
Hembusan angin menerbangkan rambut Vira yang sedang berjalan di tepi jalan. Asap kendaraan yang berlalu lalang juga bertebaran disana-sini. Air mata terlihat menetes membasahi pipi, Vira menyekanya dengan menggunakan seluruh jemarinya.
Di sebuah pohon rindang yang ada di ujung sana. Vira menghentikan langkahnya, wajah nya menunduk dengan tangan yang tak henti menyekaa air mata yang kian tumpah disana. Vira menangis sedih mengingat bagaimana Indra merendahkan nya barusan.
Bodoh! Bagaimana bisa aku sempat memikirkan jika Tuan Indra menaruh sedikit perasaan untukku. Pria sombong sepertinya mana mungkin mencintai gadis kampung sepertiku.
Merutuki dirinya sendiri.
Vira kembali menitikkan air mata yang kembali di seka nya dengan jemari nya.
Air mata ini, kenapa, mengapa aku jadi seperti ini. Menangis hanya karena pria itu menolak untuk menikahi ku. Atau karena aku merasa sedih, terlalu di rendahkan oleh nya.
Vira bimbang dengan pikiran nya sendiri. Jika di nilai dari hinaan, sudah berapa banyak kata hinaan yang sudah di keluarkan Indra dari mulut nya. Tapi, Vira tak pernah sedih ataupun menangis. Namun, kali ini mengapa begitu sakit, sakit sekali.
Ya Tuhan, mungkinkah aku kecewa karena tau jika dia sama sekali tidak memiliki perasaan padaku?
Vira menarik nafas dalam-dalam. Lalu perlahan di keluarkan.
Tidak, aku tidak boleh seperti ini. Menangisi pria yang sama sekali tak memikirkan ku, air mata ini terlalu berharga untuk nya.
Kembali menyeka lelehan air yang kian tumpah disana.
__ADS_1
Vira terdiam sesaat, berusaha menenangkan perasaan nya sekarang. Hingga suatu ketika, seseorang yang entah dari mana datang nya menepuk bahu nya.
“Vira,” terdengar suara seorang lelaki menyebut nama nya.
Vira pun menoleh.
“Tuan Fahmi.” Reflek, Vira memeluk nya disana.
Fahmi mengerutkan dahinya, merasa bingung dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Wajah Vira terlihat sedih, matanya juga merah saat ia melihat nya tadi. Tak menolak pelukan itu, Fahmi kini justru membalasnya dengan
gesekan lembut dari tangan nya.
“Vira, tenanglah. Ada aku disini.” Mencoba menenagkan nya, dengan bersikap selembut mungkin.
“Maaf Tuan.” Melepaskan kembali pelukan nya.
“Tidak apa-apa, santai saja.” Ucap Fahmi sera menyunggingkan senyum nya. “Apa kamu sedang berada dalam masalah?” tanya Fahmi kini.
“Hah, tidak.” Vira menggeleng. “Tadi itu Saya cuma sedang teringat dengan almarhum Bapak, jadi sedih.” Menyanggah dengan alasan yang lain.
Tapi memang tadi itu Vira juga teringat dengan Bapak nya. Jadi juga tidak bisa di bilang menyanggah kan.
__ADS_1
“Bapak kamu sudah meninggal?” tanya Fahmi dengan menaikkan alisnya.
Vira mengangguk.
Di tarik nya lagi tubuh Vira dan mendekap nya. Berusaha memberi kenyamanan disana.
“Sabar ya Vir. Aku juga bisa merasakan apa yang kamu rasakan, karena aku juga sudah tidak memiliki orang tua.” Ucap Fahmi.
Di ujung jalan, sebuah mobil mewah terlihat berdiri disana. Sang pemilik terlihat mengamati dari dalam, melihat bagaimana Vira yang di rangkul mesra oleh Fahmi.
Indra mengerutkan dahinya, merasa kesal melihat nya. Tangan nya juga ikut mengepal, merasa geram, melihat Vira yang di peluk mesra oleh Fahmi di pinggir jalan.
Dasar wanita penggoda. Baru saja aku menolak untuk menikahinya, langsung ia mencari pria kaya yang lainnya. Hah, ternyata benar, semua wanita sama saja.
Indra menutup kaca mobilnya. Lalu kini ia memberi perintah kepada Andi untuk menjalankan mobilnya. Mendapat titah dari Tuan nya, Andi pun kini melajukan mobilnya menuju keara gedung perkantoran.
“Terimakasih Tuan.” Vira melepaskan diri dari pelukan Fahmi. “Sekarang Saya ingin segera ke kantor, takut telat.” Kata Vira.
“Hmm, baiklah. Kamu aku antarkan sampai kesana ya.” pinta Fahmi.
“Hah, tidak usah!” dengan cepat Vira menjawab.
__ADS_1
“Aku tidak menerima penolakan.” Fahmi pun menarik tangan Vira untuk ikut bersamanya.
TBC.