
Zidane terdiam, bukannya dia tidak mau mengabulkan Apa keinginan Gina, dia hanya merasa terkejut dengan permintaan sang istri, Leon dan Samantha saja secara sembunyi-sembunyi ingin merebut semua hartanya tetapi Gina meminta dengan terang-terangan.
"Baiklah, aku akan meminta Bryan untuk datang kesini. Tapi pakai baju mu dulu."
Zidane berjongkok dan memakaikan cellana dalam.
"Kamu serius Zid?"
"Hem."
"Kamu akan memberikan semua harta mu padaku?!"
"Iya."
"Kenapa?!"
"Karena kamu adalah istri ku, seseorang yang akan mengurus ku dan anak-anak kita nanti, jadi apa salahnya jika semua harta itu kamu yang pegang."
"Aku tidak sedang bercanda Zid."
"Berdirilah."
Gina menurut, saat dia berdiri Zidane melepas handuknya, memasangkan braa.
"Kamu mempermainkan aku?" tanya Gina lagi.
"Tidak."
Setelah Gina memaki bajunya, Zidane pun mengganti baju dia juga karena basah.
__ADS_1
Di dapur sudah ada seorang pelayan yang menyiapkan mereka sarapan. Gina tercengang, dia bahkan tidak tahu jika ada seorang pelayan masuk ke dalam rumahnya.
Gina dan Zidane duduk berdampingan. di atas meja sudah tersaji banyak makanan lezat.
"Ba-bagaimana bisa ada orang itu."
"Tidak usah dibahas, makan lah."
"Zid_"
Cup! Gina terlalu banyak bertanya, jadi hanya dengan bigini lah sang istri bisa diam. Bukan hanya ciuman, tapi Zidane pun meremaas kuat salah satu buah dadda sang istri.
Gina menjerit kecil, bagaimana bisa Zidane seperti ini disaat ada seorang pelayan bersama mereka.
"Zid!" Gina memukul lengan sang suami.
Hampir jam 8 pagi Bryan sampai di rumah ini. Membawa daftar semua aset dan harta milil sang Tuan.
Mereka semua berkumpul di ruang tamu.
"Maafkan sikap kasar saya selama ini Nyonya Gina," ucap Bryan, lengkap dengan kepalanya yang menunduk memohon maaf dan sebagai tanda hormat sekaligus.
"Ti-tidak perlu meminta maaf asisten Bryan, jangan menunduk seperti itu," balas Gina, dia malah jadi takut sendiri.
Sementara Zidane tidak peduli, dia malah menarik pinggang Gina agar duduk lebih dekat dengannya.
"Bryan, urus semua surat-suratnya, aku ingin pernikahan ku dengan Gina sah secara hukum, daftarkan dengan nama asliku, Zidane Harwell."
"Baik Tuan."
__ADS_1
Gina hanya mampu membeku.
"Dan ini adalah daftar semua harta yang aku punya, kecuali perusahaan, itu bukan milik ku sendiri, ada hak kedua orang tuaku dan Raisa."
Gina makin tak percaya dengan apa yang dia dengar, Gina malah ingin menangis.
"Memindahkan semuanya jadi nama dirimu akan membutuhkan banyak waktu, jadi sekarang aku hanya bisa memberimu harta ini, black card."
Gina akhirnya benar-benar menangis.
Tapi dia tidak ingin gentar, dia benar-benar butuh bukti, bahwa selamanya Zidane tidak akan pernah meninggalkan dia.
Gina mengambil black card itu dan di genggamnya erat.
"Passwordnya akan aku ubah sesuai tanggal lahir mu."
"Kamu serius Zid? aku tidak akan mengembalikan ini padamu."
"Tentu saja aku serius dan jangan lupa, bukan hanya aku yang tidak akan bisa pergi dari kamu Gi. Selamanya kamu juga tidak akan pernah bisa kabur dariku."
Kalimat yang diucapkan oleh Zidane itu terdengar penuh dengan ancaman, tapi Gina malah tidak merasa takut sedikitpun, dia malah senang. Ancaman yang menyenangkan.
Ada sedikit rasa lega di hatinya melihat semua tindakan Zidane pagi ini.
Gina lantas menangkup wajah sang suami menggunakan kedua tangannya dan menjatuhkan sebuah ciuman nikmat di atas bibir itu.
Zidane tentu menyambutnya dengan lidah.
Mereka sampai lupa keberadaan asisten Bryan disana.
__ADS_1