Ternyata Dia Adalah Bossku

Ternyata Dia Adalah Bossku
BAB 23 - Mau Copot


__ADS_3

"Dia adalah asisten Bryan, asisten pribadimu di perusahaan Harwell Life Ansuran." terang Gina dengan suaranya yang terdengar begitu antusias, sangat serius. Sedikitpun tidak ada canda di dalam ucapannya itu.


Sementara Alden masih tergugu, masih tak bisa membenarkan Semua ucapan sang istri. meski berulang kali Gina mengatakan bahwa dia adalah CEO Harwell Life Ansuran tapi tetap saja baginya itu tidak mungkin.


Dan wajah bingung yang ditunjukkan oleh Alden, seketika membuat Gina kehilangan antusiasnya sendiri. coba berpikir dari sudut pandang Alden yang telah melupakan semuanya. pasti akan sulit untuk menerima ketika kenangan itu benar-benar hilang.


Gina kemudian mengelus pundak sang suami dengan lembut.


"Sudah, tidak perlu diingat-ingat lagi. Biar aku yang akan bantu semua urusanmu," ucap Gina.


Tapi Alden hanya diam saja, dia membuang nafasnya dengan kasar.


Malam bergulir.


Sepasang suami istri itu sudah berbaring di atas ranjang. saat ini waktu menunjukkan pukul 11 malam, Gina telah terlelap sementara Alden masih membuka matanya dan menatap langit-langit di kamar. dia terus membayangkan wajah wanita yang tadi ditunjukkan oleh sang istri.


Kata Gina dia adalah Samantha, salah satu teman dekatnya.


Tapi aku benar-benar tidak bisa mengingat wanita itu. Batin Alden.


Tapi tidak mungkin juga Gina bohong kan?


kalau aku mempercayai Gina, Berarti aku harus percaya juga jika aku adalah CEO perusahaan itu. Alden terus membatin, terus sibuk dengan pikirannya sendiri.

__ADS_1


Sampai entah di jam berapa dia baru bisa benar-benar terlelap.


Pagi datang.


Gina buru-buru sekali untuk datang ke kantornya. dia bahkan sudah tiba di sana di saat semua rekan-rekannya belum ada satupun yang datang.


Gina menyelesaikan semua pekerjaan yang lebih dulu, lalu saat waktu menunjukkan angka 9 pagi Gina sudah berada di lantai 10. Lantai di mana ruangan sang CEO berada. Matanya memindai dengan pasti, menunggu kedatangan Raisa Harwell dan sang asisten Bryan.


Pagi ini juga dia akan katakan tentang Zidane yang ada di rumahnya.


Deg! jantung Gina bergemuruh hebat. Saat melihat pintu lift lantai itu terbuka dan keluarlah dua orang yang dia Tunggu dia di sana.


Tubuh Gina tiba-tiba gemetar, seolah keberanian yang sejak tadi dia kumpulkan kini seketika menghilang begitu saja.


Dan Gina yang berdiri tak jauh dari pintu lift itu terpantau jelas oleh Bryan. pria itu lantas menghentikan langkahnya dan menatap tajam ke arah sang office girl yang dia tidak tahu siapa namanya itu. Karena Bryan berhenti melangkah Raisa pun ikut berhenti juga.


"Ma-ma-maaf Tuan," jawab Gina dengan gelagapan, dia bahkan langsung menundukkan kepalanya dengan sangat dalam memberi penghormatan sekaligus permohonan maaf.


"Lantai 10 bukan tempat yang bisa kamu gunakan untuk bermain, jika tidak ada lagi yang kamu kerjakan lebih baik segera turun." Titah Bryan pula, dan saat itu juga tubuh Gina jadi sangat lemah. Dia benar-benar telah kehilangan semua keberaniannya. Tak kuasa untuk berucap sepatah kata pun tentang Zidane.


"Bryan, kenapa kamu jahat sekali, mungkin dia berhenti di sana karena melihat kita datang," ucap Raisa, akhirnya dia ikut buka suara juga. Hatinya begitu lembut membuatnya tak tega ketika Bryan memarahi salah satu karyawan.


"Maaf Nona, saya begini agar tiap karyawan tau batasan-batasan mereka," tegas Bryan pula.

__ADS_1


Hingga membuat Raisa mencebik, dia tidak tahu apa-apa tentang hal ini. Dan memang Bryan lah yang paling ahli.


Raisa kemudian melanjutkan langkahnya dan Bryan pun mengikuti.


selepas kedua orang itu masuk ke ruangan CEO, Gina baru bisa membuang nafasnya dengan lega.


"Astaga, kenapa asisten Bryan sangat mengerikan, aku jadi takut, huhuhu." Gina rasanya ingin menangis saat ini juga. bahkan untuk mengatakan sebuah kebenaran rasanya begitu sulit.


"Tidak, aku tidak boleh menundanya lagi. hari ini juga aku harus katakan tentang Alden kepada asisten Bryan. Semakin lama aku menutupinya, semakin buruk juga untuk masa depanku sendiri. pasti orang-orang akan mengira jika aku memanfaatkan situasi. Ya, aku harus mengatakannya sekarang!" putus Gina, lagi-lagi keberanian yang muncul. saat itu juga dia melangkahkan kaki dan mengetuk pintu ruang sang CEO.


Namun belum apa-apa, langkahnya langsung dicekal oleh sekretaris Raisa.


"Mau apa kamu?" tanya sekretaris itu dengan nada sedikit tidak ramah. Merasa heran juga kenapa office girl ini berani-beraninya mengetuk pintu ruangan Bos.


"Maaf Nona, Ada yang ingin aku sampaikan pada asisten Bryan dan Nona Raisa, jadi Izinkan saya masuk."


"Tidak, kalau kamu mau menemui mereka ikuti prosedur. Ajukan dulu pada pimpinan HRD." Tegas sekretaris itu pula.


"Tapi Nona, saya bukannya mau mengajukan pengunduran diri."


"Terserah, pokoknya buat surat perihal dulu, apa tujuan mu ingin menemui mereka."


"Saya mohon Nona sebentar saja." Mohon Gina, dia bahkan sampai mengatupkan kedua tangannya di depan dada.

__ADS_1


"Tidak, pergilah!"


"Ada apa ini?" ucap Bryan tiba-tiba, hingga membuat jantung Gina seperti mau copot saat itu juga. Deg!


__ADS_2