Ternyata Dia Adalah Bossku

Ternyata Dia Adalah Bossku
Bab 38 - Lebih Menggebu


__ADS_3

"Akh!" saat desaah itu lolos dari mulut Gina, akhirnya asisten Bryan bangkit perlahan dan segera pergi dari sana.


Jantungnya berdegup, tiba-tiba merasa panas setelah melihat adegan itu.


"Astaga, tuan Zidane benar-benar sudah jadi budak cinta. Bagaimana bisa dia menyerahkan ini semua pada istrinya," gumam Bryan, masih tak habis pikir.


Tapi tugasnya hanyalah mematuhi semua perintah sang Tuan, maka apapun itu akan dia laksanakan.


Di dalam rumah, keduanya benar-benar sudah melupakan Bryan. Gina bahkan bergerak naik ke atas pangkuan sang suami, menjepit tubuh Zidane menggunakan kedua kakinya.


Sementara ciuman mereka terus berpaut, tangan Zidane pun kembali melepaskan kancing baju milik sang istri.


Mereka benar-benar telah di mabuk cinta.


Sampai nafas Gina nyaris habis, barulah ciuman itu terlepas, tapi Zidane tidak berhenti dia segera menyusuri leher sang istri dan bersemayam di salah satu dadda.


"Ahk Zid!"


Gina memekik nikmat, meremaas kuat rambut sang suami.


Geleyar aneh mulai menjalar di sekujur tubuh mereka berdua.


"Zid, cukup," lirih Gina, rasanya dia tak akan sanggup jika harus kembali melakukan penyatuan, inti tubuhnya masih terasa perih.


Zidane memahami itu, dia melepaskan sesapannya dan ganti membelai lembut dengan tangannya yang hangat dan besar, menggenggam dengan pas.

__ADS_1


"Sekarang sudah percaya padaku?" tanya Zidane dan Gina mengangguk.


Wanita itu bahkan pasrah saja saat tubuhnya dikuasai oleh sang suami. Hanya menatap dan menyentuh inttim tubuh istrinya seperti ini saja Zidane merasa puas dan senang.


"Kalau begitu, hari ini kita temui kedua orang tua ku ya?"


"Kamu tidak ingin pulang sendiri dulu?"


"Tidak, kita akan langsung pergi bersama."


"Mereka pasti sangat terkejut, tentang kamu, tentang kita."


"Raisa sudah coba menjelaskan juga, jadi jangan terlalu banyak berpikir. Semuanya tidak seburuk yang ada di pikiran mu."


"Astaga, nona Raisa menceritakan tentang kita juga."


"Ya ampun Zid, aku takuuut."


"Jangan takut, ada aku, mungkin juga ada anak kita disini."


Gina memelas, bibirnya mencebik. Jika hanya mereka berdua semuanya nampak baik-baik saja, tapi jika ingat nama besar Harwell, Gina benar-benar merasa cemas.


Sebuah ciuman kembali Zidane beri agar istrinya tenang. Ciuman dan remasaan di buah daddanya benar-benar sentuhan yang paling memabukkan.


"Sekarang kita bersiap, semakin cepat bertemu dengan nereka maka akan semakin baik," putus Zidane.

__ADS_1


dia bangkit dan menggendong Gina seperti bayi koala, tapi Zidane yang menyusu karena baju Gina masih belum ia benarkan.


Desaah nakal Gina kembali terdengar. Tapi mereka berdua hanya tertawa, tidak lagi melakukan penyatuan.


Akan sangat memalukan jika Gina tidak bisa berjalan di saat pertama kali pertemuannya dengan kedua orang tua Zidane.


Mobil dan supir sudah menunggu di ujung gang.


Zidane dan Gina masuk ke dalam sana.


Gina menelan ludahnya dengan kasar, masih merinding tiap ingat Zidane adalah si kaya raya.


Huh! Gina mencoba tenang, semakin tenang saat Zidane menggenggam tangannya erat.


"Jangan takut, jangan membuat ku mencium mu di depan kedua orang tua ku."


"Iss ancaman macam apa itu."


"Entah lah, tapi sepertinya hasrrat mu lebih menggebu, hanya bisa tenang jika ku sentuh."


"Zid!!"


Pria itu tertawa, memang begitulah adanya. Sebenarnya diantara mereka berdua, Gina jauh lebih mesyum. Hanya saja dia malu untuk mengutarakannya lebih dulu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Setelah ini up iklan ya, jangan kaget, tapi mampir 🤣


__ADS_2