
2 minggu kemudian.
Gina mulai merasa jika dia hamil. menghitung kapan terakhir dia datang bulan dan ternyata lupa.
5 hari lalu Gina dan seluruh keluarga Harwell sudah mengunjungi kelurga Gina di kampung.
beralasan memberikan kejutan, Zidane membawa istrinya kesana. Gina langsung menangis ketika berhenti di rumah kedua orang tuanya.
Kini rumah kedua orang tuanya sedang masa renovasi, adiknya pun mulai melanjutkan sekolah lagi setelah dulu tidak punya biaya.
3 hari disana dan akhirnya mereka semua memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Disini pekerjaan Zidane menunggu.
"Kamu kenapa?" tanya Zidane, saat melihat istrinya duduk dengan tidak tenang. Mereka sedang menghabiskan waktu bersama untuk menonton televisi setelah makan malam.
Gina sibuk sendiri dengan pikirannya hamil atau tidak. Tapi tadi pagi dia benar-benar mual, mau mengadu tapi Zidane sudah pergi bekerja.
"Zid_"
"Kenapa? apa yang kamu pikirkan? ingin bermain di atas ku?"
"Bukan itu."
"Lalu?"
"Sepertinya aku hamil."
"Masa?"
"Hiihh, kenapa kamu seperti tidak suk seperti ituuu?"
Zidane tertawa pelan, "Bukan tidak suka sayang, tapi bagaimana aku bisa tahu kalau belum melihatnya secara langsung."
__ADS_1
"Apa maksudmu?"
"Coba ku periksa."
"Bagaimana caranya? kita butuh tespek Zid."
"Tidak sayang, kita hanya butuh Joni ku."
"ZIDANE!!!" teriakan Gina menggelegar. Zidane yang mau tertawa jadi urung ketika melihat kilat kemarahan dari mata sang istri.
"Belikan aku tespek sekarang." titah Gina dan Zidane tidak bisa menolak.
Malam itu sama-sama menggunakan baju tidur mereka pergi ke apotik untuk membeli tespek.
Malam ini gerimis lagi, waktu memang sudah memasuki musim hujan.
"Tidak udah jauh-jauh Zid, di depan sana sepertinya ada apotek."
"Panas."
"Panas apa sih, di luar sana sedang gerimis sayang dan ini aku pakai AC yang cukup tinggi."
"Tapi aku panas Zid, Aku bahkan bersedia melepas bajuku Jika kamu memintanya."
Ha? Zidane tercengang, sesaat dia bahkan menoleh kepada sang istri dengan tatapannya yang melongo. sementara tangan dan kakinya masih fokus mengemudi.
Zidane menelan ludah, jika diingat-ingat mereka belum pernah bercinta di dalam mobil. fantasi liarnya mulai menguasai diri. bukannya menuju apotek di depan sana insiden malah menghentikan Mobilnya di rest area.
"Coba lepas baju mu," ucap Zidane ketika mobil itu sudah berhenti sempurna.
Gina menatap tajam.
__ADS_1
"Beli tespek sekarang."
"Kamu yang menggoda ku."
"Ziid!!" kesal Gina, banyak sekali drama yang mereka lalui untuk tiba di apotek itu.
Apa yang diinginkan oleh Zidane tetap terwujud, setelah berhasil membuat Gina meliuk-liukdi atas pangkuannya barulah mereka tiba di sini, apotek.
Gina yang lelah hanya duduk, Zidane turun sendirian untuk membeli dua tespek.
Mendapatkan apa yang mereka cari keduanya pun segera memutuskan untuk pulang.
Jam 9 malam Gina melakukan pemeriksaan mandiri.
Zidane juga ikut masuk ke dalam kamar mandi itu, berulang kali membaca Bagaimana cara penggunaan tespek dan mengawasi sang istri.
"Berikan padaku," pinta Zidane.
Gina memberikan tespek itu pada suaminya sementara dia membersihkan tubuh dan merapikan semua peralatan.
"Berapa garis nya?" tanya Gina, setelah tangannya kering dia menghampiri sang suami. mereka berdua masih berada di dalam kamar mandi, berdiri tepat di kaca wastafel.
"2 garis merah."
"Serius?"
"Iya."
Aaahkk!! Gina berteriak, awalnya berteriak bahagia, lalu lama-lama jadi tangis.
Zidane memeluknya erat.
__ADS_1
"Aku mencintai mu," desis pria itu.