Ternyata Ini Cinta

Ternyata Ini Cinta
Asisten Pribadi (6)


__ADS_3

“ Hai Vir!” sapa Tya.


“ Eh, Kak Tya.” Vira menoleh kearah Tya yang saat ini sudah berdiri disamping nya.


“ Udah waktunya makan siang nih! Yuk, kita makan siang bareng.” Ajak Tya.


Meskipun ini hari pertama nya Vira bekerja disana, dan juga baru berkenalan beberpa jam yang lalu dengan Tya. Namun, Tya sungguh sangat bersikap baik padanya. Itu semua karena Tya yang merasa sangat cocok dengan


Vira, ya… meskipun baru beberapa jam yang lalu berkenalan.


“ Ooo, udah waktunya makan siang ya Kak?” Tanya Vira.


“ Hmm, ya. Mari kita makan bersama.” Ajka Tya lagi.


“ Baiklah.” Vira menerima ajakan Tya.


Namun, saat ia mulai berdiri dari tempat nya tiba-tiba saja telepon nya bordering.


“ Kak, bentar ya, ada yang nelpon nih!” Seru Vira.


Tya menganggukkan kepalanya, sedangkan Vira kini segera


mengangkat telepon nya.


“ Cepat keluar dari kantor! Aku menunggumu di parkiran mobil sekarang juga!” Seru Indra dari balik telepon. Lalu kemudian memutuskan sambungan nya begitu saja tanpa ingin mendengar apapun yang keluar dari mulut Vira.


Tut! Tut! Tut!


Setelah meletakkan kembali telepon nya pada tempat nya. Vira kemudian menghampiri Tya yang sedang duduk menunggunya.


“ Kak Tya, maaf ya. kayak nya hari ini Vira nggak bisa makan siang bareng Kaka, karena tadi Tuan Indra telepon. Katanya dia ingin Vira segera kesana, menemuinya di parkiran mobil, mungkin ada tugas yang harus Vira selesaikan Kak.” Kata Vira yang merasa tak enak hati dengan Tya.

__ADS_1


“ Oya, siang ini Tuan Indra aka nada pertemuan dengan Klien. Mungkin saja dia ingin mengajak mu kesana dan makan siang bersama mereka.” Ucap Tya antusias. “ Yasuda, kalau gitu kamu cepetan temui Tuan Indra. Jangan


membuatnya menunggu lama, bisa-bisanya dia nanti akan marah besar jika harus menunggumu terlalu lama.” Tambah Tya lagi.


Vira pun mengangguk mengerti, lalu kini ia pun segera pergi dari sana sesegera mungkin.


Diluar kantor, tepatnya di lobi parkiran.


Vira berjalan dengan sangat tergesa-gesa sehingga membuat kaki nya lecet karena sepatu yang di gunakan nya. Vira tak mengindahkan itu, yang terpenting baginya saat ini adalah samapi dengan cepat ke mobil Indra, karena takut Tuan nya akan marah karena nya.


Dilihat nya kemana-mana, akhirnya Vira menemukan letak mobil Indra yang terparkir disana. Vira cepat dapat menemukan nya, karena mobil yang di naiki Indra sangat berbeda dari yang lainnya. Tentunya, mobilnya lah yang


terlihat paling mewah diantara mobil-mobil yang ada disana.


Setibanya di mobil Indra, Vira pun dengan segera menghampiri bagian depan mobil itu berniat menyapa Indra yang berada di setir kemudi.


“ Maafkan saya Tuan, karena sudah membuat anda menunggu.” Kata nya dengan nafas terengah-engah.


“ Ngapain kau berdiri disitu? Cepat, masuk kemari!” Bentak Indra.


Vira melongo begtu melihat Indra ternyata duduk di kursi belakang.


Hah! berarti tadi aku bicara dengan supir nya? Pantas Indra jadi marah seperti itu. Ternyata aku melapor kepada orang yang salah.


Gumam nya.


Tak ingin berlama-lama dan membuat Tuan nya bertambah semakin lama. Kini Vira segera beralih menuju kearah kursi belakang, membuka pintunya lalu masuk kedalam mobil dan duduk berdampingan dengan Indra.


Deg!


Apaan sih! Kenapa aku jadi grogi gini duduk berdampingan langsung dengan nya?

__ADS_1


Vira memasang sikap yang biasa-biasa saja, tak ingin menunjukkan kegugupan nya. Sementara itu, Indra kini tampak menatap dingin kearah nya.


“ Darimana saja kau? Kenapa begitu lama sampai kesini?” Tanya Indra.


“ Maafkan saya Tuan. Kaki saya tidak mampu melangkah terllu cepat, maka dari itu saya agak lama bisa sampai disini.” Sahut Vira polos.


“ Kalau begitu, apa gunanya kakimu, potong saja kalau begitu. Di gunakan jalan saja begitu lama.” Ketus Indra.


Vira tak menjawab, malah kini ia menatap kearah Indra dengan tatapan tidak senang, atas apa yang baru saja diucapkan laki-laki itu terhaapnya.


“ Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau tidak senang?” Tanya Indra dengan wajah yang semakin mencekam.


“ Eh, ti-tidak Tuan, buka maksud saya begitu. Maafkan saya, saya salah.” Balas Vira.


“ Heh, seorang gadis kampung saja berani-beraninya menatapku hingga seperti itu. “ Indra tampak memperbaiki jas yang di kenakan nya. “ Andi! Tunggu apalagi? Buruan jalan!” perintah nya dengan nada tinggi.


“ Baik Tuan!”


Andi si supir pribadi yang sudah bekerja selama lima tahun terakhir dengan keluar Indra pun kini mulai meghidupkan mesin mobilnya, menjalankan mobil nya, lalu pergi meninggalkan lobi perkiran itu dan menuju kearah


salah satu restoran mewah yang ada di Jakarta.


Setelah perdebatan di lobi parkiran tadi. Kini tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut keduanya. Dari arah depan, Andi tampak melirik kearah belakang. Memperhatikan Tuan nya dan juga Asisten pribadinya yang baru. Membuat Andi tersenyum sendiri membayangkan tentang pertengkaran yang terjadi barusan.


“ Kenapa kau senyum-senyum sendiri? Apa kau sudah gila?” Ketus Indra. “ Setir kemudi mu dengan baik, jangan pernah lagi melirikku di belakang. Jika tidak, gajimu bulan ini tidak akan aku bayar!” Tegas Indra dengan nada mengancam.


Sungguh Indra adalah orang yang begitu peka. Melihat sedikit saa keaanehan yang ada di sekitarnya, dengan cepat ia bisa menebaknya.


Sementara kini Andi memilih memfokuskan menyetir mobil nya, tak ingin jika ucapan Bos nya benar-benar di lakukan nya.


Cih! Dasar Bos sombong! Baru di lirik seperti itu saja, sudah main ancam nggak bakalan ngasih gaji. Sungguh malang nasib pria ini.

__ADS_1


Gumam Vira


__ADS_2