
Tidak, tidak. Zidane tidak membawa Gina untuk pulang ke rumah wanita itu.
Kini ingatan Zidan telah kembali Jadi dia akan memberikan semua yang terbaik untuk sang istri, meskipun rumah lama Gina akan tetap jadi kenangan yang paling indah untuk mereka berdua.
Tapi saat ini Zidane akan segera membawa sang istri untuk mengunjungi rumah mereka yang baru.
Rumah yang bahkan baru dibeli oleh Bryan tadi pagi. Dan sore ini Zidane dan Gina akan mendatanginya.
Gina yang sibuk menangis sampai tidak sadar ke mana arah mobil ini melaju. Pokoknya tiba-tiba mobil ini sudah berhenti saja, Dia pikir ya sudah sampai di rumahnya.
Turun dari dalam mobil itu barulah tangis Gina mereda dan menyisahkan kedua mata yang bengkak dan hidung tersumbat.
"Loh, kita dimana?" tanya Gina, dia melihat sebuah rumah mewah persis di hadapannya. berwarna putih yang megah.
"Ini adalah rumah kita yang baru."
"HA?" Gina sangat tercengang, dia seperti mendapatkan serangan jantung saking terkejutnya. Seolah tidak henti-hentinya kejutan dia terima.
Gina bahkan sampai tidak bisa protes ketika Zidane menggendongnya seperti pengantin baru untuk masuk ke dalam rumah itu.
Wanita itu masih saja tercengang.
__ADS_1
"Selamat datang sayang, ini adalah istana kita. Mendesaah lah yang paling kuat, tidak akan ada penjaga yang mendengarnya."
"Ya Tuhan Zid, ini serius?"
"Tentu saja."
"AAA!!!!" Gina berteriak kuat, bahkan Terdengar sangat memekik di telinga Zidane, entah bagaimana caranya lagi Gina bisa menunjukkan kebahagiaan di dalam hatinya ini.
sampai tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Gina berontak turun dari gendongan itu, lalu melompat dan ingin digendong seperti anak koala.
Zidane menangkapnya dengan sigap, bahkan siap menyambut saat sang istri mencium bibirnya dengan begitu dalam.
"Ahk Zid, ini semua seperti mimpi," ucap Gina, bicara dengan suaranya yang terengaah setelah mencium bibir sang suami.
nafas hangatnya yang memburu menerpa wajah Zidane, jarak mereka begitu dekat. Zidane masih menggendong istrinya dan masuk semakin dalam ke rumah itu.
"Bukan mimpi sayang, ini semua adalah nyata, kamu adalah nyonya muda keluarga Harwell."
"Bagaimana aku bisa menghadapi dunia Zid, pasti tidak akan mudah untuk ku kan? dibandingkan mantan mu yang sangat cantik, di hadapan semua karyawan di peruaahaan mu, aku harus apa? aku harus apaaa?" tuntut Gina dengan cemas, tapi Zidane malah tertawa, saat cemas seperti itu wajah Gina nampak lucu.
Langkah kaki Zidane terhenti saat mereka tiba di meja makan, Zidane mendudukkan sang istri di meja itu.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu melakukan apa-apa Gi, cukup berada di sampingku dan akan ku buat dunia jadi terasa mudah untuk mu. Samantha hanya cantik di wajah tapi hatinya busuk, karyawan perusahaan? kalau mereka macam-macam akan langsung aku pecat."
"Astaga, mengerikan sekali, jangan seperti itu, itu terlalu kejam."
"Jadi bagaimana?"
"Aku di rumah saja terus, tidak usah keluar-keluar."
"Tidak mau berbelanja? memaki black card?"
Gina menelan ludah, tentu saja mau. Tawaran itu terlalu menggiurkan.
"Ya mau sih."
"Jadi sekarang kamu maunya orang menganggap mu sebagai apa? simpanan atau istri sah."
Bibir Gina mencebik.
"Istri sah!" jawabnya dengan ketus dan Zidane tertawa.
Jawaban itu tentu saja membuat Gina harus diketahui oleh banyak orang.
__ADS_1