
Sekitar jam 10 setelah Gina menceritakan semua tebtang pria amnesia itu, Akhirnya Gina, Raisa dan Bryan pergi.
Gina turun lebih dulu dan menunggu di halte Bus, sementara Raisa dan Bryan menyusul dan menjemput Gina di halte bus sana.
Sengaja bertemu di luar perushaan agar tidak jadi pusat perhatian dan pembicaraan orang lain.
Mereka semua kompak berpikir bahwa saat ini Zidane dalam bahaya, jadi segala informasinya haruslah di rahasiakan.
"Dimana rumah mu?" tanya Bryan, dia menyetir. Saat bertanya seperti itu tatapannya tetap fokus ke depan.
Gina urung menjawab pertanyaan itu karena tiba-tiba dia kembali mendapatkan pertanyaan dari nona Raisa.
"Siapa nama mu?" tanya Raisa.
Gina jadi bingung mau menjawab yang mana dulu. sejak tadi dia memang belum sempat memperkenalkan diri, gara-gara harus buru-buru untuk menceritakan tentang Alden.
" Jangan hanya diam saja, Nona Raisa bertanya siapa namamu?" Bryan kembali buka suara.
Tiap kali pria itu membuka mulut selalu mampu membuat Gina takut.
"Ma-maaf Tuan, Nona, Nama saya adalah Gina."
__ADS_1
Raisa mengangguk. Tidak bingung lagi bagaimana dia menyebut wanita ini.
"Sekarang katakan di mana rumahmu?"
"Masih jauh Tuan, lurus aja terus nanti kalau sudah waktunya belok akan saya beritahu, di jalan Mawar Indah." terang Gina, dia semakin merasa gugup karena duduknya adalah di samping Bryan.
Sementara Raisa duduk seorang diri di kursi Tengah. menatap kosong pada jalanan yang mereka lewati. meski wajahnya terlihat datar namun jantungnya bergemuruh hebat kedua tangannya pun sudah mulai mengeluarkan keringat dingin, Besar harapan di dalam hatinya bahwa pria yang diceritakan oleh Gina adalah sang adik.
Ya Tuhan, semoga saja dia benar Zidane. Batin Raisa. Tak sabar rasanya untuk segera menyampaikan kabar baik kepada kedua orang tuanya, yang beberapa hari ini sangat cemas. makan tidak pernah terasa enak dan tidur tidak pernah terasa nyenyak. Selalu berusaha menemukan bidan namun belum membuahkan hasil apapun.
"Belok kiri Tuan," ucap Gina.
Bryan mengikuti, terus mengikuti instruksi itu sampai akhirnya mereka tiba di sebuah gang yang cukup sempit, bahkan mobil Bryan tidak bisa masuk lebih dalam lagi. Sementara rumah Gina masih di ujung sana, paling ujung.
setelah mobil itu benar-benar terparkir sempurna akhirnya mereka bertiga turun.
"Dimana?" tanya Bryan lagi, dia sudah berdiri di samping sang nona muda. Siap menjaga Raisa meski dari semut merah.
"Di paling ujung Tuan." Gina memimpin langkah, melewati jalanan yang sudah di pavling blocks, jadi sepatu mereka tidak akan kotor.
Terus berjalan sampai akhirnya tiba di rumah kontrakan Gina. Rumah sederhana berwarna putih yang sudah kusam.
__ADS_1
Gina mengetuk pintu.
Beberapa kali namun tidak mendapat jawaban dan tak ada yang membuka pintu.
"Mana? jangan berani-beraninya membohongi kami ya? Aku bisa memecat mu sekarang juga."
"Ma-maaf Tuan, tunggu sebentar, mungkin Alden sedang di kamar mandi." Gina gelagapan.
"Bryan, berhentilah menekan Gina." Raisa pun buka suara, lengkap dengan tatapan tajamnya kepada sang asisten.
Bryan diam dan Gina kembali mengetuk pintu rumahnya sendiri. Karena pagi tadi pergi dengan buru-buru, Gina lupa membawa kunci lain serep rumahnya.
Karena pintu rumahnya tak kunjung di buka, Gina jadi semakin takut saja. Namun seketika ketakutannya itu buyar ketika dia mendengar seorang pria memanggil namanya, terdengar suara yang tidak asing ...
"Gina," panggil Alden. Saat itu juga Gina, Bryan dan Raisa berbalik dan melihat kearah sumber suara.
Deg! seketika Bryan dan Raisa sama-sama terkejutnya.
Dia adalah Zidane.
"Sayang, ada apa ini ramai-ramai?" tanya Alden sambil memakan sosis di tangannya dan saat itu juga Gina rasanya ingin pingsan. Dia lupa jika pria itu adalah suaminya. Kata sayang itu membuatnya baru ingat.
__ADS_1
Dan... Parahnya belum dia ceritakan tentang masalah itu pada Bryan dan Raisa.
Ya Tuhan, ambil saja nyawaku sekarang. Batin Gina.