukan di rumah kecil milik office girl itu.

__ADS_1


"Baiklah," jawab Zidane singkat.


Ketika berjalan menuju mobil yang terparkir di dekat Jalan Raya, langkah Zidane tiba-tiba terhenti.


karena kemudian dia mengingat tentang Gina, wanita yang sudah menolongnya, wanita yang karena keadaan mendesak sampai harus rela menikah dengannya, Bahkan mereka telah melewati banyak hari yang indah dan penuh gairah.


Mengingat semua itu Zidane mengurungkan niatnya untuk kembali ke apartemen ...


"Aku akan tetap tinggal disini," putus Zidane, bicara dengan suaranya yang terdengar tegas, tak pernah ada penolakan untuk semua yang dia inginkan.


Bahkan Bryan tak mampu untuk membantah, karena tatapan sang Tuan yang mengarah tajam ke arahnya.


"Tidak, aku tidak butuh apapun. Aku hanya ingin mulai sekarang hormati Gina seperti kamu menghormati aku, jangan lagi berani-beraninya menatap tajam ke arah istriku," ucap Zidane, ini adalah titah pertamanya dan seketika lemeslah tubuh Bryan dibuatnya.


Dia bahkan segera membungkukkan tubuhnya sebagai permohonan maaf, karena ternyata sang Tuhan masih mengingat perlakuan apa yang dia berikan kepada kita selama ini.


"Maafkan saya Tuan."

__ADS_1


"Hem," jawab Zidane singkat.


"Lain kali aku ingin dengar kamu meminta maaf kepada istriku juga."


"Baik Tuan," jawab Bryan patuh.


dia masih terus membungkukkan tubuhnya sampai sang Tuan benar-benar hilang dari hadapan dan kembali ke rumah Gina.


"Huh!" Bryan, membuang nafasnya lega. Untung saja dia tidak dipecat ataupun mendapat hukuman.


"Tuan Zidane benar-benar telah kembali," gumam Bryan, merasa sangat lega dan bersyukur sekaligus.


Sudah tidak sabar rasanya untuk mengatakan kabar bahagia ini kepada Raisa dan seluruh keluarga Harwell.


Bryan, memutuskan pergi dari sana dan menambah keamanan di rumah kecil itu.


Saat Zidane kembali ke rumah, untungnya pintu belum di kunci oleh Gina. Karena tadi dia lupa tidak membawa kunci.

__ADS_1


Zidane masuk lebih dalam dan melihat Gina yang mulai membereskan meja malan malam mereka.


Zidane melihat dengan jelas, Gina yang menangis ...


__ADS_2