
Di dapur.
Indra terlihat duduk di sebuah kursi yang berada disamping meja berukuran sedang yang ada disana. Meja yang biasa di pakai para pembantu untuk menaruh bahan-bahan masakan. Di topang nya dagunya dengan sebelah tangan nya seraya menatap kearah Vira yang saat ini sedang membuat alat untuk memasak Mie Instant.
Vira menghaluskan beberapa buah cabai dan juga bawang. Potongan sayur seperti irisan wortel, sawi dan juga bunga kol sudah berjejer rapi disana. Vira sudah mencucinya, sehingga kini ia hanya tinggal memasak nya.
Namun, ia menunggu sejenak. Karena Pak Kosim yang belum datang membawa Mie Instant yang di belinya.
Beberapa saat kemudian.
Seorang pria paruh baya yang tak lain adalah Pak Kosim kini terlihat berjalan menuju kearah dapur. Sebuah kantong terlihat ia tenteng di tangan nya, lalu kini setelah tiba disana Pak Kosim meletakkan nya diatas meja
tepat didepan Indra yang sedang duduk menunggu.
“ Tuan, ini Mie Instant nya.” Ucap Pak Kosim.
“ Hmm, terimakasih Pak.” Indra menganggukkan kepalanya pelan. “ Kembalian nya ambil buat Pak Kosim saja.” Kata nya kemudian.
Pak Kosim lantas tersenyum. Merasa senang karena Indra yang memberikan seluruh kembalian belanjaan kepadanya. Bagaimana tidak, sisa kembalian uang belanjaan itu senilai sembilan puluh ribu. Yang bagi Pak Kosim
uang segitu sungguhlah berharga.
“ Terima kasih banyak Tuan. Kalau begitu saya permisi balik berjaga kedepan.” Senyum bahagia terlihat tergambar disana. Di wajah tua milik nya. Kini ia pun berlalu meninggalkan tempat itu, kembali ke tugas nya berjaga didepan rumah.
Melihat Mie Instant yang sudah ada disana. Viraa tanpa menunggu lama kini mulai memanaskan wajan nya. Di tumis nya bumbu yang sudah di haluskan nya, lalu setelah itu ia memasukkan sayuran dan menambah sedikit air disana.
“ Kau biasa masak seperti ini ya?” Tanya Indra yang sedari tadi terus memperhatikan cara kerja Vira di dapur.
“ Ya, dulu di kampung. Saya serng memasak Mie Instant untuk lauk makan bersama Bapak. Jika Bapak sedang tidak ada uang.” Ucap Vira yang sedikit menceritakan masa lalu nya.
__ADS_1
“ Memang nya kalian semiskin itu, sehingga untuk makan saja harus dengan Mie Instant?”
“Ya, karena Mie Instant kan harga nya murah. Jadi jika uang Bapak tidaak cukup untuk membeli beras, maka kami akan makan Mie Instant sebagai pengganjal perut. Yah, yang penting bisa makan lah dari pada tidak sama sekali kan!” Tukas Vira.
Melihat air yang telah mendidih, Vira yang sudah selesai membuka bungkus Mie nya kemudian memasukkan nya kesana. Dan kini ia terliat membolak-balikkan nya agar Mie tersebut cepar matang.
Kasihan sekali dia, pantas saja ia terlihat seperti gembel. Memakai pakaian yang begitu lusuh saat datang ke kota. Ternyata hidupnya sangat miskin di kampung.
Gumam Indra.
Di perhatikan nya pakaian yang saat ini di kenakan Vira. Rok usang dan juga kaos oblong yang terlihat begitu lusuh. Jika ada orang lain datang bertamu dan melihat nya dengan penampilan seperti ini, mereka pasti akan
mengira jika Vira adalah salah satu asisten rumah tangga nya.
Makanan telah matang. Vira kini mengambil dua buah mangkuk untuk menyajikan Mie nya disana. Setelah membaginya menjadi dua bagian. Kini Vira pun berjalan kembali ke meja dan meletakkan semangkuk Mie didepan Indra.
Kemudian, Vira kembali lagi dengan membawakan dua gelas kosonng dan menuangkan air dingin nya disana.
“ Makasih ya Vir.” Indra tersenyum.
Lalu kini ia mengambil sendok makan nya dan mulai menyedok Mie dan memasukkan nya ke mulut.
Vira kini terlihat menatap serius kearah Indra. Ini kali pertama baginya melihat Indra berkata lembut kepadanya. Bahkan saat ini, Indra juga tersenyum lembut kepada nya.
Jika saja dia bisa tersenyum seperti ini selalu kepadaku. Mungkin saja aku akan jatuh hati padanya. Oh, Indra… wajah mu sungguh rupawan Tuan.
Vira tersenyum sendiri melihat nya. Sehingga tanpa di sadari, Indra ternyata memperhatikan setiap gerak-gerik nya.
“ Kenapa kau senyum-senyum sendiri seperti itu?” Tanya Indra. Kini ia juga mulai mengerutkan dahinya saat melihat ekspresi Vira yang terus tersenyum tak karuan. “ Hei, gadis kampung! Jangan bilang kau terpesona karena ketampanan ku.” Seru nya yang membuat Vira seketika mendelikkan matanya.
__ADS_1
Lalu kini dengan gugup gadis itu menjawab.
“ Si-siapa bilang a-aku terpesona karenamu! Jangan ge’er deh!”
Di alihkan nya pandangan nya ke arah lain. Namun sesekali Vira juga tampak melirik ke arah Indra dan ternyata Indra menyadari itu.
“ Aku tau kau terpesona dengan ku. Bahkan didalam hati, kau menjerit tak tahan jika terus melihat senyumku. Iya kan?” Tebakan Indra sangatlah benar, persis seperti yang di pikirkan Vira. Sehingga kini membuat gadis itu menelan ludah nya sendiri.
Glek!
Kenapa dia bisa tau? apakah dia bisa membaca isi pikiran orang lain? Jika itu memang benar, maka habislah aku…
Gumam nya.
“ Mulai sekarang kau dilarang mencuri pandangan terhadapku. Jika kau berani, maka aku akan memberikan hukuman untukmu. Memasak untukku selama seminggu.” Ucap Indra.
Kini ia telah mengahbiskan seluruh makanan nya. Lalu setelah itu, di raih nya gelas yang sudah berisikan air dingin yang ada di depan nya. Lalu kini ia pun berjalan meninggalkan tempat itu.
Vira masih terpatung disana. Mendengar ucapan yang baru saja di ucapkan Indra. Mie yang ada di mangkuk nya masih utuh sama sekali belum tersentuh. Ucapan Indra membuat nya kehilangan seleranya, namun saat melihat
kembali kea rah mangkuk Mie itu. Vira merasa sedih, sayang jika ingin membuang nya. Sehingga kini ia memutuskan untuk memakan Mie tersebut dari pada membuang nya.
Ah. sudahlah. Lagipula cuma menahan diri untuk memandang nya kan, kenapa aku tidak bisa. Memang nya siapa dia yang harus terus mendapat lirikan dari ku.
Kesah Vira.
Kini setelah menghabiskan Mie nya. Ia pun segera membereskan dapur nya, lalu setelah itu bergegas kembali ke kamar nya.
BERSAMBUNG
__ADS_1