Ternyata Ini Cinta

Ternyata Ini Cinta
Menikah?


__ADS_3

Di sebuah tempat tidur besar yang ada disana. Seorang gadis terlihat termangu, duduk dengan menopang dagunya. Kening mengkerut memikirkan sesuatu hal yang tadi siang di bicarakan teman nya.


Apa benar yang di bilang Kak Tya, jika Tuan Indra menyukai ku? Tapi bagaimana bisa, melihatku saja dia enggan, bahkan bicarapun dia selalu ketus.


Vira tampak memikirkan bagaimana sikap Indra kepadanya.


Aaaa… Vira! Indra itu bagaikan pangeran berdarah dingin, sedangkan kau hanya itik buruk rupa yang berasal dari kampung. Bagaimana bisa kau terkecoh hanya karena teman sekantor mu mengatakan hal seperti ini.


Vira menekan-nekan dahinya dengan kedua belah jari tangan nya. Lalu kini menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, menutup mata dengan bantal.


Ke esokan harinya.


Lisna kini sudah berada di rumah, duduk di kursi meja makan menunggu kedatangan Vira dan juga Indra. Tak berapa lama kemudian, kedua anak manusia itupun datang secara bersamaan.


“Ma, udah pulang.” Sapa Indra seraya menarik kursinya.


“Iya, tadi malam Mama sampai nya.” jawab Lisna.


Sementara Vira hanya diam dan duduk di kursinya.


“Hai Vir!” sapa Lisna.


“Hai Tante.” Balas Vira, menoleh seraya menyunggingkan senyum nya.


“Bagaimana, kerjaan kamu, lancarkan?” tanya Lisna


“Alhamdulillah Tante.” Jawab Vira seraya tersenyum.


“Betah kamu kerja disana? Indra juga tidak pernah mempersulitmu kan?” tanya Lisna lagi.


“Hah, tidak Tante. Justru Tuan Indra baik sekali kepada Vira, sehingga membuat Vira terlalu betah bekerja sekarang.”

__ADS_1


Tapi bohong. Jika boleh jujur, sekarang juga Vira ingin berhenti bekerja di kantor Indra.


Batin Vira.


“Syukurlah.” Lisna bernafas dengan lega.


Sementara Indra.


Pintar juga dia bohong.


Batin Indra seraya memasukkan sandwich kedalam mulut nya.


“Indra, Vira.” Panggil Lisna, menatap kearah mereka secara bergantian.


Vira dan Indra pun serentak menoleh kearah Lisna.


“Iya Ma, ada apa?” tanya Indra yang juga mewakilkan pertanyaan yang ingin di tanyakan Vira juga.


“Sesuatu, apa?” Indra mengerutkan dahinya.


Sementara Vira memilih diam, mendengarkan hal apa yang akan di bicarakan.


“Indra, Vira,” kembali menatap keduanya secara bergantian. “Mama ingin kamu dan Vira segera menikah Nak.” Ucap Lisna yang kini menatap Anak nya Indra.


“Pruufft!” Indra menyemburkan susu yang baru di minum nya. “Mama bilang apa tadi?” mengerlingkan pandangan nya kearah Lisna seolah masih tak percaya dengan apa yang di dengar nya.


“Mama ingin kamu menikahi Vira Nak.” Lisna menegaskan kembali kalimat nya.


“Apa!” Indra mengerutkan dahinya, seolah masih tak percaya dengan apa yang sudah di dengar nya.


“Mama ingin kamu segera menikahi Vira.” Tegas Lisna lagi.

__ADS_1


“Tidak mungkin.” Dengan cepat Indra menjawab, seraya memalingkan wajah.


“Kenapa?” tanya Lisna. Wajah nya terlihat sedikit kecewa sekarang.


“Indra tidak mencintai Vira Ma, jadi mana mungkin Indra bisa menikahi Vira.” Mencoba meenjelaskan keadaan.


“Cinta itu bisa datang seiring berjalan nya waktu.” Ucap Lisna meyakinkan.


“Tante,” Vira menggelengkan kepalanya. “Vira juga tidak bisa menikah dengan Indra.” Menimpali pembicaraan Ibu dan Anak itu. Ya, walau bagaimana pun Vira juga berhak menimpali nya karena ini juga menyangkut tentang dirinya.


“Tidak Vir, mau tidak mau kalian berdua harus menikah, titik!” Lisna menekankan suaranya.


“Tapi Tan, Vira dan Indra tidak saling mencintai. Jadi mana mungkin kita bisa bersama.” Vira mencoba menjelaskan alasan kenapa ia menolak. Namun, Lisna sepertinya tidak mau dengar.


“Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. Jadi Tante tidak ingin mendengar alasan itu agar kalian bisa menolak perjodohan ini.” Lisna akembali menekankan suaranya.


Keinginan nya sudah bulat, Indra dan Vira harus segera menikah. Janji nya kepada Bang Rusman harus segera terealisasi, dan juga ia merasa jika Vira adalah jodoh yang tepat untuk Anak nya.


“Nggak bisa Ma, Indra nggak mau!” Indra mengerutkan dahinya. “Indra nggak mau menikah. Jika pun harus menikah, Indra nggak mau menikahi gadis kampung sepertinya.” Tatap Indra sinis kearah Vira.


“Indra, cukup!” sentak Lisna. “Meskipun Vira gadis kampung. Namun, dia adalah gadis baik-baik.” Ujar nya menatap dingin kearah Anak nya. “Apalagi jika di bandingkan dengan pacarmu Alya yang kamu bangga-banggakan itu. Hingga akhirnya, setelah pengorbanan besar darimu di balas pengkhianatan darinya.” Lisna kembali mengingat akan masa lalu Indra sekarang.


“Ma, siapa yang bisa menjamin jika Vira tidak akan melakukan hal seperti itu.” Kembali menatap sinis kearah Vira. “Gadis kampung sepertinya, jika bukan kekayaan. Apalagi yang di inginkan nya.” mulai menyepelekan, merasa yakin dengan ucapan nya.


“Tuan, maaf, Saya pun tidak ingin menikah dengan Anda. Pria kaya, sombong, angkuh dan semena-mena seperti Anda bukanlah tipe Saya. Saya lebih suka dengan pria sederhana yang bisa menghargai sesama, bukan seperti Anda yang menilai semuanya dengan uang. Menganggap siapa pun yang ingin dekat dengan Anda hanya menginginkan uang Anda.” Tegas Vira. Lalu kini Vira pun menoleh kearah Lisna. “Tante, maaf. Vira tidak bisa menerima perjodohan ini. Bagi Vira pernikahan itu sakral, yang di lakukan sekali seumur hidup. Vira nggak mau


menikah dengan pria sombong dan arogan, apalagi menghabiskan waktu seumur hidup dengannya.” Mengerlingkan tatapan tajam kearah Indra sekarang.


“Tapi Vira…”


“Tante, maaf.” Vira menundukkan kepalanya, lalu melangkah pergi dari sana.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2