
Sepanjang perjalanan, tak ada satu pun kalimat yang terucap. Sesekali Indra menatap kearah Vira yang saat ini duduk di samping nya. Sementara Vira tampak memperhatikan jalanan kota yang begitu ramai pada malam hari.
Ada apa dengan Bos sombong ini? Kenapa dari tadi dia terus menatapku ya?
Vira bertanya-tanya didalam hati.
Sial! Kenapa gadis kampung ini bisa terlihat sangat cantik ya, membuat perasaanku tak karuan saja.
Indra mengumpat kesal.
Mobil kini berhenti di area parkiran restoran. Setelah di bukakan pintu oleh Andi, Indra pun kemudian segera turun dari sana. Andi kini beralih menuju kearah pintu Vira, berniat membukanya. Namun, setibanya disana, gadis itu ternyata sudah turun dari mobil.
“ Mari Nona kita langsung masuk kedalam.” Hormat Andi.
“ Makasih Kang.” Ucap Vira lembut seraya melemparkan senyum nya.
Ya Tuhan, manis sekali senyum nya Non Vira. Aku berani bertaruh, Tuan Indra juga pasti menyukainya.
Gumam Andi.
Indra melangkah dengan sangat cepat, membuat Vira tertinggal di belakang. Dengan menggunakan sepatu hak tinggi yang lebih panjang dari yang di pakai nya tadi di kantor. Membuat Vira agak susah menyesuaikan langkah nya.
Kini Indra pun dusah masuk kedalam restoran, dan Vira tak henti mengukitinya. Hingga saat ia berjalan begitu cepat, kaki Vira terseok hingga membuatnya jatuh tersungkur ke lantai.
“ Aww!” Pekik Vira.
Membuat Indra yang melangkah didepan menghentikan langkah nya. Lalu menoleh ke belakang.
“ Ya Tuhan, memang dasar gadis kampung tidak bisa diajak kemana-mana.” Rutuk nya kesal.
Lalu kini mau tak mau Indra pun menghampiri Vira yang sedang terduduk di lantai.
__ADS_1
“ Sial! Lantai nya licin sekali. Jatuh kan jadinya.” Lirih Vira.
“ Bukan lantai nya yang licin, tapi kau yang jalan entah seperti apa.” Ketus Indra.
Bukan nya menolong Vira, Indra kini malah mengatai Vira. Malah Andi si sopir pribadi yang berusaha membangunkan Vira dari lantai.
“ Sini Non, saya bantu.” Di angkat nya perlahan tubuh Vira, membantunya agar bisa berdiri kembali.
Huh! Dasar pria tak punya hati. Ini akan jadi kali pertama dan terakhir kalinya aku meminta sesuatu padamu.
Sungut Vira dengan kekesalan nya.
“ Terimakasih Kang.” Ucap Vira lembut.
Andi membalas nya dengan anggukan dan juga senyum manis.
Sementara itu, Indra yang melihat Vira sudah kembali berdiri, kini kembali membalikkan badan dan berjalan menuju kearah meja VIP yang ada di restoran itu.
Vira berjalan dengan menenteng sepatu hak tinggi miliknya. Dengan tertatih-tatih dan juga kaki polos ia melangkah mengikuti Indra dari belakang. Lalu saat Indra telah tiba di sebuah meja dan menduduki kursinya, Vira pun lantas dengan cerobohnya melempar sepatunya ke lantai dan ikut duduk bersama Indra.
“ Dari tadi kau berjalan mengikutiku dengan menenteng sepatu seperti itu?” Tanya Indra dengan tatapan sinis.
“ Apa kau tidak malu di lihat oleh orang-orang lain dengan gaya jalan mu yang seperti itu!” seru Indra dengan sedikit menahan suaranya. Sehingga kini suara itu terdengar sedikit agak berat.
“ Aku tidak perduli.” Balas Vira masa bodo.
Indra mengeram kesal, melihat ekspresi yang di tunjukkan gadis itu saat ini. Ekspresi yang sama sekali tak perduli dengan orang-orang di sekitar. Toh, buat apa perduli, Indra saja tidak perduli dengannya. Jadi untuk apa dia harus perduli dengan reputasinya, begitu pikir Vira.
Kini Indra memilih menahan kekesalan-nya, di telan-nya dulu sedikit emosi yang ada. Setelah tiba di-mobil nanti, baru ia akan melimpahkan emosi-nya, begitu pikir nya. Sekarang yang terpenting adalah segera memesan makanan untuk gadis kampung yang ad di depan-nya, agar setelah ini ia bisa segera pergi dari sana.
***
Beberapa saat kemudian.
Aneka makanan yang di pesankan tadi telah datang, dan terhidan rapi oleh pramusaji restoran. Vira yang melihat itu sungguh sudah tak sabar lagi ingin mencicipinya. Namun, ia menunggu dulu Indra menyantap-nya duluan.
__ADS_1
“ Hari ini kau jangan makan pakai tangan, mengerti.” Ucap Indra.
“ Memang nya kenap kalau pakai tangan? Bukankah hal itu sudah biasa?” Tanya Vira.
Ia sangat tidak setuju dengan larangan Indra.
“ Tidak usah banyak tanya. Jika kau tidak menurut, maka aku akan menyeretmu keluar dari sini.” Kata Indra dengan nada dingin.
Dasar Indra sialan! Bisa-bisanya dia mengancam ku seperti itu. Hmm, baiklah, kali ini aku menurut saja, dari pada berdebat di depan makanan kan pamali kalau kata orang tua.
Gumam Vira.
Dengan mengikuti perintah Indra, kini Vira mulai meraih garpunya dan juga pisau kecil yang ada disana. Karena saat ini makanan yang ingin di santap terlebih dulu oleh Vira adalah steak daging sapi.
Dilihat nya kearah Indra, bagaimana caranya memotong daging itu itu kecil-kecil, lalu memasukkan-nya ke mulut, lalu kini Vira mencoba mempraktekkan-nya dengan makanan-nya. Alhasil, daging sapi yang ada di piring nya melompat kearah Indra.
“ Ups, maaf.”
Vira membelalakkan matanya, ia sama sekali tak menyangka jika makanan itu akan melompat saat ia ingin memotong nya. Entah bagaimana caranya memotong, yang pasti saat ini makanan itu sudah tidak ada lagi di
piring nya.
“ Kau!”
Indra menggertakan giginya, tangannya juga mencengkeram erat garpu yang ada di tangan nya. Untung saja makanan jatuh diatas meja, sehingga tak mengenai dirinya. Jika saja hal itu sampai terjadi, mungkin emosi Indra
sudah tak bisa tertahankan.
Kini Indra berusaha mengatur pernafasan nya, meredakan sedikit demi sedikit emosinya.
“ Jika kau tidak bisa memakan yang itu, maka jangan di ambil. Bukankah disini maih banyak makanan yang lainnya.” Ucap Indra.
“ Tapi aku ingin yang itu.” Sahut Vira menunjukkan kearah steak nya.
Lagi-lagi Indra menahan emosinya.
__ADS_1
“ Kau makan yang ini! Aku akan memakan yang lainnya.” Diserahkan nya steak miliknya yang sudah di potong-potong kecil oleh nya, lalu kini Indra mengambil makanan lain yang ada disana.
BERSAMBUNG