
"Maaf Tuan, tapi karyawan OG ini bersikukuh ingin masuk ke ruangan Nona Raisa, jadi saya menahannya." Adu sekertaris itu, dia juga menunjukkan raut wajah menyesalnya karena berakhir menimbulkan keributan.
Dan mendengar penjelasan sang sekretaris kini tatapan tajam Bryan pun langsung tertuju ke arah karyawan OG itu.
Gina seketika tersentak, seperti seorang terdakwa yang siap mendapatkan hukuman.
"Maaf Tuan, tapi ada hal penting yang harus saya sampaikan kepada anda dan Nona Raisa," ucap Gina dengan buru-buru, tak ingin gagal lagi mengutarakan tentang Zidane.
"Saya mohon, sebentar saja beri saya waktu untuk menghadap." Gina sampai membungkuk untuk membuat permohonan itu. sebuah sikap yang membuat Bryan mengerutkan dahinya.
Wanita ini pasti akan mengajukan pinjaman. Batin Bryan. sebuah alasan yang membuatnya sangat malas berurusan. para karyawan yang sangat terdesak dalam keuangannya pasti akan langsung menghadap kepada sang pemimpin untuk meminjam uang alasannya dipotong gaji.
"Tidak perlu masuk ke dalam ruangan Nona Raisa. Katakan sekarang juga apa urusanmu?" tanya Bryan akhirnya. Suaranya masih saja terdengar dingin, tatapannya pun sedikit pun tak luntur dari ketajaman itu.
Gina mengangkat wajahnya menatap sekeliling dengan kegamangan yang dia rasakan. Takut apa yang akan dia ucapkan didengar pula oleh orang lain yang sejatinya musuh Zidane.
Tidak, aku tidak boleh mengatakan hal ini di tempat umum. tapi sepertinya Tuan Brian tidak akan membiarkanku masuk dengan mudah ke dalam ruangan Nona Raisa. Apa? apa? apa yang harus aku lakukan? Gina sangat di bingung, tanpa sadar dia bahkan meremat-remat kedua tangannya sendiri yang sudah basah dengan keringat dingin.
Sampai akhirnya sebuah ide muncul di dalam benaknya. dengan gerakan cepat Gina mengikis jarak di antara dia dan asisten Bryan, selalu membisikkan sebuah kata-kata yang akhirnya berhasil membuat Bryan menaruh atensi kepadanya.
Tuan Zidane ada di rumah ku.
Deg! jantung Bryan berdenyut nyeri, kedua matanya pun seketika melebar ketika mendengar bisikan itu. sementara Gina buru-buru mengambil jarak dan kembali menundukkan kepalanya tak berani bersitatap dengan asisten Bryan.
__ADS_1
Sementara sang sekretaris yang melihat pemandangan itu pun seketika menganga mulutnya, namun buru-buru dia tutup menggunakan kedua tangan.
Karyawan OG itu benar-benar cari mati, Bagaimana bisa dia punya keberanian untuk membisikkan sesuatu kepada asisten Bryan yang dikenal sebagai asisten Killer.
Tanpa banyak kata lagi Bryan dengan segera menarik baju Gina untuk membawa karya wanita itu masuk ke dalam ruangan sang CEO.
Dan sikap Bryan itu makin membuat sekretaris wanita itu mendelik.
"Ha? Apa yang terjadi? Kenapa asisten Bryan membawa wanita itu masuk ke ruangan Nona Raisa? Sebenarnya apa yang baru saja dibisikan oleh wanita itu?" tanyanya bertubi, tapi tidak ada satupun yang bisa menjawab karena di Sana hanya ada dia seorang. memperhatikan pintu ruangan sang CEO yang kini sudah kembali tertutup.
Di dalam ruangan itu, jantung Gina semakin bergemuruh hebat apalagi saat ini dia berdiri di hadapan asisten Bryan dan Nona Raisa sekaligus. Nona Raisa yang sedang duduk di kursi kerja, sementara asisten Bryan berdiri di sampingnya.
"Ulangi, apa yang kamu ucapkan padaku di depan?" tanya asisten Bryan.
"Bryan, ada apa sih?" tanya Raisa pula.
Sementara Gina makin gelagapan tidak tenang.
"Dengarkan saja apa yang akan karyawan itu sampaikan Nona."
"Apa memangnya? Apa yang mau kamu sampaikan?" tanya Raisa, pertanyaan itu tertuju pada Gina.
Dan akhirnya Gina ambruk juga, kakinya yang gemetar tak sanggup lagi menopang diri. Dia bersimpuh di lantai.
__ADS_1
Raisa dan Bryan terkejut. Keduanya buru-buru membantu sang karyawan untuk bangkit.
"Kamu sih, menakut-nakuti dia," kesal Raisa, menatap tajam pada asisten Bryan.
"Saya tidak menakut-nakuti dia Nona. Saya memang seperti ini."
"Sudah cepat bawa duduk ke sofa."
"Ma-maaf," ucap Gina gagap.
"Katamu hanya sebentar, tapi malah membutuhkan waktu lama," balas asisten Bryan.
"Asisten Bryan! diamlah! biar aku yang bicara dengannya," ketus Raisa pula. Namun wajahnya tak bisa berubah jadi marah, tetap saja terlihat manis.
Asisten Bryan menyingkir, namun masih mampu mendengar keduanya bicara.
"Sekarang katakan, apa yang mau kamu sampaikan?"
"Maaf Nona, tapi ini tentang tuan Zidane."
Deg! Raisa dan asisten Bryan sama-sana terkejutnya. Tenyata Bryan tidak salah dengar saat di luar tadi.
"Apa maksudmu?" tanya Raisa pula, kini kedua matanya sudah berkaca-kaca mengingat sang adik.
__ADS_1
Dan saat itu juga, Gina menceritakan semuanya..