
"Sudah cukup! aku mungkin memang keluarga mu, tapi tolong mengertilah, sekarang bagiku yang namanya keluarga itu hanyalah Gina, istriku!" tegas Alden, dia benci sekali mendengar pembicaraan mereka pagi menjelang siang itu. Hingga waktu menunjukkan jam 11 siang belum juga ada titik temu dari pembicaraan mereka.
Gina malah bersikukuh rela membiarkan Alden kembali ke keluarganya dan membayar semua uang yang pernah dipakai oleh Alden.
Dia benci, sangat benci. Sudsh tidak sabar mengusir 2 orang ini dan segera menghukum istrinya.
Dan mendengar bentakan sang adik, Raisa mencelos, dia ingin kembali buka suara namun Bryan segera menghentikan.
Bagi Bryan, tak apa sang Tuan lebih dulu tinggal disini. Sementara dia kembali menyelidiki apa yang terjadi pada kecelakaan itu.
Tak ingin sang Nona muda cemas, Bryan akhirnya membisikkan sesuatu...
"Kita pulang dulu, saya akan menempatkan banyak tim keamanan di rumah ini." bisik Bryan, dan hal itu cukup membuat Raisa merasa tenang.
Raisa tidak menjawab bisikan Bryan, dia hanya mengedipkan matanya kecil, sebuah isyarat tanda setuju.
Siang itu juga akhirnya Bryan dan Raisa pamit pulang. Sebelum pergi Raisa memeluk Gina, mengucapkan terima kasih karena telah menyelamatkan sang adik.
"Ini ada uang untukmu, untuk biaya hidup Zidane selama tinggal disini," ucap Raisa. Dia tidak menyerahkan uang itu di tangan Gina, dia langsung memasukkannya di tas selempang berukuran kecil yang sejak tadi Gina pakai.
"Kami pergi," pamit Raisa dengan cepat, bahkan sebelum Gina sempat membahas tentang uang pemberian sang Nona.
__ADS_1
Gina tergugu, hanya mampu melihat nona Raisa dan asisten Bryan berjalan menjauhi rumahnya.
"Padahal aku tidak minta uang sekarang," gumam Gina, dia memeriksa uang itu dan ternyata banyak sekali. 10 juta berwarna merah semua.
"Astaga, astaga, astaga, ini banyak sekali. Alden saja baru memakai uangku 600 ribu." terkejut Gina.
Tapi Gina lebih terkejut lagi saat Alden menariknya masuk ke dalam rumah.
Mengunci pintu itu dan membuang kuncinya asal.
"Dasar istri durhaka!" geram Alden.
"Aku mau menghukum mu!" bentak Alden, kini mereka sudah berada di dalam kamar. Dan bentakan Alden itu seketika membuat Gina takut.
Belum apa-apa kedua mata Gina sudah berkaca-kaca dan melihatnya Alden sungguh tidak tega. Tiba-tiba malah jadi merasa bersalah sendiri. Malah jadi merasa durhaka sendiri, dia hanyalah anak ayam yang baru saja membentak induknya.
"Maafkan aku sayang, tapi aku tidak suka saat melihat mu menukar ku dengan uang."
Mendengar itu kini Gina mulai paham apa akar kemarahan Alden.
"Tapi Al, sejak awal kan perjanjian kita memang seperti itu." jawab Gina dengan lemah.
__ADS_1
"Lupakan saja tentang perjanjian itu, memangnya kamu tidak mencintai aku?"
"Tidak."
"Jahat sekali." Setelahnya Alden segera mengikis jarak, mencium bibir sang istri dengan begitu dalam, sampai Gina jatuh ke atas ranjang.
Siang ini Alden tidak akan meloloskan istrinya lagi. Jika Gina ingin pergi maka dia akan membuat alasan mereka agar tetap bersama.
Alden berniat membuat Gina hamil, jadi meski ingatannya kembali dia hanya akan kembali pada wanita ini.
"Jangan Al," lirih Gina saat Alden mulai melepas semua baju miliknya.
"Tidak ada kata jangan, aku tidak mau menundanya lagi," putus Alden, setelah berhasil membuat sang istri polos, kini dia pun menanggalkan semua baju miliknya.
Kembali menindih tubuh sang istri dan memberikan sentuhan paling memabukkan bagi Gina.
Tak ada penolakan, yang ada hanyalah geliat manja dan desaah merdu dari wanita cantik itu.
Entahlah, anggap saja Gina bodoh, tapi dia juga ingin memiliki kenangan yang indah bersama Alden.
"Akh ahk," desaah Gina, seirama dengan hentakan sang suami yang sudah berhasil menguasai inti tubuhnya. Keduanya saling merengkuh dalam nikmat.
__ADS_1