
Tidak puas hanya memeriksakan diri menggunakan tespek keesokan harinya Zidane mengajak Gina untuk pergi ke dokter kandungan.
Kabar Bahagia itu semakin nyata bagi mereka berdua.
Gina benar-benar hamil.
Setiap bulan waktu bergulir Zidane terus mendampingi dengan cemas.
Gina yang ceroboh membuatnya harus menjaga perut itu baik-baik.
Kini kehamilan Gina sedang memasuki usia 5 bulan, perut istri Zidane itu sudah terlihat membuncit.
Gina juga sudah berani datang sesuka hati ke perusahaan untuk mengunjungi sang suami. tidak lagi merasa takut seperti dulu.
tidak pula merasa canggung sedikit pun pada karyawan yang lain.
Seperti siang ini.
Dengan menenteng kotak bekal makan siang milik sang suami Gina mendatangi perusahaan itu.
Dia tersenyum ramah menyapa semua karyawan yang dia temui selama perjalanan.
keluar dari pintu lift di lantai 5, Gina merasa sangat terkejut ketika yang pertama kali dia lihat adalah asisten Bryan.
__ADS_1
Meski semua sudah banyak berubah tapi ketakutan Gina pada pria itu masih tetap sama.
Baginya, wajah Bryan selalu menakutkan.
"A-asisten Bryan, apa suamiku ada?" tanya Gina dia keluar dari lift dengan takut-takut.
Dan melihat sang nyonya yang takut-takut seperti itu malah membuat Bryan semakin takut juga. sedikit saja dia membuat Gina merasa tidak nyaman maka Bryan harus siap menghadapi kemarahan Zidane.
Bryan lantas menundukkan kepalanya dengan sangat dalam.
"Tuan Zidane ada di ruangannya Nyonya, silakan Anda kunjungi."
"Baik," jawab Gina dengan cepat.
jalan terburu-buru dia masuk ke dalam ruangan sang suami. Zidane yang melihatnya merasa sangat cemas, takut jika tiba-tiba Gina terjerat kakinya sendiri dan jatuh.
"Astaga sayang, Kenapa jalanmu buru-buru seperti itu? pelan-pelan saja dong Sayang."
"Tidak apa-apa Zid, Aku tidak akan jatuh, aku hanya sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu," kilah Gina.
"Apa di luar tadi kamu bertemu dengan Bryan?" tanya Zidane pula, Dia sangat tahu jika hingga kini istrinya itu masih takut saja pada sang asisten.
dan satu-satunya orang yang bisa membuat Gina berlari terbirit-biri seperti itu hanyalah Bryan.
__ADS_1
"Ti-tidak kok, Aku benar-benar merindukan kamu," balas Gina. meski takut dengan asisten Bryan tapi dia tidak ingin pria itu memiliki masalah dengan suaminya, tidak ingin membuat hubungan mereka Jadi semakin aneh.
Gina lantas meletakkan bekal makan siangnya di atas meja, lalu segera berjalan menghampiri sang suami sebelum Zidane bangkit dari kursi kerjanya.
"Aku kangen," ucap Gina, coba mengalihkan perhatian sang suami dengan hal yang lain. Gina langsung duduk di pangkuan suaminya.
"Kangen-kangen saja, Jangan melakukan hal lebih. Aku tidak ingin bercinta di sini, Aku tidak ingin menyakiti kamu dan anak kita sayang."
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja kok Zid, ayolah," bujuk Gina, kedua tangannya bahkan mulai melepaskan kancing kemeja sang suami.
"Jangan Gi, di rumah saja."
"Tidak mau, aku maunya disini, di atas meja kerjamu."
"Jangan Gi, kalau kamu benar-benar mau lebih baik kita pulang dulu."
Gina tidak mau dengar, Awalnya dia memang hanya ingin mengalihkan perhatian sang suami, tapi sekarang Gina benar-benar ingin.
"Gi."
"Ayo! cepaaaat."
"Astaga," habis sudah kesabaran Zidane, dengan pelan-pelan dia turuti keinginan sang istri.
__ADS_1