
Tentang seluruh keluarga Gina sedang di urus oleh Bryan. Zidane sudah memikirkan hal itu jauh-jauh hari.
Seluruh keluarga Gina saat ini tinggal di kampung.
Tanpa diketahui oleh Gina, Zidane telah memerintahkan satu anak buahnya untuk mendatangi keluarga Gina. Sudah menjelaskan kondisinya, tentang sang tuan yang diselamatkan oleh Gina. Tentang pernikahan yang terjadi karena terpaksa dan kini tentang saling menerima.
Seluruh keluarga Gina tentu terkejut, namun semua penjelasan itu bisa mereka terima.
Setelah semua masalah di perusahaan selesai, barulah Zidane akan memboyong seluruh keluarganya untuk menemui keluarga Gina.
Tapi karena sangat sibuk, Zidane sampai belum menceritakan rencananya itu pada sang istri.
Sementara Gina tidak pernah mengungkit apapun, selalu takut tentang penolakan.
Sekitar jam 11 malam akhirnya Zidane dan Gina tiba di rumah. keluar dari dalam mobil itu presiden sudah menggendong sama istri. tahu jika Hari ini sangat melelahkan bagi Gina, banyak sekali orang yang mereka temui hari ini dan mengharuskan mereka berdua terus berdiri.
"Zid, aku masih bisa kok jalan sendiri."
"Tidak, Aku tidak ingin tenaga kamu benar-benar habis."
"Kenapa? masih ingin mengeksploittasi aku?"
Zidane tertawa.
Lampu di lantai 1 mulai dimatikan oleh salah satu pelayan ketika mereka berdua telah naik ke lantai 2. Malam semakin larut, dan dingin semakin menusuk.
Diluar sana sedikit gerimis.
dalam hitungan menit mereka berdua masuk ke dalam kamar, sudah mulai ada suara mendesaah yang menggelegar.
__ADS_1
"Ahk Zid," lenguh Gina dengan begitu nikmat. tempat paling sensitif pada bagian tubuhnya telah dinikmati oleh sang suami, tapi malah dia yang merasa mabuk, tubuhnya melayang sampai dia mengangkat pinggulnya sendiri.
Dan saat itu juga akhirnya Zidane melakukan penyatuan.
Bergerak mengaduk-aduk semuanya sampai sama-sama menjerit nikmat.
Pagi-pagi Zidane dan Gina telah bersiap untuk pergi ke perusahaan. ini adalah kali pertamanya Gina datang ke perusahaan itu tidak menggunakan baju seragam office girl.
Dia malah menggunakan gaun yang begitu indah setinggi lutut membalut tubuhnya dengan begitu pas.
Sangat serasi kita ketika berdampingan dengan Zidane.
sejak masuk ke dalam mobil untuk pergi ke perusahaan Gina sudah merasa gugup.
Semakin gugup ketika melihat jalanan yang mereka lewati sudah mendekati tujuan.
dan nyaris jatuh pingsan ketika melihat seluruh karyawan di perusahaan itu menyambut kedatangan mereka berdua.
Zidane malah tersenyum.
"Tenang saja, di antara mereka semua tidak ada Rachel, dia sudah menunggu kita di ruangan."
"Benarkah?"
"Iya."
Mendengar itu Gina sedikit merasa lega, sungguh dia tidak ingin sedikitpun melihat Rachel menundukkan kepala kepadanya. tidak ingin dianggap lebih tinggi oleh sang sahabat.
Meski dia adalah istri Zidane tapi tidak akan merubah apapun, mereka tetaplah berteman.
__ADS_1
Semua orang menundukkan kepala seiring perjalanan Zidane dan Gina, Bryan pun mengikuti tuan dan nyonya nya di belakang.
Semua orang menyambut dengan sukacita kembalinya Zidane Harwell di perusahaan ini. dan menatap takjub ketika melihat Gina berada di sampingnya.
Si gadis baik hati yang beruntung.
Masuk ke dalam lift Gina membuang nafasnya dengan lega, akhirnya dia bisa bernafas dengan nyaman.
Zidane yang merasa gemas langsung saja mencium bibir istrinya mesra, menyalurkan nafas buatan secera langsung.
Hingga terdengar bunyi Uh dari mulut wanita itu.
"Uh! empt! Ahk Zid."
Zidane tertawa pelan saat ciuman itu terlepas. Dan Bryan menelan ludahnya kasar.
Tiba di ruangan Gina bertemu Rachel.
"Rachel."
"Nyonya Gina."
"Jangan memanggil ku seperti itu, aku akan menjelaskan semuanya."
Gina dan Rachel duduk disofa, membicarakan banyak hal. Zidane dan Bryan duduk di meja kerja, membicarakan banyak hal pula.
Tapi suara kedua wanita itu terdengar lebih jelas.
Dan tidak ada satupun dari kedua Pria itu yang berani menginterupsi. Bryan takut pada Tuannya, sementara Zidane takut pada kemarahan istrinya. Takut tidak dapat jatah.
__ADS_1
"Anggap saja ini ruangan mereka," ucap Zidane lirih.