
Tidur Leon dan Samantha sangat tidak nyenyak. Tiap kali mereka berdua menutup matanya yang terbayang hanyalah wajah Zidane. Wajah kejam pria itu yang menatap dingin pada mereka berdua.
Sampai pagi akhirnya tiba, nampak jelas gurat hitam di mata keduanya.
Leon buru-buru menelpon sang asisten dan ingin kepastian tentang kabar ini.
"Benar Tuan, tuan Zidane telah kembali."
"SHIITT!!"
BRAK!!" Leon membanting ponselnya sendiri ke arah lantai hingga hancur.
Samantha berteriak dan menutup matanya. Pagi ini benar-benar terasa kacau bagi mereka. Bagaimana mungkin pesta pertunangan Nanti malam akan tetap digelar? sementara kemarahan Zidane seolah sedang menghampiri mereka berdua.
"Leon, aku tidak mau di penjara, aku tidak mau pertunangan kita gagal." Samantha sudah menangis ketakutan.
Dan tangis itu semakin membuat Leon merasa pusing.
Leon hendak pergi meninggalkan kamar, tapi langkah kakinya terhenti saat mendengar suara ponsel milik Samantha berdering.
"Lihat ponsel mu," titah Leon, dia berpikir mungkin saja itu adalah panggilan dari Zidane. Pria itu mungkin saja masih menaruh rasa pada Samantha. Jadi di hari dia kembali Zidane dengan segera menghubungi kekasihnya.
__ADS_1
Samantha patuh, mengambil ponselnya di atas nakas dan melihat ada panggilan telepon dari salah satu temannya bukan dari Zidane.
"Samantha! nyalakam televisi, keluarga Harwell melakukan konferensi pers."
Samantha mendelik, ponsel yang dia tempelkan di telinga seketika jatuh ke lantai. Berlari meraih remote tv, dan menyalakannya.
Leon yang ikut bingung melihat pergerakan Samantha pun langsung menatap televisi yang menyala itu.
Deg! keduanya sama terkejut. Leon bahkan merampas remote di tangan Samantha dan menambah volume, hingga jadi sangat keras.
Ya, aku telah kembali, Zidane Harwell . Gina menyelamatkan aku, banyak hal yang terjadi hingga kami menikah.
Kami sudah membuat laporan pada pihak polisi, sudah menyerahkan barang bukti dan lengkap, menurut pengacaraku hari ini juga 2 orang itu akan segera di tangkap dan kalian bisa melihatnya secara langsung nanti.
Aku tidak akan lagi ikut campur dalam hal itu, sekarang aku telah kembali dan hanya ingin membahagiakan Istriku.
Dulu, aku memang begitu dendam, tapi setelah menikah aku tau mana yang lebih penting.
2 orang itu akan mendapatkan hukuman yang setimpal.
Tunggu saja.
__ADS_1
"Tidak!" pekik Samantha, kini dia sudah frustasi.
"Ini semua salah mu Leon! ini semua salah mu! katamu Zidane sudah mati! katamu DIA SUDAH MATI!!"
Plak! satu tamparan keras Leon layangkan tepat di wajah Samantha. bahkan hingga membuat tubuh wanita itu terhuyung dan nyaris jatuh.
"Bisakah kamu diam! suaramu semakin membuatku pusing!!" geram Leon.
Samantha merasa sangat terkejut ketika mendapatkan perlakuan kasar itu. Padahal selama ini Leon tidak pernah membentaknya apalagi sampai menampar seperti ini.
Samantha menangis, memegangi pipinya yang terasa sangat sakit. kehancuran mereka berdua benar-benar sudah di depan mata.
"Tidak ada waktu untuk menangis, Jika kamu ingin selamat cepat kemasi semua barangmu dan kita pergi dari sini!"
Samantha sesenggukan, tanpa mengucapkan sepatah kata pun akhirnya dia menuruti ucapan Leon itu.
Mereka seperti sedang dikejar oleh waktu, berusaha secepat mungkin untuk segera meninggalkan Apartemen ini.
tapi yang namanya takdir tidak pernah merasa mereka tebak, saat keluar dari dalam apartemen itu, Samantha dan Leon sudah melihat Bryan di hadapan mereka.
Tersenyum, menyeringai.
__ADS_1