
Di tengah malam sekitar pukul 00: 32.
Vira yang awalnya tertidur pulas kemudian terjaga. Rasa kantuk yang ada di dirinya perlahan sirna akibat rasa lapar yang menyergah perut nya. Tadi sewaktu di restoran Wulan tak banyak menghabiskan makanan nya. Hanya beberapa potongan kecil saja, steak daging yang Indra potongkan untuk nya, itupun tak habis. Karena pada waktu itu Vira kesal kepada Indra yang terus saja mengomeli nya di sepanjang waktu makan. Nggak boleh beginilah, nggak boleh begitulah, harus beginilah, dan juga harus begitulah. Sungguh hal itu membuat selera makan Vira yang awalnya berada di puncak level sepuluh langsung merosot turun ke level dua.
“ Ya Tuhan, lapar sekali.” Lirih nya seraya memegangi perutnya.
Vira duduk sejenak memikirkan cara bagaimana ia mengatasi rasa lapar nya.
“ Apakah di dapur masih ada sisa makanan ya?” Tanya nya pada diri sendiri. “ Jika tidak ada, terus bagaimana dong aku mengganjal perutku ini agar?” Tanya nya lagi seraya berpikir sejenak, lalu sesaat kemudian sebuah ingatan menghampiri dirinya. “ Aha, aku ingat. Kemarin aku membawa Mie instan didalam tas ku.” Segera beranjak dari kasur nya dan berlari kearah lemari. Mengambil tas jelek nya dan memeriksa nya, apakah Mie instant itu masih ada disana. “ Dapat! Yeay!” sorak Vira kesenangan.
__ADS_1
Vira menaruh kembali tas nya kedalam lemari. Kemudian setelah itu ia berhambur pergi menuju pintu kamar dan keluar dari sana. Vira terlihat begitu bahagia dengan sebungkus Mie Instant di tangan nya. Senyum nya begitu merekah di bibir nya karena sebentar lagi rasa lapar yang menyergah diri akan segera bisa teratasi saat ia telah selesai memasak Mie nya.
Tak! Tak! Tak!
Suara langkah kaki Vira begitu jelas terdengar di tengah malam hari.
Malam ini Vira bisa tiba di dapur rumah itu dengan begitu cepat, karena ia tak harus lagi bersusah payah mencarinya seperti malam sebelumnya.
Di perhatikan nya ke selururuh ruangan nya, mencari tau apa yang harus di lakukan nya. Hingga sesaat kemudian matanya menuju kearah sebuah kulkas yang berbentuk bagaikan sebuah lemari dua pintu. Di dekati nya lemai pendingin itu, lalu kini ia membukanya. Melihat-lihat isi didalam nya, kali aja ada bahan makanan yang bisa ia tambahkan kedalam Mie nya. Begitu pikirnya.
__ADS_1
Disana ia melihat ada telur dan juga beberapa sayuran. Diaambil nya sedikit sawi dan juga dua butir telur disana, lalu kini di bawanya menuju kearah tempat ia akan memasakn Mie nya.
Duah buah cabai merah panjang di potong kecil-kecil nya olehnya disertai irisan bawang merah dan juga bahan lainnya. Kini Vira telah siap untuk memulai aksinya, berselancar ria didapur mewah itu. Namun saat ia hendak memulai aksinya, tiba-tiba saja niat nya terhenti karena tak mengerti menggunakan kompor yang ada disana.
“ Ini, gimana cara pakainya?” Vira menggaruk kepalanya seraya memperhatikan bagaimana caranya agar bisa membuat kompor itu menyala. “ Kompor ini sangat bagus, tapi gimana cara ngidupin-nya ya?” kembali bertanya
dan memperhatikan sekitar. “ Oya, korek api! Harus ada korek baru ada api bukan.” Sebuah ide kini mucul di benak nya.
Vira tak mau menunggu lama. Di carinya korek api tersebut di seluruh sudut dapur, namun sayang nya taka da satupun disana.
__ADS_1
“ Kau sedang cari apa?” terdengar suara seseorang sedang bertanya.
“ Korek api.” Jawab Vira. Lalu kemudian. “ Eh, siapa yang bertanya kepada ku ya?” mengerutkan dahinya serta merinding sendiri jadinya. Lalu kemudian Vira mendongakkan wajah nya dan melihat.