
Setibanya dirumah.
Dengan langkah kaki yang agak sedikit pincang, menuju masuk kedalam kamar nya. Kebetulan letak kamar Vira berada di lantai bawah, sehingga kini tanpa berjalan jauh menulusuri ruangan, Vira pun telah tiba di kamar nya.
“ Hufft! Hari ini sungguh adalah hari yang sangat menyebalkan.” Keluh Vira.
Di letakkan-nya sepatu nya di sudut pintu kamar, sementara Vira kini berjalan menuju kearah ranjang dan membaringkan diri disana.
“ Jika di pikir-pikir, Indra itu sebenar nya sangat tampan. Namun sayang nya sifat nya sangat angkuh dan menyebalkan.” Ucap Vira.
Dilihatnya ke langit-langit kamar nya seraya membayangkan wajah Indra.
“ Andai saja Indra itu baik seperti Tante Lisna. Pasti aku akan sangat senang bisa berteman dan juga dekat dengan nya.” Ucap nya lagi.
Tanpa terasa kini Vira senyam-senyum sendiri membayangkan Indra, lalu sesaat kemudian ia kembali sadar.
“ Eh, kok aku jadi ngebayangin si Indra nyebelin itu sih!” Vira mengerutkan dahinya, lalu kini di cubit nya pipinya dan juga di tepuk-tepuk nya dengan kedua telapak tangan nya agar ia tersadar. “ Bangun Vir, kamu nggak boleh ngehayalin dia. Cowo seperti itu enggak mungkin mau berteman sama kamu, bahkan lihat bayangan mu saja sudah membuat nya marah-marah.” Vira berusaha menyadarka diri sendiri.
__ADS_1
Sementara itu,
Derapan langkah suara sepatu yang menyentuh lantai kian berpadu di saat Indra memperlaju gerakan kakinya. Disana di lantai atas, atau lebih tepat nya didepan kamar nya, Andi si supir pribadi yang merangkap juga sebagai pelayan pribadi kini terlihat sudah membukakan pintu nya.
“ Silahkan masuk Tuan,” dengan membungkukkan badan nya Andi mempersilahkan Tuan nya masuk kedalam kamar nya.
Di ikutinya langkah kaki Indra yang saat ini telah duduk di sofa, ia pun kini berdiri di hadapan nya hendak membungkukkan badan nya dan berniat membantu Indra melepaskan sepatunya.
“ Aku bisa melakukan nya sendiri, sekarang kau pergi ke dapur dan ambilkan aku air dingin.” Perintah Indra.
Lalu kini tak berapa lama kemudian.
“ Tuan, air nya.” Di sodorkan-nya sebotol air dingin kearah Indra.
“ Hmm, terimakasih.” Indra membuka tutup botol nya lalu dengan segera meminum air nya.
Glek! Glek! Glek!
__ADS_1
“ Ah…” Di seka nya sisa air yang ada di pinggir bibir nya dengan tangan nya, lalu kemudian ia menutup kembali botol minuman itu dan meletakkan-nya diatas meja.
Indra membentangkan sayap nya, menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Sembari menghela nafas nya, kini Indra mulai membuka percakapan tentang apa yang di lakukan Vira di restoran.
“ Kau lihat tadi Ndi? Betapa bodoh nya dia, bisa-bisa nya ia terjatuh disana.” Indra mulai mengenang momen-momen di saat Vira terjatuh. “ Terus, tanpa malu ia bahkan menenteng sepatunya di depan banyak orang.” Ansi hanya diam mendengarkan kekesalan Tuan nya.” Bahkan lebih parah nya, Steak saja melompat dari piring nya saat ia sedang memotong nya.” Di pegangi nya dahinya dengan tangan kirinya.
Mungkin Indra tak habis fikir saat membayangkan kejadian tadi.
“ Kok ada ya, manusia **** seperti dia yang memotong Steak saja tidak bisa.” Keluh nya kemudian diam sesaat. Lalu sesaat kemudian Indra menoleh kearah Andi yang masih setia berdiri disana. “ Ndi, besok kau cari seseorang yang bisa mengajarinya cara makan yang benar, dan juga cara jalan yang benar. Aku nggak mau jika nanti orang-orang menertawakan ku hanya karena dia tidak bisa berjalan dan makan dengan benar.” Kata Indra.
“ Baik Tuan, segera saya laksanakan.”
“ Hmm,” Andi memang sangat bisa di andalkan. Sebagai pelayan pribadi ia selalu bisa mengatasi permasalahan yang ada, membuat Indra merasa sangat puas dengan nya. “ Ini sudah malam, kalau begitu sekarang pergilah dari
sini dan beristirahatlah.” Kata Indra.
Ia lalu berdiri dan melonggarkan dasinya.
__ADS_1